Sabtu, 18 Desember 2010

Wawancara oleh Mazza Giulia untuk ASIA NEWS (www.asianews.it) (Tanggal 2 Desember 2010)


Suara Seorang yang Selamat dari Pembantaian di Gereja Katolik Irak

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Aku berusaha keras melupakannya, tapi aku akan selalu melihat gereja Baghdad yang bernoda darah itu.” Salah seorang korban yang selamat dari serangan 31 Oktober di Gereja Maria Bunda Keselamatan menuturkan pengalaman mencekan itu. Peristiwa naas itu masih sangat hidup dan tidak mungkin dihapus dari ingatannya, juga dari ingatan semua pengikut Kristus yang selamat dari pembantaian tak berperikemanusiaan itu. Dia yang menuturkan kisah ini adalah salah satu dari 26 orang yang terluka dan dirawat di Rumah Sakit Gemelli di Roma sejak tanggal 12 November, bersama dengan keluarga mereka yang juga ikut dirawat. Dia menuturkan, salah seorang teroris tampak terluka dan terus berkata kepada pemimpinnya, "Aku terluka, lebih baik aku meledakkan saja sabuk bahan peledak sehingga aku bisa menjadi martir, dan bisa langsung ke surga.”
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


ROMA, Italia (AsiaNews) - "Saya berusaha melupakan apa yang terjadi, tetapi  ketika sendirian aku mengenangnya kembali dan semua kejadian itu muncul lagi dalam pikiranku. Rasanya sakit sekali. Aku masih sangat terkejut. Mustahil menggambarkan apa yang terjadi terjadi itu.” Ini adalah kata-kata seorang umat Katolik Irak, salah satu yang "beruntung" selamat dari serangan 31 Oktober 2010 di gereja Maria Bunda Keselamatan oleh para teroris al-Qaeda di Baghdad. Secara fisik dia pun menderita karena ada pecahan peluru di punggung dan kaki. Tetapi bagi 58 orang Katolik lainnya keadaannya jauh lebih buruk. Mereka mati dibunuh, mereka kehilangan kehidupan mereka sendiri. Di antara mereka, 46 umat yang sebenarnya datang ke gereja hanya untuk menghadiri misa serta dua dua imam yang merayakan misa malam itu. Lebih dari 70 orang terluka. Dari jumlah itu, sekitar 37 (paling parah) telah dibawa ke Perancis pada tanggal 8 November 2010 lalu, sementara 26 lainnya, bersama dengan keluarga mereka, dirawat di rumah sakit di Roma, di mana AsiaNews melakukan wawancara dengan mereka.

"Peristiwa naas itu terjadi pada hari Minggu dan misa perayaan Ekaristi pada malam itu baru saja dimulai. Tak lama setelah pembacaan Injil, kira-kira jam 17:15, kami mendengar bunyi tembakan di luar gereja. Don Tha'er (pastor) yang sedang memimpin misa, mencoba menenangkan umat yang hadir dan meminta kami untuk untuk berdoa. Sementara itu, suara gaduh makin terdengar dan ketika kami mendengar bunyi letusan yang sangat keras, para teroris mendesak masuk ke dalam Gereja—lima atau enam dari mereka—dan mulai melancarkan tembakan membabi buta ke segala arah.

Dia minta namanya dirahasiakan. "Untuk alasan keamanan," katanya. Dia tidak akan berbicara tentang hidupnya sebelum serangan. Dia hanya mengatakan, "Saya selalu mengambil bagian dalam kegiatan pastoral gereja. Saya berteman dengan baik dengan kedua imam itu, Don Tha'er dan Don Wassim. Don Tha’er berusia 32 tahun dan Don Wassim berusia 27 tahun. Kedua imam itu didesak oleh para teroris untuk turun dari altar. “Seperti biasa, aku duduk di bangku depan. Ketika bunyi senapan mulai terdengar, aku langsung merebahkan diri ke lantai. Don Tha'er memanggilku dan berkata, “Cobalah bawa semua orang masuk ke sakristi.” Saat itu benar-benar sulit dan menegangkan karena para penyerang sedang melancarkan tembakan membabi-buta. Aku pun mencoba mencapai sakristi bersama beberapa umat. Ketika belum terlalu jauh beranjak, aku melihat seorang gadis terluka di lehernya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, apakah harus untuk membantu dia atau harus menyelamatkan diriku sendiri."

Wartawan baru saja ingin mengorek lebih dalam apa yang dia lihat dan rasakan, terutama ketika melihat ada seorang anak perempuan terluka. Sebelum pertanyaan sempat diajukan, mengalirlah kisah ini dari rekan kita yang selamat ini. Dia melanjutkan, “Ketika melihat gadis itu terluka, aku bergerak kea rah dia dan berusaha membawanya ke tempat yang lebih aman. Aku menggendong gadis itu di bahuku, tapi salah satu teroris melihatku dan segera melemparkan granat ke arah kami. Gadis itu meninggal sementara aku terbaring di lantai dalam keadaan terluka. Aku pura-pura mati. Ketika aku sedang berbaring di lantai itu, aku melihat Don Tha'er (pastor) mencoba mempertahankan mati-matian altar suci. Dia memeluk altar itu dan menutupinya dengan jubahnya, melindunginya seakan-akan dia mau menyembunyikannya dalam jubahnya sendiri. Salah seorang pria teroris itu menyerang sang imam, menyerangnya ke arah lutut dengan maksud untuk merobohkannya, tetapi sang imam bertahan dan tetap berdiri sambil melindungi altar kudus itu. Akhirnya dia pun mati di tangan teroris. Aku bisa mendengar teriakan orang-orang di gereja, sangat menakutkan, ketika pada satu ketika aku mendengar suara. Aku tidak tahu siapa yang meneriakan kata-kata itu kepada para teroris, katanya: ‘Kami mati….kami mati, oke. Tetapi salib akan tetap hidup!’ Siapa pun orang yang berteriak itu, diapun segera mati di tangan para teroris itu.”

Peristiwa tragis di malam itu masih segar dalam ingatannya dan amat menyakitkan, juga bagi korban lainnya yang selamat. Tragedi ini akan terukir selamanya dalam pikiran mereka. Tak akan terhapuskan. "Para teroris terus bergerak di setiap sudut gereja dan menembak secara membabi-buta. Ketika salah satu dari mereka melewatiku, ku lihat dia mengenakan sabuk yang dipasangi bom. Mereka jelas memiliki rencana yang terinci sebelumnya. Dua penembak jitu ditempatkan di sisi Gereja, dua orang lain di tengah lorong gereja dan satu di lantai atas. Mereka berbicara di antara mereka sendiri melalui radio dan saling memastikan bahwa segalanya berjalan sesuai rencana. Gereja dipilih karena strukturnya. Bangun gereja itu adalah satu kesatuan potongan beton bertulang dengan tiga pintu masuk utama, dua di bagian sisi dan altar di bagian belakangnya.

“Di luar pintu masuk ke gereja terdapat sebuah salib setinggi 49 meter, yang mencerminkan ketinggian gereja. Aku pikir mereka memilih Gereja Maria Bunda Keselamatan karena jendela-jendelanya tidak melebar sampai ke atas. Dengan demikian efek ledakan dalam gereja menjadi lebih dasyat, dengan semua ventilasi yang mereka perkirakan juga memiliki daya rusak bagi rencana mereka. Itulah sebabnya mengapa mereka terus melempar granat ke arah umat. Mereka yang keluar dan selamat adalah orang-orang yang pura-pura mati, seperti saya.”

"Pada satu ketika, saat aku sedang terluka di tanah, aku mencoba merangkak ke altar dan bersembunyi di balik dinding. Ketika sedang merangkak itu, aku sebenarnya menutup diriku dengan mayat-mayat yang ada di sekitar. Dan aku masih bisa mendengar apa yang dikatakan para teroris itu. Satu seorang dari para teroris itu terluka, dan ia terus berkata kepada pemimpin-Nya, ‘Aku terluka, lebih baik aku meledakkan saja sabuk berbahan peledak ini supaya aku bisa menjadi martir dan langsung ke surga.’ Semula seseorang yang tampaknya komandan mereka berkata kepada temannya yang terluka itu untuk menunggu, karena kematiannya belum tiba. Tetapi teroris yang terluka itu berkata lagi, ‘Aku tidak bisa menunggu lagi. Aku terlalu parah dan sangat kesakitan. Aku tertembak.’ Sang komandan pun memberinya izin sambil mengucapkan kata-kata perpisahan, ‘Oke, sampai ketemu di surga.’ Orang itu pun meledakkan dirinya. Rekan-rekannya pun berteriak, ‘Kamu bukan orang beriman. Kamu akan masuk neraka sementara kami yang akan ke surga, Allahuakbar.’”

Guratan horor yang panjang dan melelahkan itu masih jelas terlihat di wajahnya. Matanya yang hitam menampakkan ketidakpercayaan. Suaranya terdengar masih bergetar. "Selama pengepungan lima jam, para teroris mengubah gereja kami menjadi masjid. Mereka mengumandangkan doa-doa Islami, dan dua kali melaksanakan salat sore dan malam. Setelah salah satu rekan mereka meledakkan dirinya dan menjadi berkeping-keping, rekan-rekannya yang lainnya tampak seperti orang gila. Mereka berteriak dan menembak ke mana-mana.

Semula mereka tidak menyadari bahwa ada sekitar 60 orang sedang bersembunyi di sakristi [termasuk Vikar Uskup berusia berusia 75 yang terluka]. Tapi ketika mereka menyadari hal itu, mereka mencoba menerobos pintu sakristi yang terbuat dari kayu, tetapi tidak berhasil. Sebenarnya umat yang ada dalam sakristi itu mengunci diri dalam sebuah dengan lemari besi. Lalu para penyerang mulai melemparkan granat ke arah pintu sampai mereka mampu membuat lubang pembuka. Tetapi sebelum belum sempat memasuki sakristi, mereka harus kembali ke arah pintu masuk utama, karena pasukan Irak sedang berusaha masuk dan berupaya menghancurkan gedung gereja. Aku memanfaatkan kesempatan ini dengan merangkak ke pintu sakristi  dan berusaha agar mereka yang ada dalam sakristi mengenaliku, namun orang-orang di dalamnya tidak membiarkan aku masuk. Mereka takut jangan-jangan aku seorang teroris juga. Seorang gadis mengenal suaraku, dan mereka akhirnya membuka pintu dan menarikku masuk. Aku bersembunyi dengan mereka di sakristi, dan kulihat begitu banyak orang terluka karena ledakan terakhir dan bahwa seorang gadis dan dua orang lainnya tewas.”

Perlu diketahui, sakristi juga memiliki pintu lain, yang mengarah ke luar. Pintu itu terbuat dari besi dan karenanya sangat berat dan sulit untuk dibuka. Aku berhasil menelpon seorang pimpinan tentara yang saya kenal melalui telpon genggamku, memintanya untuk membuka pintu itu dan membiarkan kami membebaskan diri. Tetapi orang itu mengatakan kepadaku bahwa itu mustahil, karena pintu terkunci dan kami harus membukanya. Dari ujung telpon dia memberitahku bahwa bahwa angkatan bersenjata segera akan mendesak masuk ke gereja, dan itu akan menjadi sebuah operasi yang keras. Seorang gadis dan seorang anak kecil mendengar percakapan itu dan mereka menjadi sangat ketakutan. Serangan itu tentu dapat menghancurkan gereja dan kami semua yang ada di dalamnya. Aku kemudian mendekap keduanya dalam pelukanku dan kami segera merebahkan diri ke lantai. Aku berusaha sekuat tenaga untuk melindungi mereka dengan tubuhku. Setengah jam berikutnya benar-benar sebuah neraka, serangan mengerikan menggunakan bom dan roket. Para teroris segera meledakkan sabuk mereka yang berisi bom begitu tentara merangsek masuk. Sungguh sebuah pembantaian. Ketika akhirnya para tentara itu membebaskan kami, mereka meminta kami berjalan keluar melalui pintu depan."

Kisah ini terdengar seperti plot sebuah film, tapi ini bukan. Sebuah kisah yang menyisakan ruang untuk pertanyaan yang harus dijawab: "Sikap pemerintah dan angkatan bersenjata agak aneh. Jika Anda tahu tata letak gereja, Anda mestinya tahu di mana titik lemah, titik terbaik dari mana harus memulai aksi pembebasan. Di bagian di mana terdapat jendela-jenjela gereja di sana ada atap yang mengelilingi gereja yang lebarnya satu meter. Di atasnya lagi ada atap, di mana para tentara pembebas sebetulnya bisa memposisikan diri mereka, dan kemudian masuk dari sana melalui jendela. Dari situ para tentara sebetulnya bisa menangkap para teroris itu, satu demi satu. Tapi ini bukanlah satu-satunya kejanggalan dari operasi yang dilakukan para tentara itu. Ketika beberapa umat berada di luar—yakni para anggota keluarga dan orang-orang yang bekerja di sekitarnya—bertanya kepada para tentara apakah mereka bisa membantu, kami mendengar para tentara itu menjawab, “Menjauh dari sini! Ini bukan urusan kalian.” Tentara memang merangsek masuk tetapi setelah lima jam, saat setelah para teroris telah menumpahkan seluruh isi senjata mereka kepada kami.”

“Don Tha’er, imam yang mempersembahkan misa, meninggal karena dia ingin menyelamatkan anak-anak. Ketika para teroris mulai menyerang gereja, Don Wassim sedang berada di ruang pengakuan dosa. Saat serangan mulai terjadi dia menemui para teroris itu dan meyakinkan mereka agar membiarkan kami dan anak-anak pergi. Don Wassim juga meminta para teroris itu menyandera saja dia dan Don Tha’er asal membiarkan umat pergi dengan selamat. Don Wassim menawarkan kehidupannya dan kehidupan Don Tha’er. Ketika bergerak meninggalkan altar suci karena dipaksa para teroris itu, Don Wassim ditembak oleh salah satu dari mereka. Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Don Tha'er , yang meninggal di depan mata ibunya sendiri [yang sekarang selamat dan dirawat di Prancis] adalah, ‘Tuhan Yesus, ke dalam tangan-Mu ku serahkan rohku.’ Aku ingat juga kata-kata Don Tha’er ketika dia mengatakan kepada semua orang yang sedang berada dalam kesulitan hidup mereka: ‘Tersenyumlah karena Tuhan mengasihimu.’

"Apa yang kami alami di gereja itu benar-benar neraka. Aku mencoba melupakan apa yang terjadi, aku coba bercanda dan tertawa dengan orang-orang. Tapi ketika sendirian aku mulai memikirkannya lagi, dan seluruh rekaman peristiwa itu kembali menghampiri pikiranku. Rasanya sakit sekali, aku masih sangat tergoncang. Sangatlah mustahil melukiskan peristiwa itu. Banyak anak laki-laki dan perempuan terbunuh di dalam gereja. Seorang temanku bersama istri, anak perempuan dan ayahnya tewas di dalam gereja. Dia meminta untuk dibunuh dan membiarkan putrinya hidup, tetapi para teroris tidak menggubrisnya. Ada juga tangisan anak kecil, saya tidak tahu persis apakah bayi laki-laki atau perempuan. Bayi itu terus menangis sehingga para teroris menyuruh ibunya untuk menghentikannya, tetapi anak itu tetap menangis. Seorang teroris lalu berkata kepada ibu itu, ‘Baiklah kalau begitu, aku akan menghentikan tangisanya.’ Teroris itu pun membunuh bayi itu.”

Dia [orang yang memberi kesaksian ini] sejenak dan menarik nafas dalam-dalam sambil terus mengingat sesuatu, lalu akhirnya melanjutkan, “Sebelum peristiwa keji ini aku punya kehidupan yang normal. Para tetangga kami adalah Muslim, hubungan dengan mereka baik-baik saja. Kami saling menyapa, kami berbicara dengan mereka dan seterusnya. Tetapi ketika masalah agama mengemuka mereka mulai bersuara keras dan mengatakan bahwa kami orang Kristen tidak percaya pada nabi mereka yang adalah 'nabi terakhir'". Masa depan? "Menjadi seorang Kristen di Irak berarti Anda dianiaya karena iman Anda. Kami ingin dunia mengetahui ini. Kita tidak bisa tahan lagi dengan kekerasan ini.”[]
(Diterjemahkan untuk blog ini oleh Jeremias Jena. Leuven, 18 Desember 2010)

0 komentar: