Senin, 09 Januari 2012

Meyanna Nugroho: Menerima Baptis Karena Cinta

HIDUPKATOLIK.com - Ketika ayahnya minta izin untuk menikah lagi, Meyanna tidak menghalanginya. Karena, ia tahu persis betapa pahit ketika pernikahannya dulu tidak direstui oleh ayahnya.

Perempuan pemilik restoran ternama di Kota ‘Kembang’ Bandung, Jawa Barat, bernama lengkap Meyanna Nugroho ini teringat akan peristiwa pada waktu ia akan menikah dengan tambatan hatinya, Jonni B.S. Nugroho, yang telah menjadi suaminya sejak 25 Desember 1989.
Meyanna Nugroho beserta Keluarga. Sumber: Mingguan Hidup, Edisi No. 44, Tanggal 30 Oktober 2011.
Nanoet, demikian ia sehari-hari disapa, adalah bungsu dari empat bersaudara. Lima bersaudara ini semua perempuan. Ayah dan ibunya beragama Islam, tetapi Nanoet dan kakak-kakaknya pernah mengenyam pendidikan di sekolah Katolik. Pada 1985 Nanoet lulus Sekolah Menengah Atas Santa Angela, Bandung, dan melanjutkan studi pada Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Ia bertemu Jonni pada acara Malam Gembira yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa FISIP. Nanoet tampil sebagai salah satu pengisi acara dalam malam keakraban tersebut; sementara Jonni adalah ketua kelompok Padhyangan yang melatih ‘acara’ yang akan ditampilkan. Rupanya hati mereka saling berpaut, dan sejak 1987 mereka berpacaran.

Tanpa restu
 
Ayah Nanoet, seorang dosen dan ketua jurusan pada salah satu universitas terpandang di Bandung, tidak memberi restu atas hubungan mereka. Alasannya, Jonni beragama Katolik. Bahkan, ketika Jonni sudah bekerja, Nanoet tetap tidak bisa meyakinkan ayahnya. Tetapi, ibunda Nanoet yang pernah mengenyam pendidikan Belanda, lebih lunak.

Nanoet dan Jonni tidak pernah berkecil hati atas kurangnya dukungan itu, dan tetap memperjuangkan cinta mereka. Sehari-hari Nanoet tetap giat menyelesaikan kuliahnya. Dan, tidak pernah sekali pun ia menaruh benci pada ayahnya. Sebaliknya, keluarga Jonni, keluarga Katolik yang terpandang di Bandung, sejak awal tidak pernah menghalangi kehadiran Nanoet. Ibu Bimo Wibisono Nugroho (20) dan Kakrasana Adhi Nugroho (15) ini mengenang bahwa hanya itu satu-satunya jalan untuk tetap bisa menjalin kasih dengan Jonni.

Pada 1989, saat ia menyusun skripsi, Jonni melamarnya. “Pada saat itu hanya satu hal yang timbul dibenak saya, yakni saya ingin menikah dengan Jonni,” kisah Nanoet. “Saat itu saya mau menjadi Katolik, karena ingin menikah dengan Mas Jonni. Itu saja alasannya,” akunya dengan jujur dan spontan.

Diusir

Diam-diam Nanoet mempersiapkan diri untuk baptisan maupun untuk hari pernikahannya. Ibunya mengetahui rencananya tersebut, namun menyimpannya dalam hati, karena tidak ingin menimbulkan amarah suaminya. Akhirnya, menjelang Natal, 21 Desember 1989, Nanoet dibaptis. Pada hari itu juga Nanoet diusir oleh ayahnya. Padahal hari itu adalah empat hari menjelang hari pernikahannya, yaitu pada 25 Desember 1989. “Biar Bapak bilang, aku bukan anak Bapak, kenyataannya darah Bapak mengalir di tubuhku. Jadi, aku tetap anak Bapak,” kata Nanoet pada saat terpaksa meninggalkan rumah.
Meyanna Nugroho [Rosiany T. Chandra]

Satu-satunya tempat ia bisa mengungsi sementara waktu adalah kediaman sang eyang dari ibundanya. Sehari menjelang pernikahannya, ia pun mengalami teror sebagai upaya untuk menggagalkan pernikahannya. Ia dan Jonni tetap tegar dan telaten menjalaninya. Natal 1989 menjadi momen yang bersejarah. Cinta mereka diikrarkan. Mereka saling menerimakan Sakramen Perkawinan di Gereja Salib Suci Kemuning, Bandung.

“Saat itu saya merasa sedih sekaligus gembira. Saya tak tahu mana porsinya yang lebih besar. Selain itu, saya juga deg-degan dan was-was jika terjadi sesuatu,” ungkapnya.

Pada akhirnya semua saudaranya mendukung pernikahan ini. Tentang ayahnya, Nanoet memegang prinsip, “Layaknya batu kalau ditetesi air terus akhirnya juga akan bolong. Biar saya diusir, saya tetap nongol di rumah orangtua saya, setelah kami menikah. Kendati saya dan Mas Jonni tidak diajak berbicara oleh ayah, kami tetap hadir dalam acara yang diadakan oleh keluarga seperti tidak terjadi apa-apa,” cerita Nanoet.

Sampai suatu ketika pada 1996, saat ayah Nanoet ingin menikah lagi, setelah ibunda tercinta wafat, Nanoet sama sekali tidak menentang rencana itu. Ia paham betul, bagaimana rasanya menjalani pernikahan yang tak mendapat restu.

Silaturahmi yang sepihak ini berlanjut terus setelah pernikahan ayahnya, hingga pada Malam Takbiran tahun 2000, ayahnya berbicara singkat padanya, ”Jonni mana? Suruh ke sini.” Senang bukan main, Nanoet dan Jonni saat itu. Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka pun mencair dan membaik.

Aktivis Gereja

Selain mengelola resto miliknya, Nanoet juga menjadi aktivis di gereja sejak 1994. Mantan Ketua Lingkungan Santa Caecilia selama dua periode ini menyalurkan hobi menyanyinya dengan menjadi pemazmur di parokinya, Santo Laurentius Bandung. Selain sebagai anggota Koor Santa Caecilia, ia juga menjadi Ketua Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP 2007), serta menjadi tim pemerhati SD Santo Jusuf I/II.

Motivasi Nanoet menjadi Katolik mengalami pemurnian. Awal keterlibatan aktif dalam Gereja bermulai pada 2006, ketika suaminya mengalami patah tulang rusuk dalam kecelakaan sepeda motor. Jonni harus menjalani operasi untuk menghentikan perdarahan di dadanya. Karena kondisinya yang memburuk, Jonni menerima Sakramen Perminyakan. Bersama warga lingkungan, Nanoet berdoa serta memohon agar suaminya dipulihkan. ”Tuhan, sembuhkan Jonni. Apabila dia sembuh, Tuhan mau suruh apa saja, saya akan jalani,” demikian nazarnya dalam doa.

Mukjizat terjadi. Jonni tidak harus menjalani operasi. Dan, pada Jumat Agung 2006 Jonni diizinkan pulang. Kondisinya perlahan-lahan pulih. Sejak saat itu Nanoet, sesuai janjinya, ingin berbagi dengan senang hati dalam berbagai bentuk pelayanan di Gereja.

Rosiany T. Chandra (Sumber: MINGGUAN HIDUP, Edisi No. 44 Tanggal 30 Oktober 2011

0 komentar: