Minggu, 19 Februari 2017

SAATNYA BERTOBAT DAN MEMBARUI DIRI


“Sabda Tuhan adalah rakhmat, orang lain adalah anugerah”, itulah judul dari Pesan Paus Fransiskus kepada umat Katolik dalam memasuki masa puasa 2017. Gereja Katolik akan segera memulai masa puasa sejak hari Rabu Abu, 1 Maret 2017. Di awal pesan itu Paus Fransiskus mengingatkan bahwa masa puasa adalah momen pertobatan, kesempatan mendalami kehidupan spiritual yang bersumber pada Injil.

Dalam pesan-pesannya, Paus Fransiskus merefleksikan perumpaan orang kaya dan Lazarus yang miskin dari Injil Lukas 16:19-31. Bapa Suci memfokuskan refleksinya pada (1) kerelaan menerima orang lain sebagai anugerah (gift), (2) ancaman dosa yang membutakan hati dan kehendak; dan (3) Sabda Allah sebagai anugerah karena mampu menggerakkan hati untuk bertobat. Ketiga elemen ini dapat dielaborasi seperti berikut. 

Pertama, Paus Fransiskus menggarisbawahi dua karakter yang bertolak belakang dari perumpaan itu untuk menegaskan ajarannya mengenai orang lain sebagai anugerah dan ancaman dosa yang membutakan hati dan kehendak. Bagi Fransiskus, kisah Lazarus yang miskin, tak berdaya, penuh luka bernanah dan menggantungkan kelangsungan hidupnya dari remah-remah yang jatuh dari meja makan orang kaya (lih ayat 20-21) menegaskan ketakberdayaan dan ketergantungan total seseorang pada belaskasih dan kebaikan orang lain. Ketergantungan itu justru tidak mendapat respon positif dari orang kaya.


Bagi sebagian orang, Lazarus adalah gambaran penelantaran oleh Allah. Kontras memang, karena nama orang itu adalah Lazarus, yang artinya “Allah telah menolong” (nama panggilan dari nama Yahudi Eleazar). Di mata Allah, Lazarus memang orang yang mendapat pertolongan-Nya, dan itu nampak dari kisah dramatis bagaimana dia mendapatkan “kenikmatan” hidup surgawi setelah kematian.

Menurut Paus Fransiskus, cara Lukas mempresentasikan perwatakan Lazarus menegaskan betapa sesama adalah anugerah. Berbeda dari “orang kaya” yang tidak disebutkan siapa namanya, Lukas mempresentasikan orang miskin dengan nama dan identitas tertentu. Inilah cara Allah memuliakan orang miskin dan tak-berdaya sebagai pihak yang bermartabat dan mendapat pertolongan Allah.
Dengan pemahaman demikian, bagi Paus Fransiskus, orang lain yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah pribadi tertentu, pribadi yang memiliki identitas tertentu, yang dikasihi Allah, dan yang kehadirannya dalam hidup kita adalah “seruan” atau “desakan” untuk menolong. Paus Fransiskus menggunakan kata “wajah” untuk menggambarkan kehadiran orang lain dalam hidup kita. “Wajah” orang lain yang hadir dalam hidup kita adalah “perintah” bagi kita untuk melakukan kebaikan. Bagi Paus Fransiskus, setiap perjumpaan dengan orang lain seharusnya menjadi kesempatan untuk menerima, menghormati, dan mengasihi mereka.

Kedua, penginjil Lukas tampaknya sengaja menampilkan orang kaya tanpa nama atau identitas tertentu. Kita hanya menangkap gambaran orang kaya sebagai pribadi yang mengenakan jubah ungu dan kain halus dan suka berpesta pora. Perwatakan demikian mewakili sifat seluruh manusia yang hatinya terikat erat pada  uang, kemewahan dan kesombongan. Pribadi orang kaya dalam perumpamaan ini menegaskan bahaya kelekatan pada uang sebagai sumber dosa (1Tim 6:10), sebagai berhala baru (Evangelii Gaudium, art. 55).

Kelekatan pada uang, kemewahan, dan kesombongan (membiarkan Lazarus tertidur di hadapannya tanpa ada rasa iba memberinya makan adalah tanda kesombongan dan kerasnya hati) justru akan membutakan hati dan mengeraskan kehendak untuk berbuat kebaikan pada orang lain.
Ketiga, bagaimana kita yakin bahwa orang lain adalah berkat, dan bahwa kebaikan yang kita lakukan kepadanya itu kita lakukan bagi Allah? Menurut Lukas Penginjil, kita tidak perlu menunggu orang mati bangkit dan memberitahu kita bahwa orang baik mengalami kebahagiaan kekal di surga (bdk ayat 31). Ini yang digunakan Paus Fransiskus untuk menegaskan Sabda Allah yang kita baca dalam Injil sebagai anugerah dan rakhmat yang sanggup menggerakkan hati. Dengan membaca Injil, kita menangkap kesaksian Musa dan para nabi (lih ayat 31), tetapi juga ajaran dan teladan Yesus Kristus tentang bagaimana kita harus bersikap dan bertindak. Itulah sabda yang menggerakkan hati dan memperteguh kehendak untuk berbuat kebaikan kepada sesama.

Paus Fransiskus menegaskanbahwa masa prapaskah seharusnya menjadi momen pertobatan, terutama untuk melepaskan diri dari karakter “orang kaya”. Pertobatan itu dapat kita lakukan dengan memanfaatkan seluruh sarana pertobatan yang disediakan gereja. Hanya dengan demikian, kita sanggup menerima orang lain (Lazarus-Lazarus lain) sebagai anugerah. Wajah dan kehadiran orang lain akan menjadi kesempatan bagi kita untuk mengasihi dan mengampuni. Itulah jaminan bagi kebahagiaan hidup di dunia dan hidup kekal di surga. (Yeremias Jena)

Rabu, 11 Januari 2017

Menata Hidup: Belajar dari Pilot Gus Encina


Gus Encina, sang pilot naas.


Kita masih ingat tragedi jatuhnya pesawat milik Colombia jenis Avro RJ85 yang terbang dari Bolivia menuju Bandara Internasional Medellin pada tanggal 29 November 2016. Pesawat yang membawa tim sepak bola Chapecoense (tim asal Brazil) dengan total penumpang 81 orang itu jatuh di daerah pegunungan di Colombia justru beberapa saat sebelum mendarat. Sedianya tim sepak bola Chapeoense akan bertanding melawan kesebeasan Atletico National dari Colombia dalam final Copa Sudamericana. Hampir semua penumpangnya meninggal dunia, kecuali lima orang yang “beruntung”.

Salah satu yang tewas dalam penerbangan itu adalah Gus Encina, seorang pilot asal Paraguay, Dari sekian kisah sedih yang beredar, berbagai foto dan reaksi sedih para suporter kesebelasan Chapeoense, kisah Gus Encina ikut menarik perhatian. Ini bermula dari postingan sang pilot di akun facebooknya beberapa hari sebelum peristiwa naas itu terjadi. Sebagaimana diberitakan harian Hoy di Paraguay, sang pilot menulis statusnya di facebook demikian:

“Kemanakah kamu mencari hidupmu? Ke depan atau ke belakang? Moga-moga Tuhan menganugerahkan kepada Anda rahmat-Nya supaya kamu bisa meninggalkan hal-hal yang sudah lampau, bahkan hal-hal yang Anda merasa sebagai berharga dalam hidup. Dan semoga Tuhan mengizinkan Anda menatap ke depan, ke tempat di mana Kristus sedang menantimu, demi sebuah perjumpaan yang mulia yang akan membuka pintu kepada keabadian.”  

[“Where do you look for your life? Forward or behind? May the Lord grant you the grace to leave things behind, even those which you consider precious in this life, and may he allow you to look ahead, where Christ is waiting for you, for a glorious meeting that will open the gates of eternity.”]

Postingan ini telah mengundang banyak simpati. Orang memandang hal ini sebagai semacam kesadaran diri, bahwa hidup sang pilot di dunia ini akan berakhir. Sang pilot seakan menyadari kesudahan hidupnya, dan dalam kaca mata imannya sebagai seorang Kristen, dia melihat kepenuhan hidup yang akan datang.

Ibu sang pilot sendiri bahkan memberitahu media bahwa sebelum anaknya berangkat terbang, dia sempat berjanji akan membawakan oleh-oleh berupa gambar kudus Kanak-Kanak Yesus sebagai kenangan khusus bagi pembaptisan anaknya yang paling kecil. Sang pilot sendiri memiliki tiga orang anak, yakni seorang putra berusia 20 tahun, seorang putri berusia 17 tahun dan putri bungsunya yang masih berusia dua tahun.

Bagaimana menurut Anda?

Selasa, 10 Januari 2017

Kerygma dan Didache


Sub-seksi katekese bekerja sama dengan seksi Kerasulan Kitab Suci (KKS) dan Emaus Journey (EJ) menyelenggarakan pembekalan Seksi Kerasulan Lingkungan (SKL) di tahun 2017. Pembekalan ini mengambil tema “Pewartaan Lingkungan Kerygma”. Apakah kerygma itu? 

Kerygma berasal dari kata bahasa Yunani κῆρυγμα (kêrugma). Dalam Perjanjian Baru, kata ini diartikan sebagai “pewartaan” (lih. Luk 4:18-19, Rom 10:14, Mat 3:1). Kata kerygma berelasi dengan kata kerja keryssein yang artinya “memaklumkan”, mewartakan, mengumumkan, memproklamasikan” dan kata keryx yang artinya “khalayak, publik, orang banyak.”  

Kata kerygma sendiri muncul 9 kali dalam Perjanjian Baru, yakni di Matius 12:41, Markus 16:20, Lukas 11:32, dan enam kali dalam Surat Rasul Paulus (Rom 16:25; 1Kor 1:21, 2:4, 15:14; 2Tim 4:12; dan Titus 1:3). Kerygma, dengan demikian, adalah pesan utama iman Kristiani di mana setiap orang yang telah dibaptis dipanggil untuk mewartakannya. 
Kerygma berbeda dengan didache, kata Bahasa Yunani yang merujuk kepada pengajaran, instruksi, atau doktrin. Jika kerygma berarti pewartaan awal kabar gembira dengan maksud untuk memperkenalkan seseorang kepada Kristus dan mempersiapkannya untuk pertobatan dan pembaptisan, maka didache lebih merujuk kepada pengajaran doktrinal dan moral yang lebih luas setelah seseorang telah menerima pewartaan kerygma.
Santo Yohanes Paulus II dalam seruan apostolik Catechesi Tradendae (CT) menjelaskan bagaimana katekese dibangun di atas kerygma. CT artikel 25 menegaskan: “Demikianlah melalui katekesis Injil kerygma (pewartaan awal yang bersemangat yang melaluinya orang yang sedang kesesakan dan mengambil keputusan untuk mempercayakan hidupnya kepada Yesus Kristus karena iman) diperdalam secara bertahap, berkembang dalam konsekuensi-konsekuensinya yang implisit, dijelaskan dalam bahasa yang melingkupi pula rujukan kepada nalar, dan disalurkan kepada praktik hidup orang Kristen dalam Gereja dan di tengah dunia.”
Demikianlah, kerygma adalah pewartaan awal kabar sukacita kepada orang yang hatinya sedang merindukan kabar sukacita keselamatan Allah melalui Putra-Nya Yesus Kristus. Pewartaan awal inilah yang kemudian memikat dan menggugah orang untuk menyerahkan dirinya kepada keselamatan Allah melalui Putra-Nya. Begitu seseorang memutuskan untuk menyerahkan hidupnya pada Yesus dan Gereja-Nya, dia kemudian dipersiapkan iman dan pengetahuannya melalui seri katekese. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kerygma sifatnya lebih spontan dan tidak harus sistematis (mirip kampanye), sementara sifat katekese (didache) lebih sistematis dan mendalam. Baik kerygma maupun katekese (didache) adalah komponen penting dari evangelisasi.
Dalam arti itu, tepatlah kiranya jika para peserta dipersiapkan terlebih dahulu untuk menjalankan peran pewarta kerygma. Seiring dengan persiapan dan pembinaan (kursus) lebih lanjut, peserta dapat menjadi juga pewarta katekese (didache).
Jika begitu, apakah kerygma adalah pewartaan? Ya, sama seperti katekese (didache) juga adalah pewartaan. Keduanya berbeda dalam hal isi pewartaan. Yang pertama merupakan pewartaan awal yang lebih spontan, yang terakhir merupakan pewartaan lanjutan yang lebih mendalam dan sistematis.

Selasa, 13 Desember 2016

Parousia

Siang tadi (13/12/16), entah mengapa, seorang dokter senior menahan saya di depan lift. Saya kira ngapain? Ternyata dia mengajak ngobrol tentang kedatangan Tuhan kembali ke dunia. Pertanyaannya, apakah Gereja Katolik juga mempercayainya.

 Setengah terkejut, saya pun menghentikan langkah dan mulai ngobrol. Sehubungan dengan pertanyaannya, Gereja Katolik tentu mengimaninya. itu bagian integral dari syahadat, bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili yang hidup dan yang mati.
 

 Di luar dari itu, saya menangkap kesan kuat bahwa dalam situasi seperti sekarang di mana banyak sekali orang Kristen disiksa dan dibunuh, narasi mengenai kedatangan Tuhan kedua kalinya pasti menarik, setidaknya memberi harapan akan terealisasinya keadilan Tuhan. Bahwa Dia akan merendahkan mereka yang tinggi hatinya, yang menghukum mereka yang telah menghukum nurid2Nya, dll. Tetapi apakah itu yang diharapkan dari kedatangan tersebut?

Bagi saya, Tuhan selalu hadir. Ia ada dan bersama umatNya. Kejahatan dan penderitaan atas umatNya terjadi karena sistem politik yang tidak adil atau yang tidak berdaya menghadapi tekanan massa. Sejarah kekristenan bahkan menegaskan bahwa agama Kristen tidak dimaksudkan untuk bersekutu dengan kekuasaan atau penguasa tertentu. Agama Kristen justru menegaskan diri sebagai antitesa terhadap kekuasaan yang oleh Yesus sendiri dilihat sebagai penghalang bagi kehidupan kekal. Sabda "KerajaanKu bukan dari dunia ini; jika kerajaanKu dari sini, niscaya murid2Ku sudah mengangkat senjata membela Aku" lalu menjadi relevan untuk menjelaskan situasi sekarang.
 

Dengan begitu -- kembali ke obrolan saya dengan teman dokter itu -- waktu Tuhan datang kembali adalah sebuah keniscayaan iman. Tetapi apakah kedatangannya kembali untuk mengadili orang yang hidup dan yang mati itu harus dipahami secara harfiah, saya rasa tidak.
 

Dengan begitu, saya ingin mengulang lagi sabda sang Guru, "KerajaanKu bukan dari sini.
Ada yang mengatakan bahwa jika agama dilekatkan secara erat sebagai upaya menegakkan kekuasaan di muka bumi demi memuliakan nama Tuhan adalah perintah suci yang harus direalisasikan. Mungkin saja betul, tetapi dalam konteks keimananku, ilusi itu ditepis dengan keras oleh Yesus. Ingat saja permintaan ibu Yakobus kepada Yesus.
 

Ya, kekristenan menjadi antitesa atas kekuasan yang seringkali berdarah2 tetapi kemudian mengatasnamakan Tuhan.

Selamat sore menjelang malam.

Minggu, 20 November 2016

Bukan Orang Katolik Medioker



Akhir Oktober 2016, ketika ketika lebih dari 9000 siswa SMP dan SMA dari sekolah-sekolah Katolik se Keuskupan Agung San Fransisco berkumpul dalam sebuah acara di University of Southern California, suasana tampak heboh. Ada energi luar biasa yang tercurah. Tetapi ketika Uskup Robert Barron memasuki Galen Center, aula tempat di mana ribuan anak muda itu berkumpul, sambil membawa Sakramen Maha Kudus untuk sesi adorasi, semua orang mendadak hening.

Sang Uskup mengawalinya sesi refleksi rohani dengan meminta seluruh siswa berteriak sekencang-kencangnya. Dan ketika para siswa telah tenang, Uskup Barron berkata, “Saya ingin kamu mengingat momen ini dalam hidupmu, bahwa ketika kita bersatu, ada kekuatan besar yang bisa keluar dari diri kita.”
Dinamika ini baik sebagai jalan masuk untuk menyampaikan renungan. Saya sepakat dengan Uskup Barron, bahwa panggilan dasar kita untuk menjadi “pembawa kabar suka cita Allah” sudah terlalu lama kita diamkan. Kita tidak ingin menonjolkannya. Kita hanya ingin menjadi orang Katolik pas-pasan, menghadiri misa seminggu sekali cukup, di luar itu “bukan urusan saya”. Apalagi mengambil bagian dalam misa perutusan Gereja dengan menjadi katekis, ketua lingkungan, atau tugas kerasulan lainnya.
Satu hal yang ditekankan Uskup Barron dan menurut saya cocok dengan situasi kehidupan menggereja kita adalah ajakan untuk tidak menjadi orang Katolik medioker. Kita didorong untuk menjadi orang Katolik yang hebat, luar biasa, penuh komitmen, tidak menyerah pada situasi hidup, menghidupi warta kabar gembira di mana saja kita berada, dan seterusnya.

Chuck Lawless dalam tulisannya berjudul 12 Signs of Mediocrity in a Church yang terbit di The Christian Post edisi 13 Januari 2015 menyebut dua belas tanda sebuah gereja telah menjadi medioker. Tiga dari 12 tanda itu menarik untuk ditonjolkan: tidak adanya strategi pastoral, toleransi pada kesalahan dan dosa, serta rendahnya partisipasi dalam kehidupan menggereja.

Paroki kita sudah menghasilkan rencana dan strategi pastoral tahun 2017. Adalah tugas kita semua untuk mengegolkan rencana dan strategi itu jika kita tidak mau disebut umat atau gereja yang medioker. Dan itu, suka atau tidak, sangat ditentukan oleh sejauh mana kita mengambil bagian secara aktif dalam setiap aktivitas gerejani. Tetapi di atas semuanya itu,suasana hati yang bersih mestinya menjadi dasar kokoh bagi seluruh karya kerasulan kita. Tanpa itu, kita merasul atau menggereja hanya untuk memuliakan diri sendiri.[] (Terbit di Warta Paroki MBK, 41, 2016, hlm. 22)

Sabtu, 30 Juli 2016

Pater Jacques Hamel: Seorang Gembala Sederhana dan Setia Sampai Akhir Hayat



Pater Jacques Hamel.
Trias Kuncahyono dalam tulisannya di Kolom Kredensial di Harian Kompas, 31 Juli 2016 (hlm. 4) menyitir hal yang sederhana dan menarik. Menyimak pembunuhan terhadap Pater Hamel oleh dua laki-laki yang menyebut diri anggota ISIS, kita – utamanya orang Katolik – langsung teringat pada kisah kemartiran Oscar Romero, Uskup Agung San Salvador yang ditembak mati penembak jitu pendukung pemerintah pada tanggal 24 Maret 1980. 

Menurut Trias, paralelisme ini tidaklah tepat jika merujuk ke semangat kegembalaan yang dipikul kedua hamba Kristus ini. Uskup Romero adalah penentang rezim otoriter El Salvador yang secara terang-terangan terus mengkritik praktik pemerintahan yang lalim dan menindas rakyat. Sementara Pater Hamel adalah seorang imam yang hampir tidak dikenal publik, misalnya karena kritik atau perlawanannya terhadap kelaliman dan ketidakadilan pemerintah. Mungkin juga karena lingkungan kegembalaan mereka  yang berbeda. Uskup Oscar menggembalakan umatnya dalam situasi sosial politik yang jauh dari keadilan, sementara Pater Hamel hidup dalam komunitas lokal di Paroki St Étienne-du-Rouvray, dekat Rouen  di Normandi, Prancis Utara, yang nota bene damai dan sejahtera.
 
Poin Trias, kematian Pater Hamel dan kematian-kematian lainnya di tangan para teroris adalah upaya dramatisasi kematian untuk meningkatkan rasa takut dan kegentaran masyarakat. Dengan begitu, para teroris bermaksud menguasai keadaan. Saya tidak tertarik untuk mendiskusikan hal ini, yang juga memang menarik untuk diwacanakan. Saya ingin mendeskripsikan kehidupan Pater Hamel yang sederhana itu sebagai cara untuk memperteguh keyakinan umat beragama, bahwa kemartiran memang bagian integral dari panggilan menjadi murid Kristus.

Pater Hamel dikenal sebagai seorang gembala umat yang sederhana, rendah hati, yang selalu siap melayani umatnya. Meskipun sudah pension 10 tahun lalu (pensiun pada usia 75 tahun), uskup memintanya untuk tetap tinggal di paroki dan membantu umat sejauh dia bisa. Inilah yang menimbulkan kesan mendalam dalam diri umatnya, bahwa Pater Hamel selalu menyediakan dirinya untuk membantu umatnya.

Suasana Mencekam dalam Gereja

Demikianlah, pagi itu, Selasa, 26 Juli 2016, sekitar pukul 09:45, dua pemuda memasuki gereja St Étienne-du-Rouvray. Dua pemuda bernama Abdel Malik Petitjen dan Adel Kermiche menyelinap memasuki gereja Katolik itu selama misa kudus berlangsung. Sebelum menggorok leher imam tua berusia 85 tahun itu, mereka terlebih dahulu menyandera beberapa orang, dan melukai beberapa orang lainnya.

Abdel Malik Petitjen, salah seorang jihadis pembunuh Pater Hamel.
Adel Kermiche, pelaku pembunuhan keji di Gereja St. Etienne.
Menyadari suasana mencekam, seorang biarawati berhasil keluar dari gereja dan menghubungi polisi, sementara dua rekan suster itu, Suster Huguette dan Suster Helena Decaux, berusia 80-an tahun, masih ada dalam gereja. Apa yang disaksikan oleh kedua biarawati tua di dalam gereja sungguh mencekam. Suster Helena mengatakan bahwa dia merasa lelah dan meminta para penyandera supaya diizinkan duduk. Mereka kemudian mengizinkan dia duduk. Suster Helena juga meminta tongkat jalan (walking stick) yang dipegang salah seorang pemuda itu, dan pemuda itu pun memberikan kepadanya.

Tetapi setelah itu, kedua penyerang itu mulai percakapan mengenai agama dan bertanya kepada kedua suster itu, apakah mereka pernah membaca Alquran. Suster Helena pun menjawab, “Ya, saya menghormatinya [Alquran] sama seperti saya menghormati Injil, saya sudah membacanya dan membaca beberapa surah. Dan yang paling menarik hati saya adalah surah mengenai damai.”

“Perdamaian, itulah yang kami inginkan,” seorang penyerang menjawab. “Selama masih ada bom di Syria, kami akan meneruskan penyerangan kami. Dan itu akan terjadi setiap hari. Kalau kalian sudah menghentikannya, kami juga akan berhenti.”

“Apakah Anda takut mati?” seorang penyerang bertanya lagi.
Suster Helena pun menjawab, “tidak!” Pemuda itu pun langsung melanjutkan pertanyaannya, “Mengapa?”

“Saya percaya pada Allah, dan saya tahu saya akan berbahagia,” jawab Suster Helena sambil berdoa dalam hati bagi keselamatan jiwanya sendiri.

Berselang kemudian, percakapan dilanjutkan mengenai Allah. Salah satu jihadis berkata, “Yesus tidak bisa menjadi Allah dan seorang manusia. Kesalahan ada pada kamu [yang memahami Yesus demikian].”

“Mungkin, tetapi itu terlalu buruk,” jawab Suster Huguette. Sebagaimana pengakuannya ke La Vie, Suster Huguette sebenarnya sudah menyiapkan batinnya sendiri untuk menyongsong kematiannya.  “Menyadari saya akan segera mati, saya mempersembahkan diri kepada Allah,” aku Suster Huguette.

Tetapi kedua jihadi situ tidak membunuh kedua suster tua tersebut dan pasangan suami istri lansia yang juga hadir dalam misa pagi itu. Kedua jihadis tersebut justru bergerak ke altar suci dan menggorok leher Pater Hamel sampai tewas. Dan ketika polisi tiba di lokasi, kedua jihadis pun dilumpuhkan dan tewas tertembak.

Kebaikan Hati Pater Hamel

Kembali ke Pater Hamel, dia adalah seorang imam lansia yang tinggal dan membantu di Paroki di St Étienne-du-Rouvray, dekat Rouen, Prancis Utara. Pagi itu, seharusnya Pater Auguste Moanda-Phuati, Pastor Paroki yang memimpin misa, tetapi karena ada kesibukan lain sehingga digantikan Pater Hamel.
Leher imam lansia itu pun akhirnya digorok dengan sebilah pisau, sementara dua suster dan dua umat lainnya disandera. Tiga sandera dibebaskan sementara seorang dalam keadaan kritis.

Pater Hamel dilahirkan pada tanggal 30 November 1930 di Darnetal, Perancis. Dia ditahbiskan sebagai imam Katollik pada tanggal 30 Juni 1958 dan melayani sebagai Pastor Vikar di Gereja St. Antoine di Le Petit-Quevilly pada tahun 1958, menjadi Vikar di Gereja Notre-Dame de Lourdes di Sotteville-les-Rouen pada tahun 1967, sebagai pastor paroki Saint-Pierre-kes-Elbeuf di tahun 1975, dan imam paroki di Cleon pada tahun 1988. Dia bergabung dengan gereja Paroki Saint-Etienne-du-Douvray pada tahun 2000. Karena telah pensiun di usia 75 tahun, dia tetap tinggal di paroki itu dan melayani sebagai imam rekan. Dia merayakan 50 tahun imamatnya pada tahun 2008. Bersama Mohammed Karabila, Ketua Umat Islam di wilayah Normandi, Pater Hamel juga tergabung dan aktif dalam komite interfidei.

Kepribadian gembala yang satu ini memperlihatkan sifat seorang gembala sesungguhnya. Umat Paroki pun memberikan kesaksian beragam. Seorang umat paroki bersaksi, “Keluarga saya sudah tinggal di sini 35 tahun dan kami selalu mengenal dia.”

Seorang umat paroki lainnya juga bersaksi, “Pater Hamel adalah orang yang sangat bijaksana. Saya sudah mengenalnya sejak muda. Saya menghadiri kelas ketekese di mana dia menjadi pengajarnya. Dia tidak suka menonjolkan diri. Dia sangat dihargai oleh komunitas lokal di sini.”

Warga paroki lainnya juga bersaksi, katanya, “Pater Hamel adalah orang yang melakukan karyanya sampai akhir hayatnya. Dia memang tua, tetapi selalu bersedia melayani siapa saja. Dia seorang imam yang baik. Dia sudah melayani di sini lama sekali, dan banyak umat mengenalnya dengan baik.”

Moanda-Phuati, Pastor Paroki yang seharusnya memimpin misa pagi itu, mengatakan kepada harian Liberation peristiwa mengejutkan ini. “Saya nyaris tidak bisa membayangkan kejadian seperti ini. Kami tidak pernah menerima ancaman dan terror sebelumnya.” Sementara Vatican mengutuk pembunuhan dalam gereja semacam ini sebagai tindakan pembunuhan barbaric, kekerasan mengerikan yang seharusnya tidak terjadi dalam gereja selaku tempat suci untuk memuji dan memuliakan Allah.

Dominique Lebrun, Uskup Agung Rouen, sedang berada Krakow menghadiri World Youth Day di mana Paus Fransiskus juga akan hadir. Karena tragedy ini, dia memilih kembali ke Rouen hari Selasa malam. Sebelum meninggalkan Krakow, Uskup Lebrun berkata, “Gereja Katolik tidak memiliki senjata lain selain doa dan persadaraan antarmanusia. Saya meninggalkan ribuan orang muda di sini yang adalah masa depan kemanusiaan, kemanusiaan sejati. Saya meminta mereka untuk tidak menyerah di hadapan wajah kekerasan dan kebengisan dan terus menjadi rasul peradaban cinta.”

Sejak hari Selasa itu juga tagar #santosubito menjadi trending topik di Twitter ketika ribuan orang menyerukan agar Pater Hamel digelar sebagai orang kudus, termasuk seruan dari Roberto Maroni, Presiden Lombardy, Italia, yang menyerukan Paus Fransiskus memberi gelar Pater Hamel sebagai Santo Jacques.

Sumber: