Minggu, 21 Oktober 2007

TAKUT AKAN KEMATIAN

Kebudayaan modern semakin hari terus mengekspos kematian lebih dari zaman sebelumnya. Kematian seakan berada di depan pintu kita dan siap menjemput kita kapan saja. Masyarakat Barat, misalnya, semakin menyadari hal ini pasca aksi terorisme atas menara kembar World Trade Center (WTC) yang menewaskan ribuan manusia tak berdosa. Sementara itu, keterlibatan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dalam “perang melawan terorisme” di beberapa negara ikut mempertegas persepsi semacam ini.

Dalam masyarakat kita pun demikian. Berita kejahatan yang disertai aksi brutal dan pembunuhan terus menghiasi layar kaca dan halaman-halaman media massa kita. Media massa menyajikan berita kriminalitas dan kematian dengan sangat rinci plus gambar-gambar yang sangat vulgar sehingga kita seakan-akan tidak saja berhadapan dengan fakta kematian, tetapi juga mencium baunya.

Beragam reaksi bisa muncul menanggapi kenyataan ini. Meskipun demikian, satu hal jelas merupakan reaksi yang khas manusia, bahwa manusia dipenuhi dengan perasaan takut, cemas, dan gelisah menghadapi kematiannya. Mengapa muncul perasaan-perasaan semacam ini? Paling kurang ada empat alasan yang bisa dideteksi. Pertama, kekhawatiran akan sesuatu yang ada di luar kendali manusia. Manusia ingin selalu menguasai dan mengendalikan banyak hal, karena itulah wujud nyata kekuasaan. Manusia sebenarnya sadar bahwa dia tidak perlu cemas dan takut, karena segala hal tidak mungkin bisa diatur dan dikendalikannya. Tetapi terhadap kematian, manusia sungguh merasa takut dan cemas bukan saja karena fakta itu berada di luar kendali dan kekuasaanya, tetapi juga karena kematian memosisikan diri sebagai sebuah faktum yang mampu mendikte dan mengendalikan manusia itu sendiri.

Kedua, manusia takut dan mencemaskan kematiannya bukan karena fakta kematian itu sendiri, tetapi karena ketakutan dan kecemasan akan segala sesuatu yang ditinggalkan. Seseorang merasa takut dan mencemaskan kematiannya karena anak-anak masih kecil, keluarga yang ditinggalkan tidak akan sanggup menerima kenyataan kematian, utang belum lunas, dan sebagainya.

Ketiga, manusia takut dan mencemaskan kematiannya ketika dia merasa dirinya belum berhasil menuntaskan segala hal atau proyek yang ingin dikerjakannya. Bisnis yang baru mulai berkembang, karir politik yang sedang menanjak, jenjang karir yang akan dilalui, peluang promosi jabatan, kesempatan meraih keuntungan finansial yang lebih besar, dan sebagainya.

Keempat, manusia takut dan mencemaskan kematiannya karena ketidaktahuan akan proses kematian seperti apa yang akan dilaluinya. Apakah seseorang akan mati karena penyakit, mati karena lanjut usia, atau mati karena kecelakaan selalu di luar berada di luar kendali manusia.
***
Ketakutan dan kecemasan akan kematian dapat menjadi sangat kuat dan menakutkan pada level di mana orang menolak untuk bepergian dengan pesawat terbang, kapal laut, atau lebih ekstrem lagi adalah menutup diri dari pergaulan dengan orang lain. Kalau diperhatikan, ada banyak sekali cara yang dipakai manusia untuk mengatasi rasa cemas dan takut akan kematiannya. Orang berkonsultasi ke para psikolog yang lantaran memberi nasihat-nasihat yang bagus bagaimana mengatasi rasa cemas dan takut akan kematian. Misalnya, manusia harus mengikutsertakan fakta kematian sebagai bagian integral dari eksistensinya, jangan menyangkal hakikat, selalu mengkontemplasikan kematian diri, selalu berusaha mengisi kehidupan dengan hal-hal yang bermanfaat dan menikmatinya, dan seterusnya. Tetapi apakah nasihat-nasihat semacam ini mampu mengatasi rasa takut dan cemas manusia?
Nasihat-nasihat psikologi, filsafat atau ilmu apapun tidak akan sanggup menenangkan diri yang sedang takut akan kematiannya. Lalu, di manakah kita harus mencari dan menemukan pembebasan dari rasa cemas dan takut akan kematian? Iman kekatolikan kita yang sangat kaya mengajarkan bahwa rasa takut dan cemas akan kematian hanya bisa diatasi melalui refleksi dan pengalaman akan hidup, wafat,dan kebangkitan Tuhan Yesus sendiri.
Harus diakui, keempat ketakutan dan kecemasan akan kematian di atas sungguh-sungguh khas perasaan ketakutan dari orang-orang yang tidak beriman. Orang Yahudi takut akan dunia orang mati (Sheol) karena mereka tidak tahu ke mana jiwa akan pergi setelah kematian. Ternyata kita tidak lebih baik dari mereka. Kita merasa takut akan kematian sebagai fakta yang tidak bisa dikendalikan, karena kita takut akan ketidakpastian, cemas akan hal-hal yang masih berstatus kemungkinan, dan sebagainya. Janji Tuhan Yesus bahwa “Di rumah BapaKu ada banyak tempat tinggal ... supaya di tempat di mana Aku berada kamu pun berada” (Yoh. 14: 2-3) seakan-akan tidak mujarab menghapus rasa cemas, takut, dan gelisah menghadapi kematian.
Dalam perspektif pemikiran St. Paulus, kecemasan, ketakutan dan kegelisahan akan kematian jelas menunjukkan betapa kuasa dosa masih begitu melekat dalam diri manusia. Rasul Paulus mengingatkan kita, bahwa keengganan untuk meninggalkan segala sesuatu yang fana adalah tanda bahwa “manusia lama kita belum ikut disalibkan, sehingga tubuh masih terus menghamba pada dosa (bdk Rom 6:6). Dalam keadaan demikian, kecemasan dan ketakutan akan kematian hanya akan menjadi tanda bahwa manusia masih menjadi hamba dosa dan belum hamba kebenaran (lihat Rom 6: 1-23
Kecemasan dan ketakutan akan kematian seharusnya tidak menguasai hidup kita apabila kita sungguh-sungguh percaya pada janji Yesus, bahwa di rumah Bapa memang ada banyak tempat, dan salah satunya telah “dikapling” Yesus untuk masing-masing kita (Bdk Yoh 14: 1-14). Untuk itu, Tuhan Yesus adalah jaminannya, bahwa apa yang dijanjikanNya akan ditepatiNya pada hari kematian kita. Meskipun demikian, kita tidak akan secara otomatis menerima anugerah persatuan dengan Bapa di surga jika kita belum memenuhi satu syarat yang diminta Tuhan Yesus. Syarat itu adalah bahwa kita benar-benar memegang perintah-perintahNya dan tekun melaksanakannya dalam hidup sehari-hari (Bdk Yoh 14: 21). Hanya dengan demikian, kita akan sanggup menyongsong kematian kita sebagai momen kebebasan dari alam maut (Sheol) menuju kebangkitan dan kehidupan kekal.

Tidak ada komentar: