Rabu, 29 Maret 2017

Mengenal Hari Minggu Palma


Segera setelah mendapatkan kebebasannya di abad ke-4 masehi, umat Katolik di Yerusalem kembali merayakan kemeriahan masuknya Tuhan Yesus ke dalam kota mereka di hari Minggu sebelum minggu Paskah. Umat tumpah ruah di jalanan kota dalam prosesi meriah, memegang daun-daunan sambil berseru Hosanna (Mat 21: 1-11). Di masa awal Gereja Katolik Latin, umat menghadiri misa meriah pada hari Minggu Palma ini sambil memegang ranting-ranting zaitun, yang pada masa itu memang tidak diberkati imam.
Prosesi hari Minggu Palma dan pemberkatan daun-daun palma tampaknya bersumber pada Kerajaan Frank di Jerman (451-843). Praktik paling awal dari kebiasaan perayaan ini dapat ditemukan dalam karya Sacramentary yang ditulis oleh Rahib Bobbio dari Italia Utara (abad ke-8 masehi). Ritus dan praktik hari Minggu Palma ini kemudian diterima di Roma dan disatukan dalam liturgi. Doa-doa yang digunakan sekarang berasal dari tradisi ritus Roma. Di masa ini, misa hari Minggu Palma terlebih dahulu dirayakan di gereja-gereja di luar tembok kota Roma. Daun-daun palma yang digunakan dalam perayaan itu terlebih dahulu diberkati oleh imam. Setelah pemberkatan daun palma dan perayaan di gereja-gereja di luar tembok kota Roma, umat melakukan prosesi menuju Basilika Lateran atau Basika Santo Petrus. Di sanalah dilanjutkan perayaan misa yang kedua oleh Sri Paus. Dalam perkembangan selanjutnya, misa pertama ini ditiadakan dan diganti dengan perayaan pemberkatan daun palma.Sampai saat ini, ritus pemberkatan daun palma masih mengikuti struktur misa minggu Palma, sejak awal hingga bagian Kudus.
Di setiap gereja selama abad pertengahan, mengikuti tradisi dan kebiasaan orang Romawi, hari Minggu Palma dirayakan dalam sebuah prosesi di mana kaum klerus dan umat berarak dari sebuah kapel atau gereja di luar kota tempat daun-daun palma diberkati, menuju gereja utama. Selama prosesi itu, kehadiran Tuhan Yesus disimbolkan oleh Sakramen Maha Kudus atau Salib. Simbol ini kemudian disembah dengan berbagai kembang yang dibawa para pemimpin misa. Di zaman abad pertengahan, muncul kebiasaan menyertakan patung Yesus terbuat dari kayu sambil menunggal keledai dalam prosesi itu. Banyak patung semacam itu (disebut Keledai Palma) yang masih tersimpan di museum-museum di banyak kota di Eropa.
Begitu prosesi mendekati pintu gerbang kota, sekelompok anak laki-laki dalam sebuah koor akan melantunkan lagu sebagai ucapan selamat datang kepada Tuhan Yesus. Biasanya yang dinyanyikan adalah lagu Latin berjudul Gloria, Laus et Honor. Himne ini, yang memang masih digunakan dalam liturgi Minggu Palma hingga dewasa ini, ditulis oleh seorang Rahib Benediktin bernama Theodulph di tahun 821 masehi. Pujian pun terlantun dari himne itu: Kemuliaan, pujilah dan muliakan/O Kristus, Raja dan Penebut Kita/KepadaMu dalam keagungan Hosanna/Mengilhami anak-anak untuk bernyanyi.
Setelah himne ini diperkenalkan, berbagai himne lainnya pun bermunculan. Semuanya bermaksud memuji dan memuliakan Tuhan secara dramatis di hadapan Sakramen Mahakudus atau di hadapan gambar maupun patung Kristus, ketika para klerus dan awammembungkukkan badan dan sujud dalam doa. Demikian pula tradisi membentangkan pakaian dan karpet di jalan, menabur kembang dan ranting-ranting saat proseslewat. Tidak ketinggalan bunyi lonceng bertalu-talu dari menara gereja diikuti sorak-sorai umat menyanyikan lagu Hosanna ketika prosesi memasuki katedral. Perayaan Misa meriah pun segera dimulai.
Selama masa abad pertengahan perayaan Minggu Palma yang sifatnya dramatis dibatasi hanya di sekitar halaman gereja. Salib yang ada di halaman gereja biasanya dihiasi secara meriah menggunakan bunga-bunga. Dari sanalah perarakan dimulai dan bergerak memasuki ruang gereja. Ketika kaum klerus menyanyikan himne dan antifon, umat menyebar di antara kubur dan setiap keluarga akan berlutut di samping kubur sanak saudaranya. Pemimpin upacara akan memercikkan air kudus ke para hadirin yang sedang berlutut di samping kubur anggota keluarganya itu. Setelah itu umat kembali bergerak memasuki gereja. Di Prancis dan Inggris, tradisi menghiasi kubur menjadi berwarna-warni dan mengunjungi makam di hari Minggu Palma masih dipelihara hingga saat ini.
Upacara dan perayaan di masa kuno sudah tidak dipraktikkan lagi dewasa ini, kecuali teks-teks suci yang digunakan dalam liturgi. Dewasa ini, pemberkatan daun palma dan prosesi (jika ada) dilakukan langsung di dalam gereja sebelum misa dimulai. Di Amerika Serikat dan di banyak negara lainnya, gereja atau paroki menyediakan dan membagikan daun palma kepada umat yang hadir (Catatan: di Paroki MBK, ada rencana supaya umat menyediakan dan membawa sendiri daun palma).
Berbagai nama untuk hari Minggu sebelum Paskah berasal dari tanaman yang digunakan – Palma (Minggu Palma) atau ranting-ranting pohon pada umumnya (Minggu Ranting-ranting). Di sebagian besar negara Eropa daun palma asli memang tidak tersedia. Sebagai gantin, mereka menggunakan ranting zaitun (di Italia), ranting cemara atau pohon willow (semacam cemara). Bahkan karena praktik semacam ini maka meskipun daun atau ranting yang digunakan bukan daun palma asli, istilah daun palma tetap digunakan bersamaan dengan penggunaan daun atau ranting dari pohon-pohon lain. Demikianlah, umat Irlandia dan Inggris menyebut daun palma mereka dengan nama palm-willow atau di Jerman dengan nama Palmkatzchen. Dengan begitu, hari minggu palma disebut sebagai hari minggu cemara atau willow Sunday di Irlandia dan Polandia. Orang Lithuania menyebutnya sebagai Verbu Sekmadienis (hari minggu ranting cemara). Gereja Yunani menyebutnya dengan nama Hari Minggu Membawa Palmaatau dan Minggu Hosanna. Umat Katolik di Indonesia pernah menggunakan istilah hari minggu daun-daun, dan sekarang digunakan hari minggu palma.
Akhirnya, hari Minggu Palma disebut demikian karena umat Katolik menggunakan daun palma atau cabang dan ranting pohon lainnya ketika mereka memperingati Tuhan Yesus memasuki Yerusalem. Injil mengabarkan bahwa Yesus memasuki Yerusalem menunggang seekor keledai. Ribuan orang menyambut dia dalam sorak-sorai. Mereka melambaikan ranting-ranting zaitun dan membentangkan pakaiannya di jalan. Ranting zaitun atau daun palma melambangkan perdamaian dan kemenangan. Keledai melambangkan kedatangan yang rendah hati dari seorang tokoh pembawa damai. Kemenangan yang dibawa Kristus adalah kebangkitan-Nya mengalahkan maut  demi membebaskan dosa manusia. Kemenangan itu tidak diperoleh melalui perang dan kekerasan, tetapi dengan kerendahan hati dan penyerahan diri. (Yeremias Jena)

Senin, 27 Maret 2017

Mengapa Mengaku Dosa Ke Seorang Imam?



Banyak kesalahpahaman di kalangan Protestan tentang pengakuan dosa. Mereka berpendapat bahwa hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. Karena itu, untuk memperoleh pengampunan dosa, seorang umat beriman  mendekati Allah secara pribadi dan mengakui dosa-dosanya, dan bukan melalui perantaraan seorang imam. Bagaimana kesalahpahaman semacam ini dapat ditanggapi?

Karena orang-orang Protestan sangat menekankan otoritas Kitab Suci sebagai satu-satunya sumber iman, mari kita cek apa yang dikatakan Kitab Suci mengenai pengakuan dosa. Setidaknya tiga sumber Perjanjian Baru dapat kita rujuk. Dalam Injil Matius 16:18-19 tertulis: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di Sorga, dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di Sorga. Rasul Yohanes menulis: “Damai Sejahtera bagi kamu. Sama seperti Bapa Mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu ... terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yoh 20: 21-23). Kita juga baca dari Injil Matius 18:18: “Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di Sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di Sorga.” 

Selama hidup dan karyaNya Yesus mengampuni dosa-dosa. Dia ingin agar praktik  ini di lanjutkan oleh para muridNya meskipun Dia sudah tidak ada di dunia lagi secara fisik. Dia mendelegasikan kekuasaan mengampuni dosa kepada para murid dan para gembala Gereja yang sudah Dia dirikan. Dengan begitu Gereja akan terus mengampuni umatNya dari generasi ke generasi melalui sri paus, para uskup dan para imam. Dasar biblis di atas menegaskan pendelegasian kekuasaan mengampuni dosa sekaligus siapa yang harus menjalankan kekuasaan itu.

Gereja Katolik juga mendasarkan pengampunan dosa pada kesaksian tradisi. Hal ini dapat kita baca dalam tulisan-tulisan Origin (185-254), Siprianus (210-258), Afraates (280-345), dan Ambrosius (339-397). Siprianus, misalnya menulis bahwa pengampunan dosa dicurahkan Allah kepada manusia melalui para imam. Sementara itu Ambrosius menegaskan bahwa kekuasaan mengampuni dosa diberikan hanya kepada para imam. Penegasan-penegasan ini bukanlah hal yang baru, karena hanya mengingatkan kita akan kekuasaan pengampunan dosa yang telah di tetapkan oleh Tuhan Yesus sendiri.

Kekuasaan mengampuni selalu memiliki dua sisi, yakni mengampuni atau membiarkan dosa-dosa tidak diampuni. Supaya bisa diampuni, dosa-dosa harus dinyatakan secara verbal kepada seorang imam yang sedang mendengarkan pengampunan dosa. Di sini kita butuh iman dan kerendahan hati untuk mengakui dan menyatakan dosa-dosa kita supaya dapat diampuni Allah melalui para imamNya. (Yeremias Jena)

Selasa, 07 Maret 2017

Hari Sabat: Sabtu atau Minggu?


Beberapa Gereja Protestan dari denominasi Adven Hari Ketujuh, Baptis Hari Ketujuh, dan beberapa Gereja Protestan lainnya menuduh Gereja Katolik mengubah hari Tuhan – hari untuk berhenti beraktivitas supaya hanya memuji dan memuliakan Allah – dari hari Sabtu ke hari Minggu. Menurut mereka, para pengikut Kristus seharusnya menguduskan hari Sabat, dan itu adalah hari Sabtu.

Tuduhan atau klaim semacam ini sebetulnya diasalkan pada sebuah buku karya Ellen G. White, pendiri Gereja Protestan denominasi Adven Hari Ketujuh. Buku yang diberi judul The Great Controversy (terbit tahun 1858) itu mengklaim bahwa Gereja Katolik telah mengubah hari Sabat dari hari Sabtu ke hari Minggu sejak masa pemerintahan Kaisar Konstantinus (abad ke-4 M), karena ingin menyesuaikannya dengan perayaan keagamaan orang Romawi kafir, yakni Hari Matahari (the day of the Sun), dan itu adalah hari Minggu (Sunday).

Bagaimana seharusnya menyikapi hal ini? Betul bahwa Perjanjian Lama menyebut “hari ketujuh”, tetapi apakah hari ketujuh itu adalah hari Sabtu atau hari Minggu tidak dikatakan secara jelas. Hari ketujuh dianggap sebagai hari Sabtu itu murni tradisi Yahudi. Sebagai orang Katolik, kita seharusnya tidak ikut-ikutan memahami hari Sabat sebagai hari Sabtu. Pemahaman kita seharusnya dikonteksnya dalam terang Perjanjian Baru dan ajaran Yesus Kristus itu sendiri. Jika tidak demikian, bagaimana kita bisa memahami reaksi Yesus terhadap orang Farisi yang menuduh murid-murid-Nya melanggar hari Sabat (Mat 12:1-8; Luk 13:10-16), ketika Dia menegaskan bahwa “Anak Manusia memang lebih besar dari hari Sabat?” Juga bahwa “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” bahwa “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Demikianlah, sejak Perjanjian Baru, orang Kristen tidak lagi mengikatkan diri pada hari Sabat dan tuntutannya, melainkan kepada Hari Tuhan, yakni Hari Minggu (Kis 2:7; 1Kor 16:2; Kol 2:16-17, Why 1:10. Lihat juga KGK 2173).

Benar bahwa Gereja Katolik, berdasarkan otoritas Yesus Kristus, mengubah tradisi hari Sabat Yahudi dari hari Sabtu ke Hari Tuhan (hari Minggu). Memang ada tradisi yang mengasalkan perubahan ini pada masa kekuasaan Konstantinus di abad ke-4 masehi. Tetapi sebenarnya jauh sebelum itu, karena diasalkan pada cara pandang dan sikap Yesus sendiri terhadap hari Sabat.
Sejak Perjanjian Baru, hari Sabat atau Hari Tuhan itu adalah hari Minggu atau hari kedelapan atau hari pertama dalam pekan. Bagi orang Katolik, dua hal penting terjadi pada hari Minggu. Pertama, kebangkitan Tuhan Yesus terjadi pada hari Minggu Paskah, yakni hari pertama dalam minggu (lih Yoh. 20:1 dst). Kedua, Roh Kudus turun atas Gereja dan para murid pada hari Minggu Pentakosta (lih Kis 2:1 dst). Juga setelah kebangkitan, Yesus dua kali menampakkan diri-Nya kepada para murid di hari Minggu (Yoh 20:19, 26). Inilah sebabnya mengapa orang Katolik memaknakan hari Minggu sebagai Hari Tuhan (Lord’s Day).
Demikianlah, harus dikatakan bahwa gereja Katolik – berdasarkan otoritas Yesus Kristus sendiri – memaknakan hari Sabat sebagai Hari Tuhan, dan itu adalah hari Minggu. Katekismus Gereja Katolik menjelaskan ini dalam dua perspektif (lih KGK 2174-2175). Pertama, hari Minggu sebagai hari kebangkitan dan hari ciptaan baru. Kebangkitan Yesus Kristus pada hari pertama dalam minggu (Hari Minggu) mengingatkan kita akan “penciptaan pertama”. Dan sebagai “hari kedelapan” sesudah Sabat menunjuk kepada ciptaan baru yang datang sesudah kebangkitan Kristus. Kedua, hari Minggu sebagai penyempurnaan hari Sabat. Di sini hari Sabat tentu berbeda dengan hari Tuhan (hari Minggu). Sebagai penyempurnaan hari Sabat, orang Kristen merayakan hari Tuhan sehari sesudahnya. Sebagai realisasi dari Paskah Kristus, hari Minggu memenuhi arti rohani sebagaimana yang hendak dicapai dalam hari Sabat. Di hari Minggu, seluruh tuntutan Sabat, terutama pentingnya beristirahat dari segala aktivitas manual demi memuji dan memuliakan Allah, kini mendapatkan kepenuhannya, yakni “memberitakan istirahat abadi di dalam Allah.”

Apa yang dapat disimpulkan dari uraian ini? Pertama, hari ketujuh dalam tradisi Yahudi adalah hari Sabtu dengan seluruh kewajiban hukum dan ritual yang menyertainya. Orang Katolik tidak mengikatkan diri pada hari Sabat (Yahudi) karena Tuhan Yesus sudah menyempurnakannya menjadi hari kedelapan (satu hari sesudah Sabat) atau hari pertama dalam minggu. Itulah hari Tuhan. Kedua, hari Minggu adalah hari Paskah Kristus. Kebangkitan Kristus telah menyempurnakan Sabat (Yahudi), yakni menegaskan sebuah penciptaan dan penegasan akan penciptaan yang baru, yakni keselamatan manusia yang berpusat pada diri Yesus Kristus. Ketiga, tuduhan apapun dan dari pihak manapun bahwa Gereja Katolik mengganti hari Sabat dari hari Sabtu ke hari Minggu adalah tuduhan yang tidak berdasar, baik dari segi fakta historis maupun pemahaman doktriner Gereja Katolik itu sendiri. (Yeremias Jena)

Minggu, 19 Februari 2017

Saatnya Bertobat dan Membarui Diri


“Sabda Tuhan adalah rakhmat, orang lain adalah anugerah”, itulah judul dari Pesan Paus Fransiskus kepada umat Katolik dalam memasuki masa puasa 2017. Gereja Katolik akan segera memulai masa puasa sejak hari Rabu Abu, 1 Maret 2017. Di awal pesan itu Paus Fransiskus mengingatkan bahwa masa puasa adalah momen pertobatan, kesempatan mendalami kehidupan spiritual yang bersumber pada Injil.

Dalam pesan-pesannya, Paus Fransiskus merefleksikan perumpaan orang kaya dan Lazarus yang miskin dari Injil Lukas 16:19-31. Bapa Suci memfokuskan refleksinya pada (1) kerelaan menerima orang lain sebagai anugerah (gift), (2) ancaman dosa yang membutakan hati dan kehendak; dan (3) Sabda Allah sebagai anugerah karena mampu menggerakkan hati untuk bertobat. Ketiga elemen ini dapat dielaborasi seperti berikut. 

Pertama, Paus Fransiskus menggarisbawahi dua karakter yang bertolak belakang dari perumpaan itu untuk menegaskan ajarannya mengenai orang lain sebagai anugerah dan ancaman dosa yang membutakan hati dan kehendak. Bagi Fransiskus, kisah Lazarus yang miskin, tak berdaya, penuh luka bernanah dan menggantungkan kelangsungan hidupnya dari remah-remah yang jatuh dari meja makan orang kaya (lih ayat 20-21) menegaskan ketakberdayaan dan ketergantungan total seseorang pada belaskasih dan kebaikan orang lain. Ketergantungan itu justru tidak mendapat respon positif dari orang kaya.


Bagi sebagian orang, Lazarus adalah gambaran penelantaran oleh Allah. Kontras memang, karena nama orang itu adalah Lazarus, yang artinya “Allah telah menolong” (nama panggilan dari nama Yahudi Eleazar). Di mata Allah, Lazarus memang orang yang mendapat pertolongan-Nya, dan itu nampak dari kisah dramatis bagaimana dia mendapatkan “kenikmatan” hidup surgawi setelah kematian.

Menurut Paus Fransiskus, cara Lukas mempresentasikan perwatakan Lazarus menegaskan betapa sesama adalah anugerah. Berbeda dari “orang kaya” yang tidak disebutkan siapa namanya, Lukas mempresentasikan orang miskin dengan nama dan identitas tertentu. Inilah cara Allah memuliakan orang miskin dan tak-berdaya sebagai pihak yang bermartabat dan mendapat pertolongan Allah.
Dengan pemahaman demikian, bagi Paus Fransiskus, orang lain yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah pribadi tertentu, pribadi yang memiliki identitas tertentu, yang dikasihi Allah, dan yang kehadirannya dalam hidup kita adalah “seruan” atau “desakan” untuk menolong. Paus Fransiskus menggunakan kata “wajah” untuk menggambarkan kehadiran orang lain dalam hidup kita. “Wajah” orang lain yang hadir dalam hidup kita adalah “perintah” bagi kita untuk melakukan kebaikan. Bagi Paus Fransiskus, setiap perjumpaan dengan orang lain seharusnya menjadi kesempatan untuk menerima, menghormati, dan mengasihi mereka.

Kedua, penginjil Lukas tampaknya sengaja menampilkan orang kaya tanpa nama atau identitas tertentu. Kita hanya menangkap gambaran orang kaya sebagai pribadi yang mengenakan jubah ungu dan kain halus dan suka berpesta pora. Perwatakan demikian mewakili sifat seluruh manusia yang hatinya terikat erat pada  uang, kemewahan dan kesombongan. Pribadi orang kaya dalam perumpamaan ini menegaskan bahaya kelekatan pada uang sebagai sumber dosa (1Tim 6:10), sebagai berhala baru (Evangelii Gaudium, art. 55).

Kelekatan pada uang, kemewahan, dan kesombongan (membiarkan Lazarus tertidur di hadapannya tanpa ada rasa iba memberinya makan adalah tanda kesombongan dan kerasnya hati) justru akan membutakan hati dan mengeraskan kehendak untuk berbuat kebaikan pada orang lain.
Ketiga, bagaimana kita yakin bahwa orang lain adalah berkat, dan bahwa kebaikan yang kita lakukan kepadanya itu kita lakukan bagi Allah? Menurut Lukas Penginjil, kita tidak perlu menunggu orang mati bangkit dan memberitahu kita bahwa orang baik mengalami kebahagiaan kekal di surga (bdk ayat 31). Ini yang digunakan Paus Fransiskus untuk menegaskan Sabda Allah yang kita baca dalam Injil sebagai anugerah dan rakhmat yang sanggup menggerakkan hati. Dengan membaca Injil, kita menangkap kesaksian Musa dan para nabi (lih ayat 31), tetapi juga ajaran dan teladan Yesus Kristus tentang bagaimana kita harus bersikap dan bertindak. Itulah sabda yang menggerakkan hati dan memperteguh kehendak untuk berbuat kebaikan kepada sesama.

Paus Fransiskus menegaskanbahwa masa prapaskah seharusnya menjadi momen pertobatan, terutama untuk melepaskan diri dari karakter “orang kaya”. Pertobatan itu dapat kita lakukan dengan memanfaatkan seluruh sarana pertobatan yang disediakan gereja. Hanya dengan demikian, kita sanggup menerima orang lain (Lazarus-Lazarus lain) sebagai anugerah. Wajah dan kehadiran orang lain akan menjadi kesempatan bagi kita untuk mengasihi dan mengampuni. Itulah jaminan bagi kebahagiaan hidup di dunia dan hidup kekal di surga. (Yeremias Jena)

Rabu, 11 Januari 2017

Menata Hidup: Belajar dari Pilot Gus Encina


Gus Encina, sang pilot naas.


Kita masih ingat tragedi jatuhnya pesawat milik Colombia jenis Avro RJ85 yang terbang dari Bolivia menuju Bandara Internasional Medellin pada tanggal 29 November 2016. Pesawat yang membawa tim sepak bola Chapecoense (tim asal Brazil) dengan total penumpang 81 orang itu jatuh di daerah pegunungan di Colombia justru beberapa saat sebelum mendarat. Sedianya tim sepak bola Chapeoense akan bertanding melawan kesebeasan Atletico National dari Colombia dalam final Copa Sudamericana. Hampir semua penumpangnya meninggal dunia, kecuali lima orang yang “beruntung”.

Salah satu yang tewas dalam penerbangan itu adalah Gus Encina, seorang pilot asal Paraguay, Dari sekian kisah sedih yang beredar, berbagai foto dan reaksi sedih para suporter kesebelasan Chapeoense, kisah Gus Encina ikut menarik perhatian. Ini bermula dari postingan sang pilot di akun facebooknya beberapa hari sebelum peristiwa naas itu terjadi. Sebagaimana diberitakan harian Hoy di Paraguay, sang pilot menulis statusnya di facebook demikian:

“Kemanakah kamu mencari hidupmu? Ke depan atau ke belakang? Moga-moga Tuhan menganugerahkan kepada Anda rahmat-Nya supaya kamu bisa meninggalkan hal-hal yang sudah lampau, bahkan hal-hal yang Anda merasa sebagai berharga dalam hidup. Dan semoga Tuhan mengizinkan Anda menatap ke depan, ke tempat di mana Kristus sedang menantimu, demi sebuah perjumpaan yang mulia yang akan membuka pintu kepada keabadian.”  

[“Where do you look for your life? Forward or behind? May the Lord grant you the grace to leave things behind, even those which you consider precious in this life, and may he allow you to look ahead, where Christ is waiting for you, for a glorious meeting that will open the gates of eternity.”]

Postingan ini telah mengundang banyak simpati. Orang memandang hal ini sebagai semacam kesadaran diri, bahwa hidup sang pilot di dunia ini akan berakhir. Sang pilot seakan menyadari kesudahan hidupnya, dan dalam kaca mata imannya sebagai seorang Kristen, dia melihat kepenuhan hidup yang akan datang.

Ibu sang pilot sendiri bahkan memberitahu media bahwa sebelum anaknya berangkat terbang, dia sempat berjanji akan membawakan oleh-oleh berupa gambar kudus Kanak-Kanak Yesus sebagai kenangan khusus bagi pembaptisan anaknya yang paling kecil. Sang pilot sendiri memiliki tiga orang anak, yakni seorang putra berusia 20 tahun, seorang putri berusia 17 tahun dan putri bungsunya yang masih berusia dua tahun.

Bagaimana menurut Anda?