
Catatan:
Saya termasuk pembaca Mingguan Hidup yang sangat terkesan dengan kisah ini. Sempat saya diskusikan masalah ini dengan istri saya sambil berdoa semoga Mbak Tatik mendapatkan keteguhan hati dan pendampingan dari Tuhan Yesus sendiri. Saya sengaja memindai dan mempublikasikan tulisan Mbak Maria Etty ini di blog saya ini dengan harapan, semoga semakin banyak orang yang bisa membaca dan menarik hikmah dari peristiwa ini.
Kepedihan menyergap Yacintha Tatik Margiati tatkala ia mendapati tubuh ibunya terpasak kaku di pembaringan. "Padahal, beberapa jam sebelumnya, saya ngobrol dengan ibu lewat telepon," ucapnya lirih.
Kepedihan kian mencengkeram Tatik sewaktu seorang kerabatnya terang-terangan menudingnya sebagai penyebab kepergian ibunya yang mendadak pada 4 Desember 2008. "Karena beberapa hari sebelumnya, saya membatalkan rencana perkawinan saya dengan Frankie Willson," ungkap Tatik.
Tak ada tirasat apa pun menelusuk di hati¬nya bahwa keputusan itu bakal menuai praha¬ra. Apalagi, sang ibu selalu membesarkan hatinya. Wanita berusia 65 tahun itu sang¬gup memendam kekecewaan kendati putri sulungnya telah diperdaya oleh pacarnya.
Padahal, Tatik dan ibunya telah menata rencana pernikahan dengan matang. Buku untuk Misa perkawinan yang sedianya ber¬langsung di Klaten pada 28 Desember 2008 sudah dicetak. Pakaian panitia, koor, dan teks lagu telah siap. Demikian pula baju pengantin dan cincin kawin sudah dipesan. "Persiapan sudah 90 persen," simpul warga Paroki St Anna, Duren Sawit, Jakarta Timur ini.
Namun, semua rencana itu terserak begitu saja seiring raibnya calon mempelai pria. "Ini salib saya," tandas Tatik kelu. Bahkan, selang beberapa hari setelah rencana perni¬kahannya kandas, tempat kerjanya gulung tikar. Tamatan Jurusan Matematika IKIP Semarang ini sempat terhenyak menapaki realita getir hidupnya.
Kekasih seiman
Telah lama Tatik mendambakan pasangan yang seiman. Selama 11 tahun ia pernah ber¬sulang asmara dengan pria berlainan keyakin¬an hingga relasi itu tak kunjung berujung. "Akhirnya, kami putus," beber sulung dart enam bersaudara ini. September 2006, ia ber¬jumpa dengan Frankie dalam pendalaman Kitab Suci di Lingkungan Benediktus XVI, Paroki St Anna, Duren Sawit, Jakarta Timur.
Tak lama berselang, Frankie kerap me¬nyambangi rumah Tatik. Lantas, Tatik mengajaknya bergabung dalam koor lingkungan. "Kami lekas akrab," ucapnya. Diam-diam, Tatik menyimpan kekaguman karena Frankie punya pengetahuan Kitab Suci yang luas. "Dia pintar sekali mengulas Kitab Suci," lanjut Tatik.
Belakangan, Tatik mengendus bahwa Frankie merupakan mantan frater dari salah satu kongregasi. Hal ini membuat wanita kelahir¬an Klaten, tahun 1963 ini mantap mera¬jut kasih dengan pria berpostur tegap ini. Apalagi, Frankie giat menggereja. "Setiap ada acara lingkungan, ia selalu menjemput saya," kenang Tatik.
Selang sebulan setelah tali perkenalan ber¬pilin, Frankie mulai meminjam uang pada Tatik. "Awalnya, ia meminjam Rp400.000," papar Tatik. Tak lama berselang, ia berhu¬tang Iagi Rp350.000. "Alasannya, untuk membayar kos." Kemudian, Frankie kian leluasa meminjam uang Tatik. Bahkan, lela¬ki itu juga meminjam uang kepada adik dan rekan-rekan Tatik.
Belum sempat hutangnya dilunasi, Frankie kembali meminjam Rp3.000.000 kepada Tatik. Alasannya, sang ayah tengah sakit keras di kampung halamannya. Sepekan kemudian, Frankie kembali lagi meminjam uang Tatik sejumlah Rp1.400.000 karena biaya perawatan sang ayah di rumah sakit membuncit. "Yang terlintas di benak saya, jika saya menikah dengan dia, bapaknya juga akan menjadi bapak saya."
Tatik bagai tersihir oleh perangai Frankie. la tak kuasa menampik hutang demi hutang yang bersusulan. Jumlahnya pun meuggelem¬bung hingga puluhan juta rupiah! Ketika Frankie kesulitan membayar angsuran motor, dengan mudah Tatik menyodorkan pinjaman.
Sapi perah
Seiring waktu bergulir, batin Tatik penat menghadapi rongrongan lelaki itu. "Apalagi bukan hanya uang yang dipinjam, kalung emas saya juga dibawanya," lanjut Talik.
Agustus 2008, Tatik hendak menyudahi re¬lasinya dengan Frankie. "Selama dua tahun saya seperti sapi perah," ujarnya kesal. Se¬ketika sesal menelungkup di hatinya karena selama berpacaran dengan Frankie, lumbung simpanannya bobol. Ternyata, saat ia meng¬utarakan keputusannya itu, Frankie malah meminangnya. Tatik terkesima...
"Saya pikir, ia hanya membutuhkan uang saya saja. Tetapi, saat itu, saya melihat kese¬riusannya meningkatkan hubungan,” imbuh Tatik. Sebelumnya, saat ikut pulang ke Kla¬len, Frankie pernah mengemukakan niatnya hendak menikahi Tatik kepada ibu Tatik.
September 2008, Frankie dan Tutik ntengi¬kuti Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) di Paroki Bonaventura, Pulo Mas, Jakarta Timur. Selanjutnya, Frankie mengajak Tatik mencari rumah di kawasan Cibinong, Jawa Barat. Rencananya, rumah itu akan mereka tempati setelah menikah.
"Dia bilang, hutang-hutangnya akan dibayar untuk uang muka rumah," sambung Tatik getir. Mendengar janji Frankie, batin Tatik terhanyut. la tak lagi memikirkan berapa banyuk uang yang telah ia kucur¬kan kepada Fynkie. "Toh, uang itu akan dibelikan rumah," tukasnya.
Berita bahagia itu lekas beredar di antara teman-teman Tatik dan di kampung halaman¬nya. Sementara itu, Tatik dan ibunya mulai terbenam dalam aktivitas persiapan pernikah¬an. Ibunya mulai membeli sembako untuk keperluan pesta. "Ibu akan memasak sendiri dibantu saudara-saudari," imbuh Tatik.
Perhelatan bersahaja
Tatik dan keluarganya sepakat menggelar perhelatan bersahaja. "Yang penting, setelah Misa ada resepsi sederhana mengundang sau¬dara dan tetangga. Sekitar 250 orang yang akan diundang," urai Tatik. Namun, Frankie menginginkan gebyar pesta. "Kita menikah hanya sekali seumur hidup," dalihnya.
Tatik tak mengindahkan permintaan Fran¬kie. la ingin menyelenggarakan pesta sesuai kondisi kantongnya. Kemudian, ia dan Fran¬kie berbagi anggaran. Tatik menangani urus¬an perhelatan, sedangkan Frankie mengurus Misa dan Catatan Sipil.
Mereka mengurus administrasi perkawin¬an di Paroki St Anna. Sesuai kesepakatan dengan pastor, mereka akan menjalankan penyelidikan kanonisasi pada 25 November 2008. "Tanggal 22 November, saya meng¬ingatkan dia untuk datang," kata Tatik. Ternyata, itulah kali terakhir Frankie bisa dikontak.
Perasaan Tatik serasa ditebah, saat Frankie tak menampakkan batang hidungnya untuk penyelidikan kanonisasi. Lalu, ia meminta pastor paroki untuk membatalkan rencana tersebut. "Tetapi, Romo menyarankan agar ditunda saja,” sitir Talik. Sementara itu, tak terhitung kali Tatik berupaya menghubungi Frankie. Nyatanya, ia harus menelan kekece¬waan.
Tak hanya lewat telepon selular, Tatik juga mendatangi tempat kos Frankie. Hasilnya nihil. Tanpa jengah, ia mencari calon mempe¬lainya ke tempat kerjanya. Semua itu tak mengusung hasil. Frankie raib bak ditelan bumi. Dengan perasaan tak menentu, akhirnya Tatik membatalkan rencana pernikahan¬nya.
la segera tersadar, telah ditipu habis-ha¬bisan oleh Frankie. Jiwa raganya berlumur kecewa. Tetapi, ia bersyukur rencana per¬kawinannya batal. "Kalau sampai menikah dengan dia, bagaimana hidup saya nanti," keluhnya dengan tatapan hampa.
Berbagi kekecewaan
Begitu rencana perkawinannya batal, Tatik segera menghubungi ibunya. la tak ragu ber¬bagi kekecewaan. "Ibu menasihati saya agar ikhlas menghadapi kenyataan ini. Pasrahkan saja kepada Dewi Maria,” ujar Tatik meniru¬kan pesan mendiang ibunya.
Tetapi, Tatik tak menceritakan kepada sang ibu bahwa Frankie telah menggondol uang puluhan juta miliknya. Bahkan, tatka¬la Frankie meminjam uang kepada ibunya sebanyak Rp1.500.000, Tatik tak mengata¬kan bahwa yang membayar hulang itu dirinya, Bukan Frankie.
Tanggal 4 Desember 2008, Tatik kembali menelepon ibunya. Pagi dan sore. "Kami masih ngobrol seperti biasa. Bahkan, ibu bangga karena saya bisa mempertahankan prinsip,” lanjut Talik. Saat petang nyaris bertandang, Tatik menelepon ibunya lagi. "Kami hanya berbicara sebentar karena ibu hendak menutup kandang ayam."
Petang itu Tatik mengikuti ibadat Adven di rumah Ketua Lingkungan Benediktus XVL. Sepulang dari ibadat Tatik mendapati omnya telah menunggu di tempat kos. Sebe¬lum kabar duka meluncur dari mulut adik ibunya, telepon salular Tatik keburu berde¬ring. "Tetangga di kampung memberitahu ibu saya meninggal dunia," katanya sembari berlinang air mata.
Nyatanya, masih ada persoalan lain men¬cegah Tatik. Setelah ibunya tiada, ia kehilang¬an pekerjaan. Selang beberapa hari, telepon selularnya lenyap, dan omnya meninggal. "Saya sampai minta dukungan doa dari leman-teman agar saya tabah menghadapi persoalan yang bertubi-tubi," ungkapnya seraya menebar senyum kecut.
Perasaan kehilangan
Tatik sempat limbung. Ia tak mau mendus¬tai hatinya bahwa kepergian Frankie menyi¬sakan luka sekaligus rasa kehilangan. "Bisa dibayangkan, selama dua tahun kami selalu bersama-sama," kenangnya.
Di mata Tatik, Frankie tampak setia. la tak enggan mengantar Tatik ke mana saja. Setiap kali Tatik pulang dari Klaten, Frankie selalu menjempuntya tanpa mengenal waktu. "Bahkan dini hari pun, ia menjemput saya," kenang Tatik. Berulangkali Frankie mengata¬kan, "Jangan kecewakan kesetiaanku!"
Meski relasi mereka terkait Iekat, Tatik bersyukur tak pernah menyerahkan kehormatannya kepada Frankie. Meski kerap kali lelaki itu mengobral bujuk rayu bahwa ting¬gal selangkah lagi mereka resmi menjadi suami-istri. "Hal itu pula yang membuat ibu saya bangga," tegas Tatik.
Tatik tak meronta pada realita. Setiap hari ia tak lalai melambungkan doa ke haribaan Tuhan. la sungguh menyerap kekuatan dari¬-Nya. "Kalau saya tidak punya Yesus, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada saya..."
Sumber: Maria Etty, Mingguan Hidup Edisi 14 Juni 2009, hlm. 20-21




