Sabtu, 18 Desember 2010

Minggu Adven Ke-4 (A)

“JALAN KELUAR DARI TUHAN À LA MANUSIA”
Yes 7:10-14; Rm 1:1-7; Mat 1:18-24

Pernah seseorang begitu dongkol hatinya hanya karena perkataannya tidak dipahami orang lain. Pasalnya, ia sudah menjelaskan dengan panjang lebar problem yang menimpanya di tempat kerja. Tapi karena tetap juga tidak mengerti ia bicara apa, temannya hanya terdiam dan tiba-tiba mengatakan, "Bisakah kau jelaskan lagi persoalanmu dengan bahasa manusia?" Nah, kita kadang-kadang juga terlalu bersemangat bercerita, tapi tetap saja orang lain tidak paham. Mengapa? Karena bahasa kita tidak 'membumi', tidak riil dan familier, bisa juga terlalu 'tinggi' dan abstrak sampai-sampai seperti bukan bahasa manusia lagi.


Kalau bahasa macam ini digabungkan dengan harapan yang terlalu 'tinggi', akibatnya akan lebih fatal lagi: keputusasaan, menyerah pada 'nasib' dan struktur, tersesat di jalan buntu. Rasa-rasanya setiap orang punya pembelaan diri masing-masing kalau menyangkut problem yang sedang dihadapinya. Kita sering merasa terjebak di dalam situasi yang tidak memberi kemungkinan lain atau jalan keluar yang lebih baik. Yang terpikir hanyalah turunnya 'tangan ilahi' dari langit tertinggi untuk melepaskan kita dari kebuntuan ini. Kita mendamba mukjizat manakala sudah putus asa. Kita 'merasa' sudah berusaha mati-matian tapi tetap tak menemukan jalan keluar. Kita bergumam, "Sekarang biarlah ini menjadi urusan Tuhan..." Ah, Tuhan lagi yang disalahkan.

Yusuf, figur sentral dalam Injil hari ini, menghadapi problem yang menakutkan untuk seorang Yahudi. Belum juga setahun bertunangan dengan Maria, ia dikejutkan dengan kenyataan bahwa Maria telah mengandung. Padahal satu tahun ini adalah syarat utama supaya mereka bisa menikah. Ketakutan itu sangatlah riil bagi Yusuf. Ia takut karena tidak bisa membuktikan bahwa dirinya menjaga Maria dengan baik-baik. Ia gagal sebagai calon suami. Tapi ia tidak bereaksi terlalu cepat. Ia mencari terus apa yang Tuhan kehendaki
ia lakukan dalam situasi ini .

Dan jawaban itu muncul dalam mimpinya. Maka, ketika bangun, ia tidak berpikir lagi, tapi percaya dan  melakukan apa yang diperintahkan oleh malaikat Tuhan dalam mimpinya itu. Kita mungkin mengira itu adalah mukjizat. Bukan. Yusuf hanya dikembalikan pada sebuah jalan keluar yang sangat manusiawi: jadilah suami Maria, jangan takut! Selalu ada jalan keluar yang realistis, tinggal apakah orang mampu melihatnya atau tidak. Tak usah berpikir tentang mukjizat!

Nah, situasi problematis juga kita alami setiap hari. Satu masalah selesai hari ini, besok--ah, boro-boro besok--nanti malam pun sudah ada masalah lain yang menimpa kita. Kadang-kadang masalah yang sudah menahun pun dahulu kita mulai dalam bilangan menit. Kita pernah keliru memutuskan dalam sesaat, dan
bertahun-tahun setelahnya kita tak melihat sedikitpun celah untuk melepaskan diri. Padahal, kita sudah berdoa dan berharap dengan sangat tekun! Apa yang masih salah? Harapan kita. Terlalu tinggi. Terlalu 'tidak  mungkin'.

Raja Ahas, dalam bacaan I, bukanlah sosok yang baik. Ia murtad dari Tuhan dan mendiriikan mezbah untuk allah lain di Yerusalem (2Raj. 16). Ketika Rezin, raja Aram, dan Pekah, raja Israel, mengepung Yerusalem, Ahas dan rakyatnya gemetaran. Ia tak percaya bahwa Tuhan sungguh akan memenuhi janji-Nya. Bahkan ketika disuruh meminta tanda dari Tuhan pun Ahas tetap tidak mau karena hatinya kecut. Maka, Yesaya menegur ketakutan Ahas itu, dan menubuatkan Penyelamat yang justru akan dilahirkan seorang perempuan muda. Penyelamat ini akan disebut 'Immanu-El': Tuhan bersama kita!

Pahamkah kita maksud kisah itu? Tuhan tidak memenuhi janji-Nya dengan cara  yang abstrak. Ia menggunakan cara manusia, datang dalam diri seorang anak manusia, bahkan dilahirkan oleh seorang perempuan muda yang juga manusia. Itu artinya, jalan keluar dari Tuhan itu memakai apapun yang ada pada kita, apapun yang kita miliki, yang familier bagi kita. Tuhan tidak 'suka' memakai mukjizat. Kita saja yang selalu minta mukjizat. Kelak Yesus pun tidak menyebutnya mukjizat, tetapi "pekerjaan-pekerjaan-Ku" (Yoh 10:25).

Itukah sebabnya kita sulit keluar dari problem yang menimpa diri kita? Karena kita menunggu penyelesaian "dari tempat tertinggi yang di atas"? Kalau benar begitu, kita menantikan Natal yang keliru. Kita memakai bahasa yang tidak dimengerti oleh manusia. Kita berhadapan dengan sebuah tembok yang sebetulnya kita dirikan sendiri. Selama kita tidak punya rasa percaya bahwa penyelesaian masalah kita itu adalah dengan cara manusia, kita takkan keluar dari lubang sempit.

Penyelamat itu akan dilahirkan di hati kita masing-masing. Maksudnya, diri kita sendirilah yang akan dipakai Tuhan untuk membuka jalan keluar dari setiap kesulitan. Tuhan meminta iman kita, dan hanya iman! Iman itu yang akan membuat kita tiba-tiba 'melihat' berbagai pilihan yang semula kita anggap tidak mungkin. Iman itu akan membuat kita 'melihat' apapun yang kita punya--keluarga, teman-teman, semangat, kemampuan, tenaga,
kesempatan--sebagai jawaban terbaik, jalan keluar paling jitu atas kesulitan hidup kita! Jangan lagi berpikir dan berbicara terlalu 'tinggi'. Lihatlah setiap pribadi yang ada di sekitar kita ini. Mereka adalah jawaban Tuhan
bagi kita. Amin.

0 komentar: