Rabu, 23 Februari 2011

Solidaritas Muslim-Kristen di Mesir Pasca Mubarak Tumbang

Minggu, 20 Feb 2011 03:52 WIB
 
Oleh : Yasser Khalil

Kairo – Demonstrasi di Mesir yang menggulingkan Presiden Hosni Mubarak, dan berbagai dampak politiknya, telah diliput besar-besaran oleh media. Tetapi berbagai cerita tentang solidaritas Kristen-Muslim tidak diberitakan secara luas, padahal cerita-cerita itu patut disebarluaskan.

Dalam aksi unjuk rasa itu, orang Kristen membuat pagar betis di sekitar orang-orang Muslim yang sedang melakukan shalat Jumat untuk melindungi mereka dari polisi. Dan Senin lalu, orang-orang Muslim membuat pagar betis di sekitar orang-orang Kristen di Lapangan Tahrir saat mereka menggelar misa, dan mendampingi mereka berdoa bagi orang-orang yang terluka atau meninggal dalam aksi protes tersebut.

Sebelum demonstrasi itu, di Mesir merebak kekhawatiran bahwa ketegangan di antara Muslim dan Kristen akan meninggi dan berbuntut pada kekerasan, khususnya mengingat adanya berbagai serangan belakangan ini yang diarahkan ke orang-orang Kristen di kawasan, yang terakhir di antaranya adalah pemboman sebuah gereja di Alexandria pada malam Tahun Baru yang menewaskan 23 orang.

Untuk mencegah terulangnya kekerasan semacam itu, rakyat Mesir mulai menggalang sebuah prakarsa yang disebut “Internet yang Bebas dari Perselisihan Sektarian”, yang diluncurkan oleh Amr Khaled, tokoh yang disebut The New York Times sebagai “penceramah-televisi Muslim paling terkenal dan berpengaruh di dunia.” Ia memulai prakarsa ini pada bulan Januari lalu setelah ia melihat bagaimana internet digunakan untuk menyebar desas-desus dan menyulut ketegangan antara Muslim dan Kristen di Mesir.

Prakarsa ini menyebar dengan cepat, dan terbukti sangat populer di kalangan pemuda Mesir terutama karena banyaknya pengikut Khaled di sana. Benih dari prakarsa ini bermula dari ceramah-ceramahnya pada 1998, setelah tahun-tahun ketika kejadian teror merenggut nyawa orang-orang yang tidak bersalah dan fanatisme beragama mulai menyebar di kelompok-kelompok yang mengadopsi tafsir ekstrem atas Islam.

Banyak orang merasakan adanya pesan-pesan keseimbangan dan harmoni dalam retorika da’i muda yang dinamis ini, yang sangat jarang ditemukan dalam ceramah pembicara lain. Antara tahun 2000 dan 2002, ceramah-ceramahnya – terutama tentang toleransi dalam Islam – dihadiri oleh 35,000 hadirin. Kini, halaman Facebook-nya punya sekitar dua juta teman dan ceramah-ceramahnya disaksikan oleh jutaan orang di seluruh dunia Muslim.

Jelas bahwa pemuda memainkan peran penting dalam implementasi dan perkembangan prakarsa ini.
Prakarsa “Internet yang Bebas dari Perselisihan Sektarian” ini ditampilkan di situs Khaled (amrkhaled.net), yang dikunjungi sekitar dua juta pengunjung setiap bulannya. Banyak anak muda Mesir telah mengganti foto profil Facebook mereka dengan logo prakarsa ini, yang menampilkan sebuah salib di dalam sebuah bulan sabit. Berbagai situs dan forum lain di kawasan ini juga telah menyertakan logo di situs mereka untuk mendorong kampanye ini.

Mitra utama prakarsa ini adalah media-media berpengaruh di Mesir dan dunia Arab, termasuk stasiun televisi OTV dan saluran media Seventh Day, yang keduanya dimiliki oleh pengusaha Koptik terkemuka, Naguib Sawiris; situs Koptik Bersatu, yang dikelola oleh sekelompok orang Koptik yang tinggal di Amerika Serikat dan punya pengaruh di Mesir; dan situs OnIslam.net, yang dikelola oleh IslamOnline.net, sebuah media terkenal yang fokus pada Islam; serta banyak situs Mesir yang berorientasi kepemudaan.

Mitra-mitra ini mengidentifikasi sepuluh hal dasar yang mereka harapkan akan menjadi “aturan bagi para pengguna internet dan kode etik yang harus dipatuhi oleh saluran media di internet.” Aturan-aturan itu adalah untuk tidak menggunakan hal-hal berikut: generalisasi pukul rata; kata-kata kasar, desas-desus tanpa sumber terpercaya, sarkasme, video yang bisa menyulut ketegangan, dan fatwa-fatwa kebencian atau kekerasan. Aturan-aturan itu juga mendorong bahasa-bahasa damai dan kasih sayang, penghargaan terhadap agama orang lain dan perbedaan pendapat, bahkan penghargaan terhadap setiap orang. Akhirnya, mitra-mitra itu telah setuju bahwa para pengguna seharusnya tidak mem-posting pendapat mereka ketika dalam keadaan marah.

Prakarsa ini menjanjikan dan dapat memperbaiki hubungan Muslim-Kristen di Mesir. Namun, solusi intinya terletak pada penanganan masalah-masalah yang menciptakan ketegangan itu terlebih dulu.
Sebagian solusi yang bisa dijalankan di tingkat nasional meliputi: mengizinkan semua warga negara untuk membangun rumah ibadah, mengubah kurikulum sekolah untuk mendorong kebebasan beragama, memastikan bahwa pihak berwenang menangani konflik di antara penganut agama yang berbeda berdasarkan hukum, dan bukannya sikap bias berdasarkan aliansi politik, dan memastikan adanya kesempatan yang setara di tempat kerja terlepas dari keyakinan agama seseorang.

Prakarsa positif Khaled adalah sebuah langkah pertama yang penting untuk mengatasi penyebab inti ekstremisme yang melahirkan ketegangan sektarian. Solidaritas di kalangan orang Muslim dan Kristen dalam unjuk rasa baru-baru ini menunjukkan bahwa kedua kelompok bisa mengatasi perpecahan, dan menawarkan harapan baru bahwa koeksistensi dan kesetaraan beragama bisa menjadi fondasi Mesir baru.

###

* Yasser Khalil ialah seorang peneliti dan jurnalis Mesir.Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 18 Februari 2011,

0 komentar: