Jumat, 13 Mei 2011

Para Uskup Mengecam Polisi Mesir yang Lamban Menangani Kekerasan Agama


Kekerasan agama di Mesir
di mana sebuah gereja Ortodox
diserang warga muslim. 

Polisi Mesir seharusnya bertindak lebih cepat terhadap perusuh Muslim, demikian seorang uskup Katolik mengatakan menyusul tewasnya 12 warga sipil dan dan dua gereja dibakar massa akhir pekan lalu. Menurut Uskup Antonio Aziz Mina Giza, Mesir akan kembali ke keadaan anarkis jika kekerasan dibiarkan tanpa hukuman.

Polisi harus mengatakan secara tegas kepada mereka yang bertindak anarki: Hei, tidak dibenarkan melakukan kekerasan. Kekerasan tidak diperbolehkan,” katanya dalam sebuah wawancara dengan Bantuan kepada Gereja yang Membutuhkan, sebuah badan amal Katolik membantu orang Kristen dianiaya. Lanjut sang uskup, “Kekacauan dan anarki akan terus berlanjut tanpa tindakan tegas polisi dan tentara.

Tentara Mesir berjaga-jaga di depan gereja Ortodox.
Masih menurut Uskup Mina, "Tentara tidak mungkin bertindak tegas melawan para perusuh. Tentara ingin tetap netral. Polisi yang seharusnya mengambil tindakan tegas justru muncul sangat terlambat. Mereka tampak ketakutan. Sepertinya mereka belum cukup kuat menghadapi situasi.

Uskup itu menambahkan, “Tidaklah mungkin kita membangun perdamaian dan rekonsiliasi tanpa membawa mereka yang bersalah ke pengadilan. Jika gagal melakukan hal ini, rekonsiliasi hanya akan menjadi sebuah sandiwara, dan masalah yang dihadapi ke depan akan tetap.

Pernyataan Uskup Mina disampaikan menyusul kekerasan di Kairo di akhir pekan lalu yang dipicu oleh kabar angin bahwa seorang perempuan Kristen yang ingin masuk Islam tetapi ditahan oleh orang Kristen dalam Gereja Ortodoks St Mina di daerah Imbaba di pinggiran kota Kairo. Menyusul kabar angin ini, empat imam mendesak masuk ke gereja dan mereka diizinkan masuk oleh pihak gereja. Mereka mencari perempuan Kristen itu, tapi tidak bisa menemukannya di sana.

Umat Kristen Mesir yang tampak ketakutan. 
Tidak lama kemudian massa sekitar 500 orang Muslim Salafi yang sebelumnya telah berkumpul di luar gereja mulai menyerang gereja itu sekitar jam 5 sore.  Salafi adalah sekte Muslim yang mendedikasikan diri untuk menyebarkan apa yang mereka yakini sebagai Ortodoksi Islam, yakni ajaran islam yang lebih tradisional, termasuk penerapannya dalam kehidupan politik negara-negara mayoritas Muslim.

Pada sekitar 5:30 sore, massa mulai menembaki orang Kristen, dan mulai pukul 7:00 malam massa mulai melempar rumah, toko dan mobil mereka dengan kembang api. Massa juga menyerang Gereja Ortodoks Perawan Maria yang letaknya tidak jauh dari situ. Merasa terdesak, orang Kristen pun menanggapinya dengan melemparkan gelas dan batu ke arah para penyerang.

Militer tidak mengambil alih situasi sampai setelah 10:00 malam ketika mereka mulai menutup akses jalan ke wilayah Kristen dan gereja. Seorang imam Ortodoks mengatakan bahwa sekitar enam petugas polisi tiba lebih awal tetapi melarikan diri saat melihat para perusuh menembakkan peluru tajam.  Dilaporkan, tujuh orang Kristen dan lima Muslim tewas dalam kekerasan, dan lebih dari 200 lain - sebagian besar dari mereka Kristen - luka-luka. Uskup Mina mengatakan, kekerasan sektarian semacam ini terlalu sering terjadi dan terlalu banyak bagi orang Kristen yang menjadi korban.”

Tentara Mesir mengatakan bahwa mereka telah menangkap 190 orang dan akan dihadapkan ke pengadilan militer. Dilaporkan juga bahwa pihak militer telah meningkatkan keamanan di sekitar gereja-gereja di Kairo.

Perlu diketahui, komunitas Kristen Mesir merasa semakin rentan menyusul serentetan serangan kaum Muslim, yang terburuk di antaranya terjadi di malam Tahun Baru tahun ini di mana mereka membom sebuah gereja Ortodoks di Alexandria. Sekitar 20 orang tewas dan 70 lainnya terluka. Kardinal Antonio Naguib, Patriark Katolik Koptik Alexandria mengatakan kepada Bantuan kepada Gereja yang Membutuhkan, bahwa orang Kristen berada di tengah-tengah "situasi sangat serius".

Sementara itu, Uskup Katolik Youhannes Luxor Zakaria mengatakan, apapun risikonya, orang-orang Kristen tidak akan merasa terintimidasi dengan keadaan. “Akhir pekan lalu, saya merayakan Misa di desa kami dan saya menyangka kalau umat takut datang menghadiri misa. Tetapi ternyata tidak. Ini justru dibutuhkan untuk memperteguh iman umat beriman,katanya.

Uskup Zakaria melanjutkan, “Justru umatlah yang mendorong saya. Sifat kita sebagai orang Kristen bukanlah penakut dan mudah menyerah. Keesokan harinya setelah kerusuhan dan kekerasan, kita bangkit dan mulai lagi dari awal.” Uskup Zakaria juga mengatakan, “Orang-orang justru bertekad menjadi saksi Kristus di tanah airnya sendiri.”

Setelah serangan, kantor berita Vatikan Fides mengutip Luciano Verdoscia, seorang pastor Comboni yang bekerja di Kairo, mengatakan, “Daerah di sekitar Imbaba merupakan daerah miskin, di mana fanatisme terus berkembang dan kemiskinan serta kebodohan meraja-lela.” Masih menurut Verdoscia, orang Muslim Salafi memang kelompok kecil, tapi membuat diri mereka didengar, bahkan melalui aksi kekerasan. Menurut beberapa komentator, konon kelompok  ini dikendalikan oleh rezim lama [Mesir], yang ingin membuat orang lain percaya, ‘Anda lihat sendiri kan, apa yang sedang terjadi tanpa tanpa kita’”.

Sebagaimana diketahui, Presiden Hosni Mubarak mengundurkan diri pada pertengahan Februari setelah berminggu-minggu terjadi aksi protes.

Sekitar 90 persen dari 82 juta penduduk Mesir adalah Muslim. Agama Kristen (Katolik dan Ortodoks) mewakili sembilan persen populasi, sementara sisanya adalah kelompok Kristen lainnya.

0 komentar: