suchen partner

Selasa, 17 Maret 2015

Pembawa Berkat



Setelah membaca salah satu refleksi sederhana yang aku tulis di blog ini, seorang sahabat mengatakan hal ini kepadaku, “Terima kasih, Pak. Tulisannya menginspirasi. Teruslah menjadi berkat bagi orang banyak!” Wah, sebuah peneguhan yang luar biasa, sekaligus membesarkan hati. Bahwa setiap kata yang ditulis harus dilihat sebagai sarana untuk menyampaikan sesuatu yang lebih besar dan mulia. Kata-kata peneguhan ini aku lihat sebagai dukungan untuk terus menulis, karena melalui tulisan seseorang bisa menyebarkan pesan-pesan yang baik.

Tetapi kemudian saya merenung dan bertanya, “Apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan menjadi berkat bagi orang lain?” Dipahami dalam konteks spiritualitas, kata-kata teman ini adalah sebuah doa dan harap yang sangat besar, karena mengandung dua pengertian sekaligus. Pertama, sebuah pengakuan bahwa saya memang telah menjadi pembawa berkat dan sekarang diharapkan untuk terus menjadi berkat. Jangan pernah berhenti karena orang lain akan mendapatkan berkat karena peran atau karya sederhana saya ini.

Kedua, ucapan teman itu mungkin lebih baik dimaknakan sebagai sebuah harap. Meskipun ada kata “teruslah” yang mengandung konotasi seseorang sudah memainkan peran tertentu, saya lebih nyaman memahami dukungan teman ini sebagai sebuah doa sekaligus harap. Bahwa dengan menulis refleksi-refleksi sederhana, saya seharusnya belajar menjadi pembawa berkat bagi orang lain. Sekali lagi, saya memaknakan dukungan sahabat itu berdasarkan poin kedua ini.

Saya menafsirkan demikian, karena dukungan sebagai doa dan pengharapan, selain lebih tepat menggambarkan keadaan saya saat ini, saya juga sebetulnya belajar untuk menjadi rendah hati. Bahwa peran menjadi pembawa damai tidak pernah mudah dan tidak pernah sekali terjadi untuk selamanya. Dia haruslah sebuah proses panjang yang harus dilakoni secara terus-menerus. Untuk itu, saya mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas dukungan dan peneguhan semacam ini, sekaligus juga berdoa, semoga siapa pun yang membaca tulisan-tulisan saya, bisa menemukan makna yang lebih dalam, yang barangkali saya sendiri tidak pernah menyadarinya sebelumnya.

Lebih dari apa yang saya katakan di atas, menjadi berkat ternyata sebuah tugas yang luar biasa berat. Pertama-tama orang itu harus terlebih dahulu hidup dalam berkat. Dalam bahasa rohani, seseorang harus terlebih dahulu mengenal dan mengasihi Tuhan sebelum dia memberitakan pengalaman dikasihi kepada orang lain. Itulah tantangan teramat berat yang dihadapi setiap pewarta sabda ketika dia dihadang pertanyaan, “Apakah Anda sungguh-sungguh telah mengalami kehadiran Tuhanmu dalam hidupmu? Sejauh mana Anda membiarkan Dia berkarya dan menuntun hidupmu? Jangan-jangan apa yang Anda tulis murni sebuah karya intelektual, dan sama sekali tidak menghadirkan kenyataan kasih Tuhan.

Jika sudah berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ini, siapa pun pasti akan selalu merasa dirinya sebagai tidak pantas. Yesaya, seorang Nabi kenamaan, pernah mengalami perasaan “kagok” dan tidak pantas semacam ini. Pengalaman “melihat” melihat Yahweh dia maknakan sebagai suatu petaka, karena melihat Tuhan berarti bersiap-siap untuk binasa. Tetapi Yahweh sendiri justru membiarkan diri-Nya dialami secara real, karena Dia punya misi yang akan dia berikan kepada Yesaya. Dan ketika Yesaya mengeluh atau lebih tepatnya menolak karena merasa tidak pantas, Yahweh mengubah dia. Pengalaman yang intim dengan Yahweh berubah menjadi sebuah perutusan untuk mewartakan kabar sukacita Tuhan. Bahwa Yahweh tidak pernah menyangkal cinta-Nya, seberapa jauh manusia melangkah jauh meninggalkan Dia (Yes 6:1-13).

Dalam konteks biblis semacam inilah saya memahami makna menjadi berkat. Pertama-tama memang harus ada sebuah pengalaman perjumpaan atau pengalaman sangat pribadi dengan Tuhan sebagai prasyarat seseorang bisa menjadi berkat bagi orang lain. Apakah kondisi ini sudah kualami sekarang, saya tidak berani mengatakannya. Yang jelas, siapa pun, termasuk saya, akan terus berusaha mengasihi Tuhan sampai pada titik di mana dia tidak merasa apakah dia sungguh mengasihi Tuhan atau tidak. Dan pada saat itu sebetulnya Tuhan tidak pernah berhenti mengasihi dia.

Di situlah saya belajar bukan untuk melihat setiap perjumpaan dan pengalaman pencerahan rohani sebagai semacam petaka rohani karena ketidakpantasan masuk ke dalam pengalaman pribadi berjumpa dengan Dia, tetapi sebuah keterbukaan diri untuk menjadi berkat bagi orang lain. Bagi saya, hanya dengan sikap semacam inilah seseorang bisa dengan yakin mengatakan, “Inilah aku, utuslah aku!”

Senin, 23 Februari 2015

Antara Iman dan Kepercayaan


Dalam pertemuan dan diskusi terbatas dengan teman-teman katekis beberapa waktu lalu di Gereja Maria Bunda Karmel, Jakarta Barat, muncul diskusi yang cukup menarik. Ada katekis yang bertanya, apa beda antara iman (faith) dan percaya (believe)? Apakah seseorang dapat menyebut dirinya beriman tanpa percaya? Apakah seseorang dapat menyebut dirinya percaya meskipun tanpa iman?

Iman yang Benar Lebih dari Sekadar “Percaya”

Memang “iman” meliputi atau melingkupi elemen “percaya”, jadi di dalam “iman” ada percaya. Dengan kata lain, supaya memiliki iman, seorang harus percaya. Meskipun demikian, keduanya tentu tidaklah sama. Saya mungkin saja percaya pada sesuatu yang tidak memiliki pengaruh apapun pada hidup saya. Misalnya, saya percaya bahwa “Singapura ada”, tetapi keyakinan atau kepercayaan ini tidak berpengaruh apa-apa bagi hidup saya. Iman Kristiani mengatakan bahwa jenis keyakinan atau kepercayaan semacam ini bukanlah iman yang benar dan tidak akan membuat kita memiliki relasi yang menyelamatkan dengan Tuhan.  Iman Kristiani selalu dibangun di atas keyakinan akan relasional akan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada kita.

Menaruh atau memiliki “iman” pada sesuatu atau seseorang berarti menaruh atau meletakkan rasa percaya (trust) pada orang atau sesuatu itu. Apa atau siapa yang dipercaya (trust) dapat berupa orang atau sesuatu yang sifatnya jauh, bahkan bersifat kekal. Dalam arti itu, memiliki iman pada sesuatu atau seseorang itu dimaknakan sebagai menaruh ketergantungan, mendasarkan diri, atau meletakkan hidup pada seseorang atau sesuatu tersebut. Misalnya, saya dapat mengatakan bahwa saya percaya pada sebuah pesawat yang bisa menerbangkan saya dari kota A ke kota B, tetapi ketika saya takut untuk memasuki pesawat tersebut, saya sebetulnya menunjukkan diri sebagai orang yang tidak beriman. Juga, ketika saya memutuskan untuk tidak memasuki pesawat tersebut, maka tidak ada alasan bagi saya untuk berharap bahwa pesawat itu akan dapat menerbangkan saya ke kota yang saya kehendaki. Dalam arti itu, saya harus melatih atau mengasah “iman” saya di dalam pesawat tersebut, dengan cara memasuki atau menjadi penumpangnya, supaya bisa mengalami keuntungan atau kenikmatan darinya.

Iman yang Benar Akan Mampu Mengubah Cara Pandang

Ketika kita memiliki iman yang benar pada Yesus Kristus, kita mampu melihat dunia dan sistem yang mendasarinya dalam cara yang sama sekali berbeda. Roh Kudus akan menerangi hati kita dan membuka hati kita dengan cara yang berbeda kepada setiap yang menampakkan diri kepada kesadaran kita, dan dengan begitu, menciptakan kesadaran yang berbeda di dalam diri kita. Demikianlah, kita baca dari Surat Paulus kepada Umat di Roma, “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh , memikirkan hal-hal yang dari Roh” (Roma 8:5). Kita diundang untuk menjadikan hal ini sebagai bagian dari spiritualitas kita, ““Janganlah kamu menjadi serupa  dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2). Jika kita adalah orang Kristiani yang baik dan benar, yang mendedikasikan diri untuk mengikuti Yesus Kristus, maka kita akan bertumbuh menjadi orang-orang yang menghayati hidupnya sebagaimana yang dikehendaki Yesus sendiiri. Untuk sederhananya, dapat dikatakan bahwa “saya percaya pada Allah” akan sangat kecil maknanya jika itu dikatakan hanya dari bibir saja, dan tidak muncul dari hati.

Iman Membuahkan Perubahan dalam Tindakan

Kita mungkin pernah berjumpa atau mengenal orang tertentu yang mengklaim diri sebagai pengikut Kristus, padahal cara hidupnya masih sama seperti sebelum mengenal Kristus. Mereka masih saja mempertahankan dan menjalankan hidup secara sama, berbicara dalam cara yang sama, memiliki cara berpikir yang sama dengan masa ketika mereka belum menjadi orang Kristiasi. Apakah mereka menghidupi iman yang benar? Yesus bersabda, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh 14:15). Dengan begitu, Yesus maksudkan agar sebala tindakan kita akan menunjukkan adanya perubahan dalam hati kita karena pengenalan dan keputusan kita menjadi pengikutNya. Sebaliknya, ketika kita menjalankan hidup sebagai orang yang seolah-olah tidak mengenal Dia, seharusnya kita meragukan keselamatan yang dapat kita peroleh sebagai buah dari status kemuridan kita. “Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya” (1Yoy 2:3). Bukti bahwa kita tidak sekadar percaya tetapi memiliki iman yang benar dapat dilihat dari seberapa besar sikap dan perilaku kita mencerminkan status kita sebagai murid atau pengikut Kristus.

Iman Membuahkan Perubahan Prioritas

Jika ada sesuatu dalam hidup kita yang ternyata jauh lebih penting dari Allah, maka sebetulnya kita telah salah menaruh prioritas kita. Jika begitu, sebaiknya kita mengevaluasi kembali diri kita untuk melihat apakah kita memang menyerahkan hidup kita sepenuhnya pada Yesus atau sebenarnya belum sama sekali? Jika hidup kita lebih dipusatkan sepenuhnya pada pekerjaan, pada olahraga kegemaran kita, atau pada sarana teknologi informasi yang canggi, atau kepada hal-hal lainnya yang mengalihkan pusat perhatian kita untuk menjauh dari Allah, maka seharusnya kita mempertanyakan validitas atau kematangan iman kita kepada Yesus.

Pertimbangkan hal-hal berikut. Dalam hubungan dengan keuangan kita, misalnya. Jika kita hanya memusatkan perhatian pada seberapa besar atau banyaknya uang yang dapat dihasilkan, atau seberapa tinggi jenjang karier yang dapat kita gapai, maka mungkin saatnya kita menyesuaikan dan mengevaluasi sekali lagi pusat perhatian kita, apakah itu kepada kekayaan atau seharusnya kepada Allah.

Bagaimana dengan pikiran kita dalam hidup ini? Memang tidak salah sama sekali untuk memikirkan hal-hal lain selain Allah. Tetapi apakah dalam memikirkan sesuatu itu, kita memberikan tempat yang memadai bagi kehadiran Allah? Atau, jangan-jangan kita justeru mengeluarkan atau mengecualikan Allah dalam pikiran kita. Seperti kata Rasul Paulus kepada Timotius, “Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu,  supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni. Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka, di antaranya Himeneus t  dan Aleksander,  yang telah kuserahkan kepada Iblis , supaya jera mereka menghujat” (1 Tim 1: 18-20). Tuhan Yesus meminta kita untuk berdoa tak henti-hentinya (2 Tes 5:12), dan itu berarti kita tak henti-hentinya menjalin komunikasi dengan Allah dalam seluruh hidup kita.

Bagaimana dengan prioritas-prioritas kita? Bagaimana kita membelanjakan waktu, uang, dan tenaga kita? Apakah itu mencerminkan sesuatu yang menurut kita jauh lebih berharga daripada memprioritaskan Allah? Apakah ada ruang atau tempat bagi kehadiran Allah dalam penentuan prioritas tersebut? Seberapa pentingkah Injil dan doa dalam hidup dan penentuan skala prioritas dalam hidup kita? Matius mengatakan dengan sangat indah dalam Injil, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya” (Mat 6:33). Seharunya relasi kita dengan Allah menjadi puncak atau inti dari seluruh prioritas kita, jika kita sungguh-sungguh memiliki iman yang benar.

Kesimpulan

“Kepercayaan” atau “keyakinan” (believe) dapat menjadi hanya sekadar penerimaan mental yang pasif yang sebenarnya tidak bermakna sama sekali jika kita mengukurnya dari seberapa besar pengaruhnya bagi hidup kita. Sekadar mengatakan “saya percaya pada Allah” sebetulnya tidak memiliki makna yang sangat mendalam, karena itu hanya datang dari ucapan mulut dan bibir, dan bukan berasal dari hati. Orang bisa saja mengaku bahwa dia percaya pada Allah dan itu tanpa adanya perubahan kehidupan yang berarti.
Sebaliknya, iman yang benar adalah sebuah sikap ketergantungan, penyerahan diri, menaruh kepercayaan pada Allah, ketika seseorang menaruh atau meletakkan seluruh hidupnya pada Penyelenggaraan Ilahi. Seluruh prioritas dan fokus hidupnya memang diarahkan kepada Allah saja. Dia membangun hubungan yang menyelamatkan antara dirinya sebagai ciptaan dengan Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta. Ketika dia membiarkan hidupnya diatur dan dikendalikan oleh kehendak Allah, dan ketika dia terus-menerus menyesuaikan hidupnya dengan tuntutan kemuridan Kristus.

Jumat, 13 Februari 2015

“TIADA SYUKUR TANPA PEDULI”



Mgr. I. Suharyo, Uskup Agung Jakarta.
SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2015

14/15 Februari 2015

Para Ibu dan Bapak,
Para Suster dan Bruder, Para Imam dan Frater.
Kaum Muda, Remaja dan Anak-Anak yang terkasih dalam Yesus Kristus,


1. Bersama-sama dengan seluruh Gereja, pada hari Rabu yang akan datang kita memasuki masa Prapaskah. Selama masa Prapaskah kita diajak untuk secara khusus menyiapkan diri agar kita masing-masing, keluarga dan komunitas kita dapat mengalami  Paskah yang sejati, Paskah yang membaharui kehidupan. Masa Prapaskah adalah masa peziarahan rohani yang akan menjadi semakin bermakna kalau ditandai dengan doa yang tekun dan karya-karya kasih yang tulus. Dengan demikian kita dapat memetik buah-buah penebusan yaitu hidup baru yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita. Hidup baru itu akan membuat kita mampu menjalankan nasehat Rasul Paulus, yaitu agar kita melakukan segala sesuatu hanya demi kemuliaan Tuhan :”Jika engkau makan atau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu demi kemuliaan Allah” (1 Kor 10:31). Kita juga berharap, khususnya melalui olah rohani selama masa Prapaskah ini, kita semakin mencapai “kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef 4:13).

2.  Masa Prapaskah tahun ini kita jalani ketika kita merayakan Tahun Syukur Keuskupan Agung Jakarta. Dalam rangka Tahun Syukur itu, semboyan yang ingin kita dalami adalah “Tiada Syukur Tanpa Peduli”. Semboyan ini mencerminkan dinamika hidup beriman kita yang kita harapkan menjadi semakin ekaristis. Dalam perayaan Ekaristi kita mengenangkan Yesus yang “mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya”. Dengan demikian jelas bahwa bentuk syukur yang paling sesuai dengan teladan Yesus adalah kerelaan untuk “dipecah-pecah dan dibagikan”, seperti roti ekaristi. Panitia Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Agung Jakarta telah menyiapkan bahan-bahan yang sangat memadai untuk mendalami makna semboyan “Tiada Syukur Tanpa Peduli”. Keikutsertaan dalam kegiatan-kegiatan bersama yang sudah disiapkan pastilah akan memperkaya, meneguhkan dan menjadikan hidup kita pujian bagi Tuhan dan berkat bagi semakin banyak orang. Kalau Anda karena berbagai alasan, tidak mungkin mengikuti pertemuan-pertemuan pendalaman iman bersama-sama, Panitia Aksi Puasa Pembangunan juga sudah menyediakan bahan “Retret Agung Umat : Perjalanan Rohani Menanti Kebangkitan” yang dapat digunakan secara pribadi.

Saudari dan saudaraku yang terkasih,

3. Kisah Injil yang diwartakan pada hari ini (Mrk 1:40-45) mengajak kita untuk belajar dari Yesus dalam mengembangkan sikap peduli.

3.1. Orang kusta yang diceritakan dalam Injil adalah orang yang tersingkir, orang yang dipinggirkan dalam masyarakat. Penyingkiran ini mempunyai sejarah yang panjang. Ada waktunya – sebelum masa pembuangan, ketika Umat Allah Perjanjian Lama masih merdeka – penyingkiran orang kusta melalui peraturan-peraturan keras tidak dikenal. Baru ketika mereka tinggal di pembuangan dan bergaul dengan orang-orang yang mempunyai peraturan-peraturan mengenai orang kusta, mereka mengambil alih peraturan itu dan diterapkan bagi umat. Peraturan itu amat keras, sebagaimana dikatakan dalam Kitab Imamat :”Orang yang sakit kusta harus berpakaian cabik-cabik, dan rambutnya terurai. Ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru : Najis! Najis!” (13:45), supaya orang lain yang berjumpa atau berada dekat dengan dia menyingkir agar tidak ketularan najis.

3.2. Sementara itu secara jasmani orang kusta dapat sembuh. Namun tidak cukup bahwa ia sembuh. Untuk diterima kembali dalam masyarakat dan ikut dalam perayaan suci kesembuhannya harus dinyatakan secara resmi oleh imam (Im 14:2-32). Itulah sebabnya Yesus mengatakan kepada orang yang disembuhkan-Nya untuk memperlihatkan diri kepada imam. Tetapi proses itu tidak mudah : para imam sulit dijumpai – apalagi ketika ibadah dipusatkan di satu tempat – dan syarat-syaratnya pun sulit dipenuhi oleh orang-orang sederhana.

3.3. Dengan demikian lengkaplah penderitaan yang ditanggung oleh orang kusta itu. Melihat orang yang menderita seperti itulah hati Yesus tergerak oleh belas kasihan (Mrk 1:41). Inilah sebentuk kepedulian yang amat nyata. Selanjutnya sesudah orang kusta itu disembuhkan, dikatakan bahwa Yesus “menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras” (ay 43). Apa maksudnya? Salah satu cara baru untuk memahami hal ini ialah dengan memperhatikan keadaan pada waktu itu, sebagaimana sudah disampaikan. Sering para imam yang berwenang menyatakan orang kusta sudah sembuh -  dengan demikian dapat diterima kembali ke dalam masyarakat dan ikut serta dalam upacara-upacara suci - , kurang bersedia melakukannya. Yang sebenarnya jelas dan mudah, menjadi sulit. Wajarlah bahwa Yesus kesal dan berkata keras. Ia sangat kecewa karena imam yang seharusnya membantu  orang kusta itu untuk mengalami dan mensyukuri kesembuhannya, malahan menghalanginya. Inilah bentuk kepedulian Yesus yang lain.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

4. Orang kusta yang diceritakan dalam Injil adalah wakil dari sekian banyak saudari-saudara kita yang terpinggirkan pada zaman kita sekarang ini. Mereka itu misalnya adalah saudari-saudara kita yang tidak mempunyai Akte Kelahiran atau Kartu Tanda Penduduk, sehingga tidak bisa memperoleh hak-hak mereka sebagai warga negara; saudari-saudara kita yang dicap dengan stigma yang menutup kemungkinan untuk mengembangkan diri; atau yang lebih kasat mata, mereka yang tinggal di jalanan atau di gerobak-gerobak sampah, yang menjadi korban perdagangan manusia, dan mereka yang secara umum bisa disebut direndahkan martabat pribadinya sebagai manusia. Seperti orang kusta dalam Injil mereka juga berseru mohon disembuhkan. Seruan seperti itu, terwakili misalnya dalam seruan seorang remaja putri jalanan  yang diberi kesempatan untuk berbicara dengan Paus dalam kunjungannya ke Filipina baru-baru ini. Sesudah menceritakan riwayat hidupnya sebagai anak jalanan, remaja putri itu berkata, “Bapa Suci, mengapa Tuhan membiarkan anak-anak seperti kami ini dibuang oleh orangtua kami, hidup di jalanan, dilecehkan tanpa ada yang membela kami ….”. Anak itu tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, hanya menangis keras. Dan Bapa Suci pun tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi jeritan hati anak itu selain dengan mendekapnya.

5. Rupanya kenyataan pinggiran seperti ini ada di mana-mana. Oleh karena itu dalam Seruan Apostolik Sukacita Injil, Paus Fransiskus  mengajak kita semua untuk pergi masuk ke tengah-tengah kenyataan pinggiran dalam arti yang seluas-luasnya. Ia menulis, “Sukacitanya dalam mewartakan Yesus Kristus diungkapkan baik dengan kepeduliannya untuk mewartakan-Nya ke wilayah-wilayah yang lebih membutuhkan bantuan maupun dengan senantiasa bergerak keluar ke daerah-daerah pinggiran dari wilayahnya sendiri atau ke lingkungan sosial budaya yang baru” ( No. 30).

6. Kita boleh bersyukur karena di keuskupan kita perutusan untuk pergi ke “pinggiran” semakin dikembangkan secara kreatif. Kita yakin, sekecil apapun yang kita lakukan sebagai bentuk syukur dan kepedulian kita, kita melakukannya dalam usaha kita untuk semakin mengikuti Yesus Kristus, dan tentu saja dalam rangka mewujudkan ajakan Bapa Suci Fransiskus untuk pergi ke pinggiran – dalam arti yang seluas-luasnya. Namun kita tidak boleh berpuas diri, kita dipanggil untuk terus mengusahakan yang lebih lagi.

7. Akhirnya, marilah kita saling mendoakan, agar kita masing-masing, keluarga-keluarga dan komunitas kita serta seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta terus berkembang dan menjadi pribadi-pribadi, keluarga dan komunitas yang semakin bersyukur serta peduli. Semoga semangat Gembala Baik Dan Murah Hati, semakin mendorong kita semua untuk semakin kreatif mewujudkan syukur dan kepeduliaan kita.  Terima kasih atas berbagai peran Ibu/Bapak/Suster/Bruder/Para Imam dan Frater, kaum muda, remaja serta anak-anak dalam kehidupan Gereja Keuskupan Agung Jakarta yang kita cintai bersama. Berkat Tuhan selalu menyertai kita semua, keluarga-keluarga dan komunitas kita.


+ I. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta

Rabu, 04 Februari 2015

Mendekapmu, Tuhan

 
Mendekapmu Tuhan, aku menjadi tenang.
Namaku Lita. Aku bukan seorang ibu yang sangat taat beragama. Bagiku, Tuhan pasti ada. Eksistensinya tidak dapat kupungkiri lagi, terutama ketika aku berhadapan dengan peristiwa atau kejadian sehari-hari yang sulit kupahami dengan nalar. Aku yakin, pendidikan agama yang aku terima sejak kecil punya andil besar menanamkan dalam diriku kesadaran akan eksistensi Tuhan. Ya, Tuhan Maha Tahu. Dia Maha Pengasih lagi Penyayang. Dia mencintai manusia, cinta-Nya tak berkesudahan, dan seterusnya. Bagiku, semuanya ini hanyalah predikat, atribut, atau apapun juga namananya, yang tidak bermakna apapun bagi hidupku. Kalau kemudian aku harus berdoa, itu kulakukan karena rasa malu terhadap kedua orang tuaku.

Meskipun bukan berasal dari keluarga kaya, ayahku cukup punya nama di masyarakat. Dia seorang guru SMA dengan predikat segudang: penuh perhatian, kebapaan, rama, suka menolong, suka mendengarkan, dan—ini  yang sering membuat aku kagum—saleh. Mungkin orang tidak salah menyematkan atribut ini. Ayahku tidak hanya rajin berdoa. Dia juga gemar beramal. Dia sering mengatakan kepada kami anak-anaknya, bahwa hidup ini hampa makna kalau tidak mengandalkan Tuhan. Sebagai anak, saya tahu dengan baik, bahwa ayahku memang seorang yang saleh. Tuhan seakan begitu dekat dan nyata dalam setiap detak jantung dan desah napasnya. Kehadiran Tuhan terasa memenuhi ruang tempat di mana ayahku berpijak.

Dari semua petuah yang pernah dia wariskan, yang satu ini sangat mengusik kesadaranku. Di malam sebelum hari pernikahanku dengan Benny, ayaku berkata, “Zita, ayah hanya berharap agar kamu mau membangun rumah tanggamu di atas fondasi iman yang kokoh.” Ya, aku tahu! Ayah ingin agar aku selalu mengandalkan Tuhan.

Harus kuakui, ini bukan perkara mudah bagiku. Aku seorang arsitek lulusan perguruan tinggi negeri tersohor di ibu kota. Pekerjaanku membiasakan aku berpikir sangat rasional dan terukur. Bagiku, Tuhan memang ada, tapi hanya sebatas mengisi ruang kosong pengalaman atau kejadian yang belum mampu dijelaskan nalar. Aku juga sangat kalkulatif dan mementingkan hasil akhir yang nyata dan terukur. Bagiku, soal ibadah, sedekah, doa berjemaah, praktik-praktik ritual keagamaan, dan sebagainya, lebih sering menyita waktu dari pada membawa keuntungan. Hasil akhirnya pun masih jauh dari jelas.

Begitulah warna dan irama kehidupan aku dan keluargaku di lima tahun pertama perkawinanku. Kalau saja “tragedi” yang menimpa putra tunggalku tidak pernah terjadi, aku barangkali tidak pernah bisa menghayati kehidupan beragama seintensif sekarang. Anakku seorang mahasiswa teknik dan anggota kelompok pencinta alam. Begitu banyak gunung yang yang telah ditaklukkan putraku dan teman-temannya. Dia sering bercerita tentang indahnya muka bumi ketika dipandang dari atas gunung. Dia juga menegaskan betapa kecil dan rapuhnya manusia saat berada di hadapan daya kekuatan alam yang maha hebat. Saya setuju dengan pencerahan batin yang dicapai anakku, bahwa mencapai puncak sebuah gunung butuh penyerahan diri total dalam kerendahan hati pada Sang Khalik yang Maha Tinggi.

Tidak kusangka, itulah kata-kata terakhir yang aku dengar dari mulutnya seminggu sebelum dia bersama keempat rekannya mengadakan pendakian lagi. Dan itu benar-benar menjadi sebuah wasiat yang sangat bernilai artinya, karena setelah itu, anakku tidak pernah kembali. Dia hilang ditelan bumi. Jejaknya tak tercium. Asa untuk mendekap sekali lagi jasad putraku pun sirna ketika tim SAR dibantu petugas menara pemantau memutuskan bahwa anakku dan rekan-rekannya benar-benar hilang.

Sejak kejadian itu, kata-kata ayahku kembali mengusik kesadaranku. Zita, andalkan Tuhan dalam hidupmu! Ya, benar. Aku harus mengandalkan Tuhan, bukan ketika nalarku sudah tidak sanggup lagi mengurai masalah. Juga bukan sebagai semacam hiburan sesaat atas derita batin kehilangan putra kesayanganku. Putraku seakan mengajari aku bagaimana Tuhan harus dicari. Harus dengan keuletan dan kesabaran, harus dengan kekuatan menahan rasa sepi, ketakutan dan ketidakpastian sama seperti yang dilakukan para pendaki gunung. Tapi, yang mungkin membedakan aku dengan putraku adalah bahwa Tuhan “menemukan” aku ketika aku tidak sanggup dan tidak mau mencari diri-Nya. 

Titik balik pun menghampiri hidupku, dan aku  tidak pernah menyesal karena perubahan ini. Tuhan telah membawaku kembali kepada-Nya, bukan semata-mata karena aku kehilangan putraku, tetapi terutama ketika aku lalai memahami kehadiran-Nya. Tuhan telah meluruhkan kebekuan hatiku dan mendekap aku dalam kasih setia-Nya ketika aku lebih mengandalkan kekuatan nalarku. Sejak saat itu dan seterusnya, aku hanya memiliki satu tekad, dan itu sekaligus menjadi untaian doa-doaku saban hari. “Izinkan aku mendaki gunung-Mu, ya Tuhan. Biarkan aku ikut merasakan sunyi sepi jagat ini. Karena Engkau dapat kutemui bukan ketika aku sanggup menaklukkan dunia, tetapi ketika aku sudud dan berserah diri. Total hanya bagi-Mu. Dan semoga orang-orang di sekitarku dan sekalian semesta alam merasakan kehadiran-Mu, sama seperti aku merasakan kehadiran diri-Mu dalam diri ayahku, almarhum.”

Sabtu, 31 Januari 2015

Dialog Antaragama adalah Kunci Menghadapi Kekerasan

Sri Paus Fransiskus: Perdamaian hanya bisa dicapai melalui dialog antaragama.
Sebagaimana diberitakan CNA/EWTN News pada tanggal 25 Januari 2015, Paus Fransiskus mengatakan pada tanggal 24 Januari 2015 bahwa kekerasan hanya bisa diatasi melalui dialog antaragama. Dia menekankan pentingnya dialog antar iman dan keyakinan yang berbeda, dan itulah satu-satunya jalan untuk mempromosikan perdamaian.

Paus Fransiskus mengatakan, “Barangkali sekarang lebih dari pada sebelumnya, keinginan semacam itu sangat dibutuhkan, karena menjadi cara yang paling manjur dalam melawan segala bentuk kekerasan adalah melalui pendidikan ke arah penemuan dan penerimaan berbagai perbedaan.”

Ini dikatakan Paus Fransiskus ketika dia berbicara kepada para anggota Institut Kepausan untuk Studi-studi Arab dan Islam dalam sebuah audiensi yang menandai hari ulang tahun ke-50 dibukanya institusi tersebut.
Pada kesempatan itu, Paus Fransiskus juga memuji usaha keras dari institusi ini dalam mempromosikan dialog Kristen – Islam, sekaligus menekankan pentingnya dialog semacam itu sebagai cara untuk mencapai perdamaian.

“Jika diasumsikan bahwa kita semua menjadi bagian dari sebuah hakikat kemanusiaan, maka prasangka dan salah paham dapat diatasi dan sebuah pemahaman mengenai orang lain dalam perspektif baru dapat dimulai,” demikian ditekankan Paus asal Argentina ini.

Sejalan dengan kemajuan yang sedang dibuat dalam pelaksanaan dialog antar umat beragama, Paus mengatakan bahwa hal semacam ini harus terus ditingkatkan menjadi lebih banyak lagi. Saling mendengar itu dibutuhkan untuk memahami ketika kita saling berbagi keyakinan dan nilai-nilai.
“Di jantung dari setiap hal dibutuhkan sebuah formasi yang memadai sehingga ketika seseorang telah menjadi mantap dengan dirinya sendiri mengenai identitasnya, kita dapat bertumbuh dalam pengetahuan timbal-balik,” demikian Paus Fransiskus.

Pada saat bersamaan, dia memberikan peringatan untuk melawan pendekatan yang salah dalam dialog, yakni menyetujui segala sesuatu demi menghindari konflik dan pertentangan. Ini merupakan cara dialog yang salah.
Mengenai hal ini, Paus Fransiskus pun berkata, “[Dialog semacam ini] hanya akan berakhir dengan penipuan terhadap orang lain dan menyangkal mereka tentang kebaikan yang telah mulai kita bagikan secara sukarela kepada orang lain.

Mengakhiri pidatonya, Sri Paus mendorong institusi itu untuk terus melanjutkan karya mereka dalam mendorong terjadinya dialog inter-religius dan mendorong terus dilanjutkannya karya dalam bidang ini. (Sumber: http://www.catholicnewsagency.com/news/pope-dialogue-between-religions-key-in-countering-violence-32157/)

Senin, 03 Maret 2014

Surat Gembala Prapaskah 2014 [“Dipilih Untuk Melayani”]

(Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa VIII, 1 dan 2 Maret 2014)

Para Ibu/Bapak,
Suster/Bruder/Frater,
Kaum muda, remaja dan anak-anak yang yang terkasih dalam Kristus,

1. Bersama dengan seluruh Gereja, kita akan memasuki masa Prapaskah pada Hari Rabu Abu, tanggal 5 Maret yang akan datang. Menjelang masa Prapaskah ini, kita terhenyak oleh rentetan bencana alam yang datang bertubi-tubi : banjir yang melanda banyak tempat, letusan gunung-gunung, tanah longsor dan gempa bumi membuat kita semua prihatin dan berduka. Semua bencana itu menyisakan kesengsaraan ratusan ribu orang yang kehilangan sanak-saudara, rumah, harta-benda, dan mata pencaharian. Hati kita sesak melihat saudari-saudara kita itu harus hidup di tempat-tempat pengungsian sambil menatap dengan khawatir masa depan mereka. Bencana alam ini seringkali terkait erat dengan bencana moral seperti keserakahan, korupsi, kebohongan publik, rekayasa politik kekuasaan yang pasti tak kalah mengkhawatirkan dan membahayakan negara dan bangsa.

2. Sabda Tuhan pada hari ini berbicara mengenai kekhawatiran. “Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.” (Mat 6:25) Bagaimanakah sabda Tuhan ini kita mengerti? Bukankah hidup kita senantiasa diwarnai dengan kekhawatiran? Bukankah kekhawatiran itu merupakan tanda kepedulian kita terhadap persoalan hidup? Para pengungsi mengkhawatirkan masa depan hidup mereka. Kita pun mengkhawatirkan mereka dan juga masa depan kita sendiri dan anak-anak kita. Kita khawatir akan kemiskinan yang semakin meningkat, kejahatan yang merajalela, moralitas yang semakin rendah. Kita khawatir akan krisis kemanusiaan, krisis kepemimpinan, dan krisis-krisis yang lain, termasuk krisis ekologi yang mengancam lingkungan hidup kita. Kekhawatiran semacam ini merupakan akibat dari sikap peduli yang berasal dari Tuhan yang menyentuh hati kita, menggugah keprihatinan, dan mendorong kita untuk melakukan sesuatu.

3. Lalu apa yang dimaksud dengan “khawatir”dalam sabda Tuhan hari ini? Pada bagian awal kutipan dinyatakan bahwa kesetiaan kepada Allah tidak mungkin dipegang bersamaan dengan kesetiaan kepada Mamon. “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mat. 6:24). Dengan latar belakang ini kita sampai pada kesimpulan bahwa kekhawatiran yang dimaksud di dalam sabda Tuhan adalah kekhawatiran yang menggeser kepercayaan kita kepada Allah dan menggantikannya dengan Mamon, yaitu harta milik, uang. Banyak orang begitu khawatir akan masa depan mereka sehingga bersikap serakah dengan mengambil keuntungan setinggi-tingginya dalam usaha, mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta dengan cara apapun, termasuk cara yang tidak terpuji. Kekhawatiran yang membawa kepada keserakahan mencerminkan ketidakpercayaan kita kepada Allah. Hidup tidak lagi diabdikan untuk kesejahteraan bersama, tetapi untuk menimbun harta; orang bekerja bukan untuk hidup, tetapi untuk mengumbar keserakahan yang adalah berhala (Bdk. Ef 5:5). Kepada orang-orang yang khawatir dan bersikap serakah semacam ini, Yesus bersabda: “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga.” Kekhawatiran yang memicu keserakahan tidak akan memunculkan kepedulian, tetapi justru akan menumpulkan kepekaan sosial, membunuh hati nurani dan menjauhkan siapa pun dari Tuhan dan sesama.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

4. Sejalan dengan keinginan kita untuk menjalani tahun ini sebagai tahun pelayanan, tema yang dipilih untuk Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2014 pada masa Prapaskah ini ialah “Dipilih Untuk Melayani”. Tema ini bisa dibaca dalam dua konteks.

4.1. Dalam konteks gerejawi, memilih dan melayani adalah dua kata yang amat dekat dengan jatidiri kita sebagai murid-murid Kristus. Seperti halnya para murid Yesus yang pertama, kita semua adalah pribadi-pribadi yang terpanggil dan terpilih (bdk Mat 4:18-22). Kita tidak pernah boleh mengatakan, “kebetulan saya juga Katolik”. Keyakinan bahwa kita adalah pribadi-pribadi yang dipilih dan dipanggil seharusnya membuat kita menjadi warga Gereja yang bangga dengan jatidiri kita sebagai murid-murid Kristus. Sementara itu kita juga sadar bahwa kita dipanggil dan dipilih tidak demi kepentingan diri kita sendiri, melainkan untuk mengikuti Yesus yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan hidup demi sesama, demi kebaikan bersama (bdk Mat 20:28). Semoga pesan-pesan iman yang disampaikan lewat tema APP 2014 ini mendorong kita semua untuk “khawatir” dalam arti yang positif, untuk mengasah suara hati dan mengembangkan kepedulian sosial yang berbuah dalam bentuk-bentuk pelayanan yang semakin kreatif.

4.2. Dalam konteks tahun politik, tema itu dikaitkan dengan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden-Wakil Presiden yang akan dilaksanakan pada tahun 2014 ini. Diharapkan semua umat Katolik menggunakan hak pilihnya sebagai bentuk tanggungjawab sebagai warga negara yang baik. Kita memilih dengan cerdas dan menurut suara hati calon-calon yang jelas akan melayani kepentingan atau bekaikan bersama, bukan yang lain. Semoga mereka yang akan terpilih tidak menggantikan Pancasila dengan mamon. Semoga mereka terdorong oleh kekhawatiran yang melahirkan kepedulian dan kemurahan hati, bukan kekhawatiran yang melahirkan keserakahan.

4.3. Sementara itu kita perlu yakin juga bahwa status kita sebagai warga negara Indonesia adalah juga pilihan dan panggilan. Keyakinan ini akan mendorong kita semua untuk semakin menyadari bahwa kita merupakan bagian dari suatu Bangsa dan Negara, yaitu Indonesia. Kita hidup di alam Indonesia sebagai satu bangsa, menggunakan satu bahasa pemersatu walaupun kita berbeda satu sama lain. Sebagai bangsa, kita dipersatukan oleh sejarah yang sama di masa lampau dan cita-cita yang sama mengenai masa depan. Kita juga tahu bahwa cita-cita bangsa Indonesia termuat dalam kelima sila Pancasila. Oleh karena itu setiap bentuk kegiatan atau pelayanan untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila yang amat mulia dan luhur, pastilah juga merupakan bentuk perwujudan iman kita.

5. Untuk memperkaya bekal kita memasuki masa Prapaskah, kita juga ingin belajar dari pesan Paus Fransiskus untuk Masa Prapaskah ini. Judul pesan Paus adalah “Ia telah menjadi miskin supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (Bdk 2 Kor 8:9). Ini adalah landasan rohani yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus agar mereka murah hati dalam membantu saudari-saudara mereka di Gereja Induk Yerusalem yang membutuhkan bantuan karena mereka miskin. Menurut Paus, selain kemiskinan material, berkembang juga pada jaman kita ini kemiskinan moral dan kemiskinan spiritual. Miskin material berarti tidak terpenuhinya hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Miskin moral berarti menjadi budak dosa. Miskin spiritual berarti meninggalkan Allah dan mengabdi Mamon serta kawan-kawannya. Dalam ketiga lapangan kemiskinan itu, kita diundang untuk menjadi “hamba-hamba Kristus dan pengurus rahasia Allah” (1 Kor 4:1), artinya menjadi saksi-saksi kekayaan Kristus yang seluruh hidup-Nya dijalani demi keselamatan manusia seutuhnya dan kemuliaan Allah.

6. Akhirnya bersama-sama dengan para imam dan semua pelayan umat saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Suster/Bruder/Frater/Kaum Muda/Remaja dan Anak-anak sekalian, yang dengan peran berbeda-beda telah ikut mengemban tanggung jawab sejarah Keuskupan Agung Jakarta. Para perintis dan pendahulu kita telah menulis sejarah – artinya meletakkan dasar dan mengembangkan - Keuskupan kita tercinta ini menjadi seperti sekarang ini. Sekarang kitalah yang mesti mengemban tanggung jawab sejarah itu. Marilah berbagai pelayanan sederhana yang kita lakukan dan prakarsa-prakarsa kreatif yang kita usahakan, kita hayati sebagai wujud pelayanan dan pertobatan kita yang terus-menerus, khususnya di masa Prapaskah ini. Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda sekalian, keluarga-keluarga dan komunitas Anda.

+ I. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta.