Jumat, 24 Desember 2010

Malam Natal (A)

"CINTA SEDERHANA TERBUNGKUS LAMPIN" 
(Yes 9:1-6; Tit 2:11-14; Luk 2:1-14)

Di zaman seperti ini masih ada juga 'larangan' untuk relasi. Alangkah tidak bebasnya kita mencintai seseorang. Relasi seorang gadis tidak pernah direstui orangtuanya. Ia pun mencintai seseorang dengan sembunyi-sembunyi. Ketika ia memutuskan mau menikah, huru hara pecah di keluarganya. Ayah marah-marah. Ibu menangis sepanjang hari. Kakak dan adik terdiam ketakutan. Ia tetap menikah, tapi tanpa restu keluarga. Setelah dua tahun, lahirlah buah hati mereka, bayi laki-laki yang sangat lucu. Ketika dibawa ke rumah,
bayi itu mengubah segala-galanya. Ayah memeluk dan menciumi bayi itu dengan penuh kasih. Ibu menangis lagi, tapi bahagia. Kakak adik berkerumun di sekeliling bayi itu, menggoda dan memegang dengan gemas. Damai, adalah pengampunan. Cinta itu sederhana.

Mungkin benar, damai sudah dibikin rumit. Kita makin sulit berdamai, sulit menyayangi, makin rumit untuk memperhatikan. Itu sebabnya, mengungkapkan kasih pun seakan-akan susah sekali. Sebab orang lupa untuk sederhana! Lupa 'mengatakan saja' apa yang dirasa. Menyayangi saja kok repot. Terlalu banyak pretensi. Dan itu bedanya kita dengan bayi. Mereka tak berpretensi. Tak punya 'hidden agenda'. Tak punya pamrih. Mereka mau digendong, disayang, digodai, dicium. Mereka 'menyelamatkan' kita dari hidup yang terlalu
dijejali 'maksud'. Kalau kita sudah lupa seperti apa itu cinta yang sederhana, peluklah seorang bayi. Belajarlah (lagi) dari sorot matanya, senyum di mulutnya, tangisnya, rasa percayanya. Bukan dengan kata-kata.

Kehadiran Yesus pertama kalinya di dunia ini sama sekali tidak rumit. Maria dan Yusuf adalah pasangan yang sangat biasa, satu dari antara ratusan pasangan lain yang membanjiri Betlehem. Kalau toh tidak ada tempat lagi di penginapan, tidak apa-apa. Palungan pun bisa dipakai. Tidak masalah! Tidak ada tuntutan apapun, tidak pakai adu mulut, tidak usah cemberut dan marah-marah. Kelahiran yang begitu 'biasa' itu tidak mengubah apa-apa di Betlehem. Hanya di surga yang gegap gempita. Bala tentara surga memuji-muji Allah. Ia datang dan menjadi manusia, bayi manusia yang sangat biasa, tapi penuh dengan cinta.

Tidak adanya protes, kemarahan, maupun tuntutan di sekitar peristiwa kelahiran Yesus ini menjadi pertanda yang sungguh luar biasa. Kalau Allah mau menyelamatkan manusia, Ia mulai dengan 'cara' yang benar-benar tidak melukai siapapun. Ia datang dengan gerakan yang sangat aman, yang tidak mengganggu siapapun, bahkan cenderung diabaikan orang karena begitu 'lunak' terhadap dunia. Ia menunjukkan bahwa cinta-Nya pada dunia itu menyembuhkan dan menyelamatkan. Kehadiran bayi Putra Allah ini tanpa kata-kata sama
sekali, dan dari penampilan-Nya saja sudah cukup untuk membawa sukacita.

Apakah penampilan kita membawa sukacita? Apakah perkataan kita yang mengalir dengan lancar itu membawa damai? Apakah isyarat tubuh kita membuat orang lain merasa lega? Apakah raut wajah kita membuat orang merasa aman? Apakah kepribadian yang memancar dari diri kita membuat orang ingin mendekat karena senang? Kalau semuanya ini tidak terjadi lagi, mungkin kini saatnya kita melepaskan satu demi satu kerumitan dan tuntutan yang kita bawa ke mana-mana itu. Malam hari ini kita belajar untuk mengungkapkan cinta dengan cara yang sesederhana mungkin.

Kitab Yesaya, dalam bacaan I, melukiskan bagaimana perang dan pembunuhan hanya akan diselesaikan dengan kehadiran seorang 'anak'. 'Anak' ini disebut dengan luar biasa: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai! 'Anak' ini, Juru Selamat, akan mengembalikan hati kita pada ketulusan seorang bayi, mengoreksi kerumitan kita mengungkapkan cinta, melepaskan kita dari kecurigaan dan maksud-maksud tersembunyi: memanusiakan kita lagi seperti ketika diciptakan di Firdaus, sebagai yang "sungguh amat baik"!

Banyak bukti bahwa kita selama ini terlalu berbelit-belit dalam mengungkapkan cinta. Kita marah-marah itu untuk menunjukkan bahwa kita 'peduli'. Kita curiga terus menerus konon karena kita 'sayang' pada
seseorang. Kita menekan dan menuntut orang terlalu berlebihan karena "semua ini toh demi kebaikannya sendiri". Kita sengaja membuat orang berhutang budi kepada kita supaya kelihatan 'setia'. Bagaimana mungkin? Rumit sekali! Hal-hal yang simpel dan spontan diberi alasan filosofis dan harus melalui prosedur tertentu yang konon adalah cara orang 'dewasa'.

Peristiwa Natal ini tidak boleh membuat siapapun pulang dengan 'capek'. Buang saja alasan dan penjelasan yang panjang-panjang itu. Belajarlah mencintai dengan cara sederhana. Cobalah menyelesaikan pertengkaran dengan mengampuni tanpa banyak pertingsing. Usahakan setiap hari kita mulai dengan mengasihi secara mudah, yang tidak rumit. Belajarlah percaya tanpa banyak kata-kata. Tersenyumlah tapi hanya dengan pandangan mata.

Saat kita, seperti seorang bayi, membiarkan diri kita dicintai, kita menebarkan damai di hati orang lain, menyelesaikan banyak persoalan yang semula terasa sulit terpecahkan. Dunia kita sudah terlalu penuh dengan
penjelasan. Ia perlu sukacita yang sederhana. Selamat Natal!

0 komentar: