Sabtu, 30 Juli 2016

Pater Jacques Hamel: Seorang Gembala Sederhana dan Setia Sampai Akhir Hayat



Pater Jacques Hamel.
Trias Kuncahyono dalam tulisannya di Kolom Kredensial di Harian Kompas, 31 Juli 2016 (hlm. 4) menyitir hal yang sederhana dan menarik. Menyimak pembunuhan terhadap Pater Hamel oleh dua laki-laki yang menyebut diri anggota ISIS, kita – utamanya orang Katolik – langsung teringat pada kisah kemartiran Oscar Romero, Uskup Agung San Salvador yang ditembak mati penembak jitu pendukung pemerintah pada tanggal 24 Maret 1980. 

Menurut Trias, paralelisme ini tidaklah tepat jika merujuk ke semangat kegembalaan yang dipikul kedua hamba Kristus ini. Uskup Romero adalah penentang rezim otoriter El Salvador yang secara terang-terangan terus mengkritik praktik pemerintahan yang lalim dan menindas rakyat. Sementara Pater Hamel adalah seorang imam yang hampir tidak dikenal publik, misalnya karena kritik atau perlawanannya terhadap kelaliman dan ketidakadilan pemerintah. Mungkin juga karena lingkungan kegembalaan mereka  yang berbeda. Uskup Oscar menggembalakan umatnya dalam situasi sosial politik yang jauh dari keadilan, sementara Pater Hamel hidup dalam komunitas lokal di Paroki St √Čtienne-du-Rouvray, dekat Rouen  di Normandi, Prancis Utara, yang nota bene damai dan sejahtera.
 
Poin Trias, kematian Pater Hamel dan kematian-kematian lainnya di tangan para teroris adalah upaya dramatisasi kematian untuk meningkatkan rasa takut dan kegentaran masyarakat. Dengan begitu, para teroris bermaksud menguasai keadaan. Saya tidak tertarik untuk mendiskusikan hal ini, yang juga memang menarik untuk diwacanakan. Saya ingin mendeskripsikan kehidupan Pater Hamel yang sederhana itu sebagai cara untuk memperteguh keyakinan umat beragama, bahwa kemartiran memang bagian integral dari panggilan menjadi murid Kristus.

Pater Hamel dikenal sebagai seorang gembala umat yang sederhana, rendah hati, yang selalu siap melayani umatnya. Meskipun sudah pension 10 tahun lalu (pensiun pada usia 75 tahun), uskup memintanya untuk tetap tinggal di paroki dan membantu umat sejauh dia bisa. Inilah yang menimbulkan kesan mendalam dalam diri umatnya, bahwa Pater Hamel selalu menyediakan dirinya untuk membantu umatnya.

Suasana Mencekam dalam Gereja

Demikianlah, pagi itu, Selasa, 26 Juli 2016, sekitar pukul 09:45, dua pemuda memasuki gereja St √Čtienne-du-Rouvray. Dua pemuda bernama Abdel Malik Petitjen dan Adel Kermiche menyelinap memasuki gereja Katolik itu selama misa kudus berlangsung. Sebelum menggorok leher imam tua berusia 85 tahun itu, mereka terlebih dahulu menyandera beberapa orang, dan melukai beberapa orang lainnya.

Abdel Malik Petitjen, salah seorang jihadis pembunuh Pater Hamel.
Adel Kermiche, pelaku pembunuhan keji di Gereja St. Etienne.
Menyadari suasana mencekam, seorang biarawati berhasil keluar dari gereja dan menghubungi polisi, sementara dua rekan suster itu, Suster Huguette dan Suster Helena Decaux, berusia 80-an tahun, masih ada dalam gereja. Apa yang disaksikan oleh kedua biarawati tua di dalam gereja sungguh mencekam. Suster Helena mengatakan bahwa dia merasa lelah dan meminta para penyandera supaya diizinkan duduk. Mereka kemudian mengizinkan dia duduk. Suster Helena juga meminta tongkat jalan (walking stick) yang dipegang salah seorang pemuda itu, dan pemuda itu pun memberikan kepadanya.

Tetapi setelah itu, kedua penyerang itu mulai percakapan mengenai agama dan bertanya kepada kedua suster itu, apakah mereka pernah membaca Alquran. Suster Helena pun menjawab, “Ya, saya menghormatinya [Alquran] sama seperti saya menghormati Injil, saya sudah membacanya dan membaca beberapa surah. Dan yang paling menarik hati saya adalah surah mengenai damai.”

“Perdamaian, itulah yang kami inginkan,” seorang penyerang menjawab. “Selama masih ada bom di Syria, kami akan meneruskan penyerangan kami. Dan itu akan terjadi setiap hari. Kalau kalian sudah menghentikannya, kami juga akan berhenti.”

“Apakah Anda takut mati?” seorang penyerang bertanya lagi.
Suster Helena pun menjawab, “tidak!” Pemuda itu pun langsung melanjutkan pertanyaannya, “Mengapa?”

“Saya percaya pada Allah, dan saya tahu saya akan berbahagia,” jawab Suster Helena sambil berdoa dalam hati bagi keselamatan jiwanya sendiri.

Berselang kemudian, percakapan dilanjutkan mengenai Allah. Salah satu jihadis berkata, “Yesus tidak bisa menjadi Allah dan seorang manusia. Kesalahan ada pada kamu [yang memahami Yesus demikian].”

“Mungkin, tetapi itu terlalu buruk,” jawab Suster Huguette. Sebagaimana pengakuannya ke La Vie, Suster Huguette sebenarnya sudah menyiapkan batinnya sendiri untuk menyongsong kematiannya.  “Menyadari saya akan segera mati, saya mempersembahkan diri kepada Allah,” aku Suster Huguette.

Tetapi kedua jihadi situ tidak membunuh kedua suster tua tersebut dan pasangan suami istri lansia yang juga hadir dalam misa pagi itu. Kedua jihadis tersebut justru bergerak ke altar suci dan menggorok leher Pater Hamel sampai tewas. Dan ketika polisi tiba di lokasi, kedua jihadis pun dilumpuhkan dan tewas tertembak.

Kebaikan Hati Pater Hamel

Kembali ke Pater Hamel, dia adalah seorang imam lansia yang tinggal dan membantu di Paroki di St √Čtienne-du-Rouvray, dekat Rouen, Prancis Utara. Pagi itu, seharusnya Pater Auguste Moanda-Phuati, Pastor Paroki yang memimpin misa, tetapi karena ada kesibukan lain sehingga digantikan Pater Hamel.
Leher imam lansia itu pun akhirnya digorok dengan sebilah pisau, sementara dua suster dan dua umat lainnya disandera. Tiga sandera dibebaskan sementara seorang dalam keadaan kritis.

Pater Hamel dilahirkan pada tanggal 30 November 1930 di Darnetal, Perancis. Dia ditahbiskan sebagai imam Katollik pada tanggal 30 Juni 1958 dan melayani sebagai Pastor Vikar di Gereja St. Antoine di Le Petit-Quevilly pada tahun 1958, menjadi Vikar di Gereja Notre-Dame de Lourdes di Sotteville-les-Rouen pada tahun 1967, sebagai pastor paroki Saint-Pierre-kes-Elbeuf di tahun 1975, dan imam paroki di Cleon pada tahun 1988. Dia bergabung dengan gereja Paroki Saint-Etienne-du-Douvray pada tahun 2000. Karena telah pensiun di usia 75 tahun, dia tetap tinggal di paroki itu dan melayani sebagai imam rekan. Dia merayakan 50 tahun imamatnya pada tahun 2008. Bersama Mohammed Karabila, Ketua Umat Islam di wilayah Normandi, Pater Hamel juga tergabung dan aktif dalam komite interfidei.

Kepribadian gembala yang satu ini memperlihatkan sifat seorang gembala sesungguhnya. Umat Paroki pun memberikan kesaksian beragam. Seorang umat paroki bersaksi, “Keluarga saya sudah tinggal di sini 35 tahun dan kami selalu mengenal dia.”

Seorang umat paroki lainnya juga bersaksi, “Pater Hamel adalah orang yang sangat bijaksana. Saya sudah mengenalnya sejak muda. Saya menghadiri kelas ketekese di mana dia menjadi pengajarnya. Dia tidak suka menonjolkan diri. Dia sangat dihargai oleh komunitas lokal di sini.”

Warga paroki lainnya juga bersaksi, katanya, “Pater Hamel adalah orang yang melakukan karyanya sampai akhir hayatnya. Dia memang tua, tetapi selalu bersedia melayani siapa saja. Dia seorang imam yang baik. Dia sudah melayani di sini lama sekali, dan banyak umat mengenalnya dengan baik.”

Moanda-Phuati, Pastor Paroki yang seharusnya memimpin misa pagi itu, mengatakan kepada harian Liberation peristiwa mengejutkan ini. “Saya nyaris tidak bisa membayangkan kejadian seperti ini. Kami tidak pernah menerima ancaman dan terror sebelumnya.” Sementara Vatican mengutuk pembunuhan dalam gereja semacam ini sebagai tindakan pembunuhan barbaric, kekerasan mengerikan yang seharusnya tidak terjadi dalam gereja selaku tempat suci untuk memuji dan memuliakan Allah.

Dominique Lebrun, Uskup Agung Rouen, sedang berada Krakow menghadiri World Youth Day di mana Paus Fransiskus juga akan hadir. Karena tragedy ini, dia memilih kembali ke Rouen hari Selasa malam. Sebelum meninggalkan Krakow, Uskup Lebrun berkata, “Gereja Katolik tidak memiliki senjata lain selain doa dan persadaraan antarmanusia. Saya meninggalkan ribuan orang muda di sini yang adalah masa depan kemanusiaan, kemanusiaan sejati. Saya meminta mereka untuk tidak menyerah di hadapan wajah kekerasan dan kebengisan dan terus menjadi rasul peradaban cinta.”

Sejak hari Selasa itu juga tagar #santosubito menjadi trending topik di Twitter ketika ribuan orang menyerukan agar Pater Hamel digelar sebagai orang kudus, termasuk seruan dari Roberto Maroni, Presiden Lombardy, Italia, yang menyerukan Paus Fransiskus memberi gelar Pater Hamel sebagai Santo Jacques.

Sumber:

Pater Jacques Hamel Dibunuh Ketika Sedang Merayakan Misa



Gereja Saint-Etienne-du-Rouvray, Rouen. tempat di mana Pater Jacques Hamel dibunuh.

Terbunuhnya Pater Jacques Hamel oleh pemuda yang mengklaim dirinya sebagai militant ISIS sesungguhnya sedang menantang Paus Fransiskus, para pemimpin gereja Katolik dan eksistensi Gereja Katolik itu sendiri, demikian dilaporkan The Guardian edisi 26 Juli 2016 (edisi online, akses https://www.theguardian.com/world/2016/jul/26/jacques-hamel-killing-challenge-pope-francis-catholic-church).

Setiap tahun Agenzia Fides Vatican yang menelisik karya para misionaris Katolik di seluruh dunia, menerbitkan daftar berisi berapa banyak misionaris yang telah terbunuh ketika sedang melakukan karya misi pelayanan gereja (lihat http://www.fides.org/en/news/59135#.V5yxMHpPLH2). Dilaporkan bahwa tahun lalu saja terdapat 13 imam yang dibunuh, umumnya pembunuhan disertai tindakan brutal dan perampokan, dan hamper 400 pekerja yang berafiliasi dengan Gereja Katolik telah terbunuh sejak tahun 2000.
Meskipun pembunuhan terhadap para imam, biarawan/wati dan pekerja Gereja sudah menjadi bagian hakiki dari misi Gereja mewartakan kabar gembira kepada seluruh bangsa, pembunuhan keji terhadap Pater Hamel memberikan tantangan tersendiri kepada Paus Fransiskus dan para pemimpin gereja lainnya.

Jelas sekali bahwa target pembunuhan di Gereja Katolik di Normandy itu menimbulkan keprihatinan mendalam dari tahkta suci atas penganiayaan yang dilakukan orang-orang biadab atas para pekerja Gereja. Tahun lalu, Sri Paus menyebut penganiayaan dan pembunuhan terhadap orang Katolik di wilayah Timur Tengah sebagai “bentuk genosida”, dan mengutuk pada teroris yang mengatasnamakan agama dalam “memprofankan nama Allah dan menggunakannya untuk membenarkan tindakan kekerasan mereka.” Di saat bersamaan, tampaknya Paus Fransiskus sendiri kesulitan berhadapan dengan kelompok konservatif dalam Gereja Katolik yang mendesak Beliau untuk mengutuk aksi keji tersebut secara lebih tegas lagi. Kelompok ini bahkan mempertanyakan sikap Fransiskus yang terus saja menegaskan bahwa Islam adalah agama yang damai.

Pater Jacques Hamel, imam bersahaja yang menjadi korban aksi brutal ketika sedang merayakan misa.
Para pengamat Vatikan mencatat pernyataan resmi Vatikan melalui Juru Bicara Tahkta Suci, Pastor Federico Lombardi, hari Kamis, 28 Juli 2016, yang mengutuk tindakan brutal pembunuhan terhadap Pater Hamel itu sebagai tindakan yang “absurd”. Tampaknya terminology yang kurang lebih sama juga digunakan oleh Gereja Katolik ketika bereaksi terhadap pembunuhan massal di Nice, sebagai “tak berperikemanusiaan”, dan juga pembunuhan empat biarawati di Yaman oleh ISIS sebagai “tindakan setan”.

Para pengamat Vatikan berpendapat bahwa penggunaan kata “absurd” dalam mengutuk tindakan brutal pembunuhan atas Pater Hamel sebagai tidak bermakna, karena seluruh tindakan kekerasan memang absurd. Selalu sulit untuk memahami tindakan kekerasan yang dilatarbelakangi alasan agama,dan kesulitannya terletak pada agamanya sendiri atau ideologinya, atau jangan-jangan ada sesuatu yang lebih tidak rasional di belakangnya. Tetapi menurut Austen Ivereigh, penulis biografi Fransiskus, sri paus sendiri sebenarnya mengatakan hal yang lebih keras di balik kata-kata yang dia ungkapkan ke media.
Ivereigh berharap agar Fransiskus menyampaikan keprihatinannya akan kekerasan yang menimpa Gereja Katolik ketika mengunjung Polandia minggu ini, ketika dia juga akan mengunjungi Auschwitz. “Kit sekarang sedang memasuki era kekerasan sporadik di jantung negara-negara dan saya rasa ini akan menyodorkan tantangan tersendiri kepada setiap orang – termasuk Gereja Katolik dan institusi-institusinya,” demikian Ivereigh.
Sampai sekarang kekerasan terhadap para klerus yang dilakukan para jihadis memang terbatas hanya di daerah-daerah konflik. Di bulan Maret tahun ini, ketika ISIS membunuh empat suster di Yaman dan dua belas orang lainnya, militant juga menculik Pater Tom Uzhunnalil, yang sampai sekarang belum diketahui nasibnya. Seorang lagi imam berkebangsaan Italia, Pater Paolo Dall’Oglio juga diculik oleh ISIS di Siria tahun 2013.

Itu artinya, penyerangan dan pembunuhan orang-orang Gereja Katolik di Prancis, negara yang tidak sedang dalam keadaan konflik dan perang, menegaskan bahwa Gereja Katolik dan para imamnya sedang menjadi target kaum ekstrimis. Ini bukan kali pertama para teroris berusaha menyerang Gereja di Prancis. Di tahun 2015, polisi menemukan seorang jihadi kelahiran Aljazair menyiapkan penyerangan terhadap dua gereja di Villejuif, sebuah wilayah pinggiran di sebelah Selatan Paris.

“Meskipun detailnya masih sangat cair dan belum terlalu jelas, dibaca dari gambar yang lebih besar, penyerangan di Normandy memperlihatkan bahwa para militas Islam sedang menjadikan Gereja Katolik sebagai target, hal yang sebetulnya bukan baru,” demikian John Allen, ahli mengenai Vatikan dan editor situs berita Katolik, Crux.

Meskipun masih diperdebatkan apakah pembunuhan di Prancis itu harus dipahami secara berbeda dengan berbagai aksi kekerasan terhadap Gereja Katolik di SIria dan Irak, Allen mengatakan bahwa tindakan itu sendiri memberikan tekanan kepada Gereja Katolik untuk mengmbil sikap yang lebih keras dalam melindungi para imamnya. Paus Fransiskus sendiri pernah mengatakan bahwa sekarang lebih banyak martir dalam Gereja daripada pada masa awal Gereja.

“Ketika Anda menyaksikan para korban Kristiani karena aksi terror, kamu akan melihat sendiri anggota gereja yang lebih militant yang tertarik pada aksi balas dendam militer yang lebih agresif,” demikian Allen.
Sekarang ada beberapa langkah yang dapat diambil Gereja Katolik dalam meminimalisir risiko yang dihadapi para imam, biarawan, biarawati dan para pekerja Gereja yang karena pekerjaan-pekerjaan mereka telah membuat mereka dikenal secara publik. “Fakta sederhananya adalah bahwa mereka adalah orang-orang yang rentan, dan saya tidak yakin bahwa akan ada suatu tindakan untuk melindungi mereka,” demikian Ivereigh. “Adalah hal yang tragis tetapi tidak dapat dielak bahwa para imam akan dibunuh, kadang-kadang, oleh orang-orang yang merasa terusik, dan ini telah disadari para imam, dan mereka menerimanya.”

Selasa, 02 Februari 2016

“KERAHIMAN ALLAH MEMERDEKAKAN”




SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2016 (Disampaikan sebagai pengganti khotbah, pada Misa Sabtu/Minggu, 6/7 Februari 2016)

Para Ibu dan Bapak, Suster, Bruder, Frater, Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,

Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat menyambut Tahun Baru Imlek yang akan jatuh pada hari Senin, 8 Februari 2016 yang akan datang, kepada Ibu/Bapak, Saudari/saudara yang merayakannya. Kita semua tahu, Tahun Baru Imlek pada mulanya berkaitan dengan syukur para petani atas datangnya musim semi, musim yang menjadi lambang munculnya kehidupan baru setelah musim dingin yang beku. Kalau pun tidak semua kita merayakannya, bolehlah kita semua ikut masuk ke dalam suasana sukacita dan syukur atas berseminya kehidupan baru dan harapan baru.
Sementara itu bersama dengan seluruh Gereja, pada hari Rabu 10 Februari 2016 yang akan datang, kita akan memasuki masa Prapaskah. Kita semua tahu bahwa  Prapaskah adalah masa penuh rahmat. Selama masa Prapaskah ini kita diajak untuk bersama-sama, secara khusus, mengolah pengalaman-pengalaman dan mengusahakan pembaharuan hidup agar dapat semakin mantab dan setia mengikuti Yesus Kristus masuk ke dalam sengsara dan wafat-Nya dan selanjutnya ikut bangkit bersama Dia.

Masa Prapaskah tahun ini terasa istimewa karena kita jalani dalam Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah. Untuk kepentingan masa Prapaskah tahun ini, oleh Dewan Karya Pastoral sudah disediakan berbagai sarana pendalaman iman dengan tema “Kerahiman Allah Yang Memerdekakan”. Semoga bahan-bahan yang sudah disediakan ini, dapat membantu seluruh umat untuk membuat masa Prapaskah semakin bermakna dan berbuah. Selain itu panduan gerakan rohani Keuskupan Agung Jakarta dalam rangka menyambut Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah juga dapat sangat membantu membuat masa Prapaskah ini menjadi masa yang penuh rahmat.
Saudari/saudaraku yang terkasih,

Untuk memperdalam renungan kita mengenai tema masa Prapaska ini, saya tawarkan butir-butir gagasan yang dapat kita gali dari sabda Tuhan yang dibacakan pada hari ini.

3.1. Kisah panggilan Simon yang dibacakan pada hari ini (Luk 5:1-11) memberikan kepada kita contoh bagaimana kita dapat mengalami kerahiman Allah yang menjadikan kita pribadi-pribadi yang merdeka. Kisah ini sendiri merupakan ringkasan atau bahkan kesimpulan dari kisah panjang hidup Simon yang diceritakan sepanjang Injil Lukas. Pelan-pelan, tahap demi tahap Simon dibimbing untuk melepaskan diri dari cara berpikirnya sendiri yang membelenggu dan akhirnya dibawa masuk ke dalam pengalaman akan kerahiman Allah. Pengalaman ini menjadikannya pribadi yang baru, yang tercermin dalam perubahan nama : dari Simon (ay 3.4) menjadi Simon Petrus (ay 8).

Kerahiman itu tercermin dalam diri Yesus Tuhan yang mengatakan kepadanya, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” (ay 4). Kata-kata itu diucapkan setelah Simon merasa sangat lelah dan kecewa karena sepanjang malam dia dan teman-temannya bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa. Kerahiman itu juga jelas ketika Yesus Tuhan berkata kepadanya, “Jangan takut mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia”. Kata-kata ini diucapkan oleh Yesus ketika Simon Petrus merasa dirinya tidak pantas berada di hadapan Tuhan karena dirinya adalah orang berdosa.

Dalam kisah lain yang menceritakan pertobatan Petrus, kerahiman Tuhan itu dialami oleh Petrus, ketika “Tuhan berpaling dan memandang Petrus” (bdk Luk 22:61) – ungkapan pengalaman yang tidak dapat dijelaskan, hanya dapat dikontemplasikan dalam doa yang hening. Dengan pengalaman itu tanggal-lah semua dari masa lampau yang membelenggu dan membebaninya. Sejak saat itu Simon Petrus menjadi pribadi yang lepas bebas dan merdeka.
Bukan lepas bebas dari tanggungjawab, melainkan merdeka untuk “meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikuti Yesus” (Luk 5:11) ke mana pun panggilan akan membawanya.

3.2. Rasul Paulus dan Nabi Yesaya sebagaimana kisahnya kita dengarkan pada hari ini, pada dasarnya mempunyai pengalaman yang serupa. Rasul Paulus menyatakan, “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, dan tak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi berkat kasih karunia Allah aku menjadi sebagaimana aku sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidaklah sia-sia” (1 Kor 15:9-10). Kasih karunia Allah membebaskan Rasul Paulus dari perasaan rendah diri dan hina, menjadikannya pribadi yang merdeka untuk memberitakan kerahiman Allah dalam waktu yang baik maupun tidak baik (bdk 2 Tim 4:2). Demikian juga Nabi Yesaya : berkat pengalaman yang serupa ia menjadi pribadi yang merdeka menerima perutusan Tuhan.

3.3. Pengalaman yang sama ditawarkan kepada kita juga. Dengan bantuan rahmat khusus pada masa Prapaskah ini dan dengan mengusahakan berbagai laku rohani, kita juga akan mengalami pandangan Tuhan Yesus yang adalah wajah kerahiman Allah – “Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Kel 34:6). Pengalaman akan kerahiman Allah ini akan menjadikan kita pribadi-pribadi yang lepas bebas dan merdeka – dalam arti seluas-luasnya.

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Selain belajar dari Sabda Tuhan, kita juga dapat belajar dari pengalaman pribadi Paus Fransiskus yang sejak diangkat menjadi Uskup mempunyai semboyan “miserando atque eligendo”. Semboyan itu berarti “dengan penuh kerahiman Ia memilih aku”. Pengalaman akan kerahiman Allah ini begitu mendalam dirasakan ketika ia berusia tujuh belas tahun. Atas dasar pengalaman itu ia memutuskan untuk hidup mengikuti teladan Santo Ignatius dari Loyola.

Pengalaman akan kerahiman Allah ini pula yang mendorong beliau sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik, untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan di dalam Gereja Katolik, yang kadang-kadang mencengangkan. Misalnya, Paus menyatakan bahwa “Ekaristi, betapa pun dalam dirinya sendiri adalah kepenuhan hidup sakramental, bukanlah suatu hadiah bagi mereka yang sempurna, melainkan obat penuh daya dan santapan bagi yang lemah. Keyakinan ini memiliki konsekuensi pastoral yang perlu disadari dengan bijaksana dan berani” (EG 47). Atas dasar pengalaman yang sama Paus dengan lantang menolak sistem ekonomi yang menguasai dan meminggirkan, bukan yang melayani kebaikan bersama. Atas dasar pengalaman yang sama pula Paus menyerukan pertobatan ekologis dalam rangka memelihara bumi ini sebagai rumah kita bersama. Dengan demikian jelaslah bahwa pengalaman akan kerahiman Allah yang memerdekakan, mempunyai jangkauan pengaruh yang amat luas.

Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Jakarta menawarkan tema “Kerahiman Allah Yang Memerdekakan” sebagai ajakan untuk pertama-tama memahami secara lebih dalam arti kerahiman Allah. Selanjutnya tentu diharapkan agar pemahaman yang lebih mendalam ini membantu kita semua untuk mengalami kerahiman Allah secara pribadi. Pengalaman seperti ini dapat kita rasakan dalam hidup kita sehari-hari khususnya pada waktu kita jatuh dan diangkat kembali oleh Allah yang kasih setia-Nya tanpa batas; pada waktu kita sadar akan dosa, kelemahan dan kesalahan kita dan menerima belas kasih pengampunan Tuhan maupun maaf dari sesama. Ini kita alami secara istimewa dalam Sakramen Rekonsiliasi.
Mari kita jalani hidup kita sebagai orang beriman dalam semangat saling mengampuni. Semoga kita dijauhkan dari sikap menghakimi dan menghukum. Semoga kita semua, murid-murid Yesus di Keuskupan Agung Jakarta siap mencari jalan-jalan baru untuk mengalami, mensyukuri dan selanjutnya mewartakan serta mewujudkan kerahiman Allah “dengan keberanian rasuli, kerendahan hati Injili dan doa yang tekun”.

Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda semua, keluarga-keluarga dan komunitas Anda.
Selamat memasuki masa Prapaskah.
 
† I. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta