Senin, 28 September 2009

Maria Bunda Penolong



Maria Bunda Penolong merupakan sebutan dan devosi umat Katolik kepada Bunda Maria, Bunda Yesus. Dalam Bahasa Latin, devosi kepada Maria Bunda Penolong disebut dengan nama SANCTA MARIA AUXILIUM CHRISTIANORUM. Bahasa Inggris menyebutnya sebagai Mary Help of Christian. Devosi ini dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan nama Maria Bunda Penolong atau juga Maria Pertolongan orang Kristen.

Seruan Maria Bunda Penolong (Auxilium Christianorum) sebenarnya berasal dari abad ke-16. Pada tahun 1576 Bernardino Sirilus, pastor kepala di Loreto, menerbitkan di Macerreta dua litani bagi Bunda Maria, yang kemudian digunakan dan menjadi populer di Loreto. Satu litani isinya sangat berbeda dengan yang kita gunakan sekarang, sementara satu litani lagi yang dikemudian hari menjadi identik dengan litani Loreto, disetujui oleh Klemens VIII pada tahun 1601 dan digunakan di seluruh gereja Katolik, sampai sekarang. Bentuk litani kedua inilah yang di dalamnya dapat ditemukan seruan Maria Bunda Penolong (dalam Puji Syukur diterjemahkan sebagai MARIA PERTOLONGAN ORANG KRISTEN).

Mengapa litani dan seruan Maria Bunda Penolong menjadi sangat populer di Eropa pada abad ke-16? Tradisi gereja Katolik mengatakan bahwa para tentara Katolik yang pulang dari perang di Lepanto (sekarang salah satu wilayah Yunani) (7 Oktober 1571) menyempatkan diri untuk mengunjungi dan berdoa kepada Bunda Maria di Basilika di Loreto, dan mengumandangkan untuk pertama kalinya seruan Maria Bunda Penolong ini. Seruan ini sebenarnya merupakan variasi dari seruan atau litani lama PEMBELA ORANG KRISTEN (Advocata Christianorum) yang sudah ada dalam litani Bunda Maria sejak tahun 1524. Torsellini (1597) dan Brevir Roma (24 Mei, Lampiran) menyebut bahwa Pius V memasukan seruan Maria Bunda Penolong ini dalam litani Loreto setelah perang di Lepanto.

Orang Katolik, terutama tentara Katolik yang berperang melawan tentara Islam (Turki) di Lepanto pada waktu itu sangat percaya, bahwa kemenangan yang mereka peroleh adalah berkat pertolongan Maria Bunda Penolong. Sejarah mengisahkan, bahwa perang antara tentara Katolik dan Islam di Lepanto bukanlah perang yang ringan dan mudah. Perang itu sendiri meletus pada tanggal 7 Oktober 1571, hari di mana orang Katolik sendiri merayakan pesat Rosario Maria. Pada waktu itu Konstantinopel sudah dikuasai oleh orang Islam sejak tahun 1453, dan setelah itu praktis seluruh daerah di Eropa Timur berada di bawah kekuasaan Islam. Tinggal yang belum dikuasai adalah Eropa Barat. Maka, tentara Islam Turki bergerak ke Barat bermaksud menyerang dan menguasai Eropa Barat. Tentara Islam Turki mengoperasikan 245 kapal perang dan sekitar 88 ribu tentara di bawah komando Ali Pasha, memasuki Teluk Patras, sekitar 50 kilometer dari Lepanto (Yunani). Di sana mereka di hadang oleh 205 kapal perang dan sekitar 84 ribu tentara Katolik di bawah komando Don John dari Austria. Perang sengit terjadi. Ali Pasha sendiri terbunuh bersama sekitar 30 ribu tentara Islam Turki dan mereka bisa diusir dari Eropa Barat

Ketika perang ini akan dan sedang berkecamuk, Paus Pius V menyeruhkan kepada seluruh umat Katolik untuk berdoa dan berdevosi kepada Maria Bunda Penolong. Umat Katolik menanggapi seruan Paus ini dan berdoa tidak henti-hentinya kepada Maria Bunda Penolong, semoga Bunda Maria sendiri ikut campur tangan dengan menolong tentara Katolik yang sedang berperang di Lepanto. Maka, ketika perang berakhir dengan kemenangan di pihak tentara Katolik, kemenangan ini dipahami sebagai kemenangan karena bantuan Bunda Maria. Doa dan devosi kepada Maria Bunda Penolong sungguh-sungguh membuahkan hasil.

Pesta peringatan kepada Maria Bunda Penolong sendiri ditetapkan pertama kali oleh Paus Pius VII yang jatuh pada tanggal 24 Mei setiap bulan. Diceritakan bahwa Napoleon Bonaparte memerintahkan tentaranya untuk menangkap dan menawan Pius VII pada tanggal 5 Juli 1808 dan menjadi tawanan Napoleon di Savona selama tiga tahun, yang kemudian dilanjutkan di Fontainebleau. Pada bulan Januari 1814, setelah perang di Leipzig, Pius VII dibawa kembali ke Savona dan kemudian dibebaskan oada tanggal 17 Maret 1814, malam sebelum pesta Bunda Maria Berbelaskasihan, pelindung kota Savona. Perjalanan Paus Pius VII kembali ke Roma setelah itu merupakan pawai kemenangan. Sri Paus sendiri mengucap syukur dan berterima kasih kepada Bunda Maria yang sudah mendampingi Gereja Putra-Nya selama masa penganiayaan. Dalam perjalanan pulang ke Roma itu Paus Pius VII dan rombongannya singgah dan berdoa di banyak gereja dan basilika Bunda Maria dan mempersembahkan bunga-bunga kepada Bunda Maria. Sepanjang perjalanan itu pula ribuan umat Katolik mengeluh-eluhkan Pius VII karena telah bebas dari ancaman Napoleon.

Sri Paus Pius VII memasuki kota Roma pada tanggal 24 Mei 1814 dan disambut secara sangat meriah oleh umat Katolik di Roma. Untuk mengenang seluruh penderitaannya selama penganiayaan dan pengasingan dan seluruh penderitaan Gereja, Pius VII memperluas pesta Tujuh Kedukaan Maria yang jatuh pada minggu ketiga bulan September untuk dirayakan di seluruh Gereja Katolik pada tanggal 18 September 1814. Ketika Napoleon meninggalkan Elba dan kembali ke Prancis, Yoakim Murat, salah satu jenderal Napoleon yang berkuasa di Napoli bersiap-siap melakukan pawai unjuk kekuatan melewati negara yang dikuasai Paus Pius VII, berangkat dari Napoli. Pius VII sendiri segera meninggalkan Roma dan kembali ke Savona (Prancis), di mana di sana dia mentahtakan patung Maria Bunda Berduka pada tanggal 10 Mei 1815.

Setelah kongres Wina dan perang Waterloo, Pius VII kembali lagi ke Roma pada tanggal 7 Juli 1815. Untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Allah dan Bunda Maria, Sri Paus Pius VII pada tanggal 15 September 1815 menetapkan pesta Maria Bunda Penolong untuk dirayakan di seluruh negara kepausan pada tanggal 24 Mei.

Devosi dan pesta Maria Bunda Penolong setiap tanggal 24 Mei dihidupkan dan disebarluaskan ke seluruh dunia oleh St. Yohanes Bosco dan para pengikutnya (imam-imam dan suster-suster Salesian). Dalam hidupnya, Don Bosco sendiri mengalami penampakan Bunda Maria kepada dirinya pada tahun 1844. Pada waktu itu Bunda Maria meminta Don Bosco membangun gereja dan mendedikasikan gereja itu kepada Maria Bunda Penolong. Dalam penampakan itu Bunda Maria menunjukkan kepada Don Bosco seluruh penderitaan yang akan dialami gereja karena penganiayaan dan kebencian. Bunda Maria mengatakan kepada Don Bosco bahwa gereja hanya bisa ditolong jika seluruh umat berdoa 3 kali salam Maria setiap hari diselingi dengan seruan Maria Bunda Penolong seusai mengucapkan satu kali Salam Maria.

Don Bosco mengikuti seluruh perintah Bunda Maria itu. Dia segera mencari dana dan membangun sebuah basilika besar di Turin yang didedikasikan kepada Maria Bunda Penolong. Basilika ini selesai dibangun pada tanggal 9 Juni 1868 dan menjadi pusat devosi kepada Maria Bunda Penolong bagi umat Katolik sedunia.

RELEVANSI

Wilayah yang baru dibentuk ini diberi nama Wilayah MARIA BUNDA PENOLONG. Nama ini sangat tepat, karena devosi kepada Maria Bunda Penolong biasanya dipraktikkan umat Katolik ketika sedang berada dalam kesusahan dan ancaman,terutama dari kelompok agama lain. Seperti Bunda Maria menunjukkan dirinya sebagai seorang IBU yang MENOLONG anak-anaknya ketika berperang melawan tentara Islam, Bunda Maria saat ini juga akan terus menjadi IBU yang siap MENOLONG kita anak-anaknya.

Maria Bunda Penolong dewasa ini menjadi pelindung ribuan gereja dan negara. Gereja Cina dan Australia, misalnya, menggunakan nama Maria Bunda Penolong sebagai pelindung mereka. Sementara di negara-negara Eropa, Amerika Latin, Asia, Afrika, dan Australia, devosi kepada Maria Bunda Penolong tidak hanya populer, tetapi juga sangat membantu.

Pada akhirnya, marilah kita semua mengikuti anjuran devosi kepada Maria Bunda Penolong yang dikataka Don Bosco. Kita diminta untuk menyampaikan intensi kita kepada Bunda Maria, lalu mendoakan 1 kali Bapa Kami dan 3 kali Salam Maria. Di akhir setiap Salam Maria kita mengucapkan: Maria Bunda Penolong, Doakanlah kami. Inilah doa dan devosi sederhana kita kepada Maria Bunda Penolong.

Ditulis oleh Jeremias Jena,
Umat Wilayah Maria Bunda Penolong (8 Mei 2009)

Tidak ada komentar: