"MASIH BELUM PAHAM JUGA?"
Yes 35:1-6a.10; Yak 5:7-10; Mat 11:2-11
Yes 35:1-6a.10; Yak 5:7-10; Mat 11:2-11
Anak-anak 'baru gede' kalau sudah suka dengan seorang artis pujaan bisa membuat frustrasi orangtuanya. Akhir-akhir ini, misalnya, di Indonesia semua yang 'berbau' Korea sangat disukai anak-anak remaja dan dewasa. Lagu-lagu berbahasa Korea dipasang sebagai 'ringtone' di telepon genggam mereka. Sebetulnya melodinya biasa-biasa saja, dan mereka tidak tahu arti liriknya, tapi kalau sudah suka tak ada yang bisa menghalangi. Baju-baju, sinetron, poster artis, dan tren-tren lain dari negara itu juga disukai habis-habisan. Itu semua seperti gelombang kultur yang tiba-tiba menghanyutkan. Apapun yang menarik mata dan telinga dipuja-puji. 'Pesan' di balik semuanya itu lantas menjadi tidak penting lagi. Semua jadi latah.
Sering terjadi sikap-sikap latah karena keterpesonaan macam ini. Seseorang baru sekali menghadiri seminar dari seorang motivator terkenal. Sepanjang seminar itu semua orang terpana pada setiap kata yang diucapkan oleh pembicara. Berkali-kali tepuk tangan terdengar dari ruang pertemuan. Berkali-kali juga orang tertawa karena merasa pembicara itu pandai membawa suasana tetap hidup. Suatu kali karena kurang mendengar, orang ini ikut tertawa terbahak-bahak bersama yang lain. Lalu dengan malu-malu ia bertanya ke orang di sebelahnya, apa hal lucu yang baru saja dikatakan pembicara. Ia terkejut waktu tetangganya menjawab, "Wah.. saya juga tidak tahu. Tadi bicara apa ya?" Padahal, orang ini jelas ikut tertawa keras.
Kita keliru kalau menyangka bahwa Yohanes Pembaptis masih belum yakin apakah Yesus itu Mesias yang ditunggu-tunggu atau bukan. Tidak mungkin. Yohanes dan Yesus itu sudah saling 'kenal' sejak mereka dahulu dikandung oleh ibu mereka. Yohanes pernah melonjak kegirangan di dalam kandungan Elisabet, ibunya, ketika dikunjungi oleh Maria yang juga mengandung Yesus. Mereka itu seperti saudara kembar saja. Selalu 'nyambung'. Yohanes sudah tahu dirinya hadir di dunia adalah untuk mempersiapkan kedatangan Yesus.
Maka, ketika Yohanes menyuruh murid-muridnya datang kepada Yesus dan bertanya apakah Ia itu Mesias, itu bukan untuk dirinya sendiri. Ia 'sengaja' menyuruh mereka pergi kepada Yesus untuk memberi mereka pelajaran! Mengapa? Karena mereka belum paham juga! Mereka masih juga terpesona pada Yohanes
padahal sudah 'melihat' sendiri perbuatan-perbuatan besar Yesus. Jadi, penugasan itu adalah sebuah pelajaran, supaya mereka itu paham dan berani memutuskan.
Kalau kita pergi ke gereja, menghadiri persekutuan doa, dan mengikuti kebangunan rohani, apa yang menarik kita ke sana? Pembicaranya? Lagu-lagunya? Tempatnya? Keramaiannya? Atau teman-teman kita yang di sana? Ini pertanyaan yang sama dengan yang diajukan Yesus kepada banyak orang waktu itu, "Untuk apakah kamu pergi?" Ya. 'Untuk apa' kita pergi ke tempat ini? Merenung-renung tidak jelas, menikmati liturgi yang indah, atau sekedar melihat 'nabi'? Padahal kalau kita membuka mata baik-baik, setiap kejadian di sekitar kita ini sarat dengan pesan Tuhan. Ada seribu alasan untuk bersukacita dan terlibat di dalamnya karena Tuhan sudah memulai pekerjaan-Nya!
Yesaya dalam bacaan I mengingatkan 'alasan' terpenting bagi kita untuk bersukacita dan yakin, karena Allah sendiri datang dan menyelamatkan. "Kuatkanlah hatimu, jangan takut dan ragu!" Kata-kata itu mengajak kita
untuk yakin dengan apa yang kita percayai. Seharusnya kita paham siapa yang sebetulnya sedang bekerja di balik semua kekaguman, keterlibatan, dan kesetiaan kita. Mestinya kita tahu 'untuk apa' kita setiap kali diutus untuk pergi dan melayani. Tidak mungkin sebuah tugas dan kejadian kita alami sebagai kebetulan. Selalu ada 'maksud' dari semuanya itu. Tidak boleh kita menjalaninya begitu saja tanpa memahami 'pesan' Tuhan di baliknya!
Ada orang yang selalu tersenyum dan gembira kalau diberi tugas baru, tapi lebih banyak lagi yang bersungut-sungut dan berpikir negatif terhadap si pemberi tugas. Mengapa? Karena yang terakhir ini tidak paham juga maksudnya! Sebaliknya, mereka yang optimistis itu berani mengatakan "Siap!" dan akan menemukan kekuatan luar biasa karena 'melihat' bahwa Yesus sudah mendahuluinya bekerja di sana! Supaya kita bisa begitu, dengarkanlah baik-baik dan pahamilah penugasan kita masing-masing. Jangan hanya ikut-ikutan apalagi melakukan tugas dengan asal-asalan.
Dalam bahasa populer, anak-anak muda menyebut seseorang yang lambat atau tidak paham akan sesuatu, 'bolot'. Istilah yang berasal dari bahasa Betawi ini sebetulnya berarti 'lemah pendengaran' atau tuli. Kalau kita 'bolot' dalam konteks iman, berarti kita ini tidak sungguh paham 'untuk apa' kita menjalankan tugas kita tiap hari, untuk apa kita harus terlibat dalam sukacita dan optimisme Gereja, untuk apa kita melakukan pekerjaan-pekerjaan Kristus di zaman ini.
Mulai hari ini kita diajak untuk tidak takut maupun ragu-ragu dalam setiap penugasan kita. Setiap penugasan (baru) punya 'maksud' dari Tuhan yang mesti kita pahami agar bisa menemukan sukacita saat terlibat di dalamnya. Lihatlah, Tuhan sudah mendahului kita dalam penugasan itu, dan jangan kita
tidak mengerti lagi. Amin.
0 komentar:
Poskan Komentar