Kamis, 30 Maret 2017

Panggilan (Menjadi) Pewarta



Mewartakan melalui pengajaran. Sumber: http://gxtp.blogtiengviet.net/?cat=738533

Setiap orang yang telah dibaptis memikul tanggung jawab yang besar dan teramat mulia ini: diutus untuk mewartakan kabar gembira kehidupan, pewartaan, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus. Ini adalah perintah Tuhan sendiri (Mat. 28:19-20), apa yang oleh Gereja dihayati sebagai tugasnya yang paling hakiki. Disebut sebagai “kewajiban suci”, karena Sabda keselamatan kekal dari Allah tidak bisa didiamkan. Sabda yang telah menjadi manusia itu adalah kehadiran Allah yang menyelamatkan, yang memastikan jalan kepada Bapa melalui jalan pertobatan dan dilahirkan kembali sebagai manusia baru. Mereka yang telah dibaptis adalah kelompok orang beriman yang mengalami “keselamatan” itu dan berkat penyertaan Roh Kudus, bangkit untuk membagikan dan mewartakan pengalaman tersebut. Semangatnya kira-kira seperti yang dikatakan Santo Yohanes di bagian awal suratnya yang pertama: “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami ... persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus (1Yoh 1:3).

Pertemuan kerygma minggu ini, 7 Februari 2017 difokuskan pada refleksi mengenai menjadi pewarta sebagai panggilan. Tidak bisa dipungkiri, teologi mengenai “panggilan” (vocatio) sejak abad ke-15 memang bernuansa sangat religius. Panggilan dipersempit maknanya hanya pada panggilan menjadi imam, biarawan dan biarawati. Meskipun begitu, sebagaimana sangat ditekankan Yohanes Paulus II, panggilan mewartakan kabar sukacita Allah dipikul secara bersama baik oleh kaum relijius maupun kaum awam. “... setiap umat beriman [awam], bersama-sama dengan mereka yang dibaptis dan bersama-sama dengan kaum biarawan biarawati, bergai tanggung jawab dalam misi gereja” (Christifideles Laici, art, 15). Dalam terang Konsili Vatican II, panggilan menjadi pewarta lalu menjadi tanggungjawab semua orang yang telah dibaptis. Sekali lagi, ini sejalan dengan cara Gereja menghayati dirinya sebagai Kerajaan Allah di dunia, yang harus mewartakan keselamatan dari Allah, supaya semua orang boleh mengalami keselamatan itu.

Belajar dari peristiwa Yesus memanggil murid­­-murid-Nya dalam Sinoptik, “kesegeraan” tampaknya menjadi aspek penting dalam tanggapan atas panggilan itu. Demikianlah, Yesus memanggil para murid-Nya ketika mereka sedang sibuk, sedang bekerja, berada bersama keluarga mereka, dan seterusnya. Dan mereka segera meninggalkan segala sesuatu lalu datang mengikuti Yesus, tinggal bersama Dia, menjadi saksi atas seluruh hidup, pewartaan dan ajaran-Nya, mengalami relasi dengan Allah, mengalami sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan, dan kemudian memberitakannya ke seluruh dunia.

Ada dua aspek yang akan sangat ditonjolkan dalam pertemuan kerygma tanggal 7 Februari 2017. Pertama, penghayatan panggilan menjadi pewarta bersumber dari pengalaman pribadi dipanggila dan disapa Allah. Meskipun setiap orang yang telah dibaptis memikul tanggung jawab mewartakan kabar gembira kepada dunia, tidak semua orang “merelakan” dirinya menjadi pewarta. Ada pengalaman personal tertentu yang menjadi alasan mengapa seseorang memutuskan menjadi pewarta. Beberapa karakteristik utama dari tanggapan pribadi atas panggilan ini dapat direfleksikan dalam pertemuan tersebut. Misalnya, keengganan menjawab “ya” karena merasa belum pantas, ketidakpercayaan diri karena kurangnya pengetahuan, belum siap karena masih berjibaku dengan urusan menafkahi keluarga, dan semacamnya.


Belajar dari cara para murid menanggapi panggilan Yesus dan cara Tuhan mempersiapkan mereka menjadi murid, peserta pertemuan kerygma diharapkan mampu merefleksikan panggilannya sendiri, pengalaman personal menghayati dan menanggapi panggilan tersebut, dan relasinya yang mendalam dengan Tuhan. Peristiwa Yesus dan penghayatannya dalam pertumbuhan rohani setiap pewarta akan menjadi “sumur” yang senantiasa menyediakan air sumber kehidupan bagi energi pewartaan.   

Kedua, aspek kesegaraan (urgensi) sebagaimana ditonjolkan dalam Injil Sinoptik (lihat Markus 1:16-20, Mat 4:18-22, Luk 5:1-11) dapat dieksplorasi lebih lanjut dengan melihat seperti apakah situasi dunia dan Gereja dewasa ini sebagai afirmasi atas perintah ini. Aspek ini sangat berhubungan dengan cara kita memahami realitas dan membaca kebutuhan umat akan kabar gembira keselamatan Allah dan merumuskan reksa pastoral yang tepat untuk menanggapi kebutuhan tersebut.

Pertemuan kerygma tanggal 7 Februari 2017 tampaknya akan menjadi refleksi teologis dan spiritual bagi upaya menemukan makna panggilan pribadi menjadi pewarta. Pengalaman ini diharapkan akan menjadi kesempatan untuk sekali lagi menemukan makna terdalam dari arti panggilan menjadi pewarta itu sendiri. Semoga! (Yeremias Jena)

Eklesiologi bagi (Calon) Pewarta


Yesus adalah Pendiri Gereja. Sumber: http://www.loimission.net/ecclesiology-and-mission/

Topik teologi dasar sudah dibahas tuntas oleh Romo Alkbertus Medyanto, O.Carm pada pertemuan Kerygama tanggal 17 Januari 2017. Dalam pertemuan itu peserta disadarkan bahwa nalar memampukan manusia untuk memahami hakikat dan cinta kasih Allah yang mau mengosongkan diri-Nya dengan menjadi manusia demi menyelamatkan mereka. Dengan begitu, upaya memahami Allah (dengan nalar) adalah sikap seorang beriman yang membuka diri pada pemahaman yang lebih mendalam mengenai Allah. Itulah beriman secara bertanggung jawab. Romo Medy juga menegaskan pentingnya sikap “ketaatan iman” dalam upaya memahami hakikat Allah tersebut.

Romo Medy akan melanjutkan pemaparannya dalam pertemuan ketiga Kerygma pada tanggal 24 Januari 2016. Romo Medy akan membawakan topik mengenai gereja. Dari perspektif teologi, apa sebetulnya yang akan menjadi fokus atau topik diskusi minggu depan?
Dalam konteks teologi, diskusi mengenai gereja terjadi dalam subjek teologi sistematik yang disebut eklesiologi. Per definisi, eklesiologi adalah cabang teologi (logos yang artinya ilmu/sabda) yang mendiskusikan “persekutuan” atau “umat” (ecclesia). Wilayah kajiannya membentang dari dasar biblis pembentukan gereja sampai bentuk persekutuan umat beriman dengan seluruh problematikanya.

Dalam kerangka kursus kerygma dan persiapan menjadi pewarta di Paroki MBK, apa relevansi mempelajari materi eklesiologi? Jawabannya dapat dirumuskan demikian. Diskusi teologis mengenai gereja sebelum Konsili Vatikan II terpusat pada gereja sebagai tubuh mistik Kristus dan sakramen sebagai hakikat gereja. Gereja Katolik merumuskan alasan keberadaannya pada relasinya dengan Kristus sebagai pendirinya, dan bahwa relasinya dengan Kristus dipelihara dan dihadirkan dalam perayaan Ekaristi. Gereja adalah sakramen keselamatan. Sebaliknya, pasca Konsili Vatikan II, tekanan eklesiologi tidak semata-mata diberikan pada gereja sebagai tubuh mistik Kristus, tetapi juga sebagai “terang” (lumen) yang mempresentasikan umat Allah sebagai komunitas yang mengambil bagian secara aktif dalam misi pelayanan gereja demi memajukan dunia. Gereja menghayati dirinya pasca Konsili Vatikan II sebagai “terang” yang bermanfaat baik bagi keselamatan umatnya sendiri (inward looking) maupun kemaslahatan umat manusia (outward looking) (John O'Malley, 1971).

Persis di sinilah relevansi mempelajari eklesiologi. Dalam semangat Konsili Vatikan II kita sebagai umat Allah adalah menjadi bagian integral dari seluruh misi keselamatan Allah. Dalam persekutuan dengan tubuh mistik Kristus yang dirayakan dalam Ekaristi Kudus, kita menampilkan wajah gereja sebagai terang yang menyelamatkan bagi bangsa-bangsa. Keselamatan yang dibawa adalah keselamatan yang utuh, karena menekankan tidak hanya dimensi rohani – relasi dengan Allah yang menyelamatkan – tetapi juga dimensi jasmani. Kasih Allah yang tak berkesudahan yang hadir dalam gereja melalui Putra-Nya dan kasih Sang Putra kepada Gereja-Nya adalah model kesatuan umat manusia. Dan kasih Allah yang memerdekakan dari segala perbudakan dan membebaskan dari belenggu tatanan sosial yang korup juga menjadi dasar “perjuangan” umat beriman dalam membangun dunia baru, 

Menjadi pewarta dalam gereja Katolik – dalam terang eklesiologi – seharusnya mengandung dua sisi ini sekaligus. Di satu pihak kita dipanggil untuk mewartakan kabar sukacita Allah yang menyelamatkan kepada sesama seiman atau mereka yang memutuskan untuk mengikuti Yesus dalam gereja Katolik. Tetapi di lain pihak, adalah tanggung jawab kita juga untuk mewartakan kabar sukacita Allah yang menyelamatkan kepada dunia dan membangun tata dunia sebagaimana dikehendaki Allah. (Yeremias Jena)

Menolak Godaan



Menolak godaan, sangguplah kita? Sumber: http://viewthevibe.com/resist-temptation/

Sangat sering kita berhadapan dengan godaan. Dari iklan kita digoda untuk membeli barang-barang yang mungkin tidak terlalu kita butuhkan. Dari media sosial, kita digoda untuk mengomentari postingan atau berita yang justru memperkeruh suasana. Di lingkungan, kita tergoda untuk tidak terlibat dalam kegiatan rohani karena tidak suka pada orang tertentu atau kegiatan tertentu. Di rumah, kita tergoda untuk lebih menonton televisi atau berselancar di media sosial daripada berelasi dengan istri, suami, dan anak-anak. Di tempat kerja, kita tergoda dengan kecantikan atau kegantengan orang lain yang bukan pasangan kita, jatuh dalam perselingkuhan dan semacamnya.

Ya, kita tidak akan pernah bisa menghadapi keseharian hidup tanpa godaan. Justru karena itu pertobatan seharusnya menjadi kebutuhan primer orang. Jika godaan dan pencobaan yang selalu hadir dalam hidup itu dihadapi dengan pertobatan yang terus-menerus, kita dimampukan untuk memosisikan Allah sebagai andalan dalam hidup ini.

Masa prapaskah adalah kesempatan yang disediakan gereja bagi pertobatan kita. Selama masa ini, bacaan-bacaan Kitab Suci membantu kita untuk merancang pertobatan dan pertumbuhan iman.

Bacaan pertama di minggu pertama Prapaskah mengingatkan kita tentang bagaimana Adam dan Hawa yang gagal dalam menghadapi godaan ular. Kita mengidentifikasi diri sebagai pribadi yang lemah dan berdosa seperti Adam dan Hawa, yang dalam banyak hal mencoba menantang Allah dengan bertindak bertentangan dengan apa yang dikehendaki-Nya. Padahal kita telah mengetahui manakah tindakan yang benar dan dikehendaki Allah dan manakah yang salah. Meskipun begitu, bacaan kedua menegaskan bahwa berkat Kristus, karunia dan rahmat Allah mengalir ke dalam diri kita dan menyelamatkan kita dari dosa yang disebabkan oleh Adam dan Hawa itu. Tentu anugerah ini harus ditanggapi dengan sikap pemazmur yang terus saja berseru: “Kasihanilah aku ya Tuhan, karena aku orang berdosa.” Lagi-lagi ini sebuah sikap kerendahan hati dan keterbukaan diri untuk bertobat dan membarui diri.

Bacaan Injil yang diambil dari Matius 4:1-11 memperlihatkan kepada kita tiga godaan yang sering kita hadapi. Godaan pertama berhubungan dengan masalah daging, tubuh, perut, hal-hal material. Persis ketika kita sedang menginginkan sesuatu secara materiallah setan penggoda hadir. Meskipun lapar, Yesus dengan tegas mengatakan bahwa “Manusia tidak hanya hidup dari roti saja, tetapi juga dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Dia memiliki kemampuan mengubah batu menjadi roti tetapi itu tidak dilakukannya. Sementara kita yang hidup tergantung sepenuhnya pada penyelenggaraan Allah masih sering jatuh dalam godaan-godaan yang sifatnya material dan kedagingan.

Godaan kedua berhubungan dengan kesombongan. Yesus menolak skenario setan untuk menjatuhkan diri-Nya dari bubungan Bait Allah karena itu menghina dan mencobai Allah sendiri. Kesombongan diri nyata dalam tindakan memuliakan diri, menganggap diri lebih unggul, dan dengan begitu menjauhkan diri dari penyerahan dan penyandaran hidup pada Penyelenggaraan Ilahi.
Godaan ketiga berhubungan dengan nafsu merealisasikan segala keinginan, mimpi, dan hasrat demi pemulian diri. Menginginkan sesuatu secara material dan dikuasai olehnya dapat membuat kita menjadi sombong, dan pada akhirnya memisahkan diri sama sekali dari Allah, karena kita telah menjadi sumber baru bagi pemujaan dan pemegahan diri. 

Mari kita memohon kepada Tuhan, semoga kita pun sanggup menghardik setan dalam kewibawaan Tuhan, “Enyalah kau setan, janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu!.” (Yeremias Jena)