Senin, 28 September 2009

Rencana Pernikahan yang Terserak




Catatan:

Saya termasuk pembaca Mingguan Hidup yang sangat terkesan dengan kisah ini. Sempat saya diskusikan masalah ini dengan istri saya sambil berdoa semoga Mbak Tatik mendapatkan keteguhan hati dan pendampingan dari Tuhan Yesus sendiri. Saya sengaja memindai dan mempublikasikan tulisan Mbak Maria Etty ini di blog saya ini dengan harapan, semoga semakin banyak orang yang bisa membaca dan menarik hikmah dari peristiwa ini.


Kepedihan menyergap Yacintha Tatik Margiati tatkala ia mendapati tubuh ibunya terpasak kaku di pembaringan. "Padahal, beberapa jam sebelumnya, saya ngobrol dengan ibu lewat telepon," ucapnya lirih.

Kepedihan kian mencengkeram Tatik sewaktu seorang kerabatnya terang-terangan menudingnya sebagai penyebab kepergian ibunya yang mendadak pada 4 Desember 2008. "Karena beberapa hari sebelumnya, saya membatalkan rencana perkawinan saya dengan Frankie Willson," ungkap Tatik.

Tak ada tirasat apa pun menelusuk di hati¬nya bahwa keputusan itu bakal menuai praha¬ra. Apalagi, sang ibu selalu membesarkan hatinya. Wanita berusia 65 tahun itu sang¬gup memendam kekecewaan kendati putri sulungnya telah diperdaya oleh pacarnya.

Padahal, Tatik dan ibunya telah menata rencana pernikahan dengan matang. Buku untuk Misa perkawinan yang sedianya ber¬langsung di Klaten pada 28 Desember 2008 sudah dicetak. Pakaian panitia, koor, dan teks lagu telah siap. Demikian pula baju pengantin dan cincin kawin sudah dipesan. "Persiapan sudah 90 persen," simpul warga Paroki St Anna, Duren Sawit, Jakarta Timur ini.

Namun, semua rencana itu terserak begitu saja seiring raibnya calon mempelai pria. "Ini salib saya," tandas Tatik kelu. Bahkan, selang beberapa hari setelah rencana perni¬kahannya kandas, tempat kerjanya gulung tikar. Tamatan Jurusan Matematika IKIP Semarang ini sempat terhenyak menapaki realita getir hidupnya.

Kekasih seiman

Telah lama Tatik mendambakan pasangan yang seiman. Selama 11 tahun ia pernah ber¬sulang asmara dengan pria berlainan keyakin¬an hingga relasi itu tak kunjung berujung. "Akhirnya, kami putus," beber sulung dart enam bersaudara ini. September 2006, ia ber¬jumpa dengan Frankie dalam pendalaman Kitab Suci di Lingkungan Benediktus XVI, Paroki St Anna, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Tak lama berselang, Frankie kerap me¬nyambangi rumah Tatik. Lantas, Tatik mengajaknya bergabung dalam koor lingkungan. "Kami lekas akrab," ucapnya. Diam-diam, Tatik menyimpan kekaguman karena Frankie punya pengetahuan Kitab Suci yang luas. "Dia pintar sekali mengulas Kitab Suci," lanjut Tatik.

Belakangan, Tatik mengendus bahwa Frankie merupakan mantan frater dari salah satu kongregasi. Hal ini membuat wanita kelahir¬an Klaten, tahun 1963 ini mantap mera¬jut kasih dengan pria berpostur tegap ini. Apalagi, Frankie giat menggereja. "Setiap ada acara lingkungan, ia selalu menjemput saya," kenang Tatik.

Selang sebulan setelah tali perkenalan ber¬pilin, Frankie mulai meminjam uang pada Tatik. "Awalnya, ia meminjam Rp400.000," papar Tatik. Tak lama berselang, ia berhu¬tang Iagi Rp350.000. "Alasannya, untuk membayar kos." Kemudian, Frankie kian leluasa meminjam uang Tatik. Bahkan, lela¬ki itu juga meminjam uang kepada adik dan rekan-rekan Tatik.

Belum sempat hutangnya dilunasi, Frankie kembali meminjam Rp3.000.000 kepada Tatik. Alasannya, sang ayah tengah sakit keras di kampung halamannya. Sepekan kemudian, Frankie kembali lagi meminjam uang Tatik sejumlah Rp1.400.000 karena biaya perawatan sang ayah di rumah sakit membuncit. "Yang terlintas di benak saya, jika saya menikah dengan dia, bapaknya juga akan menjadi bapak saya."

Tatik bagai tersihir oleh perangai Frankie. la tak kuasa menampik hutang demi hutang yang bersusulan. Jumlahnya pun meuggelem¬bung hingga puluhan juta rupiah! Ketika Frankie kesulitan membayar angsuran motor, dengan mudah Tatik menyodorkan pinjaman.

Sapi perah

Seiring waktu bergulir, batin Tatik penat menghadapi rongrongan lelaki itu. "Apalagi bukan hanya uang yang dipinjam, kalung emas saya juga dibawanya," lanjut Talik.

Agustus 2008, Tatik hendak menyudahi re¬lasinya dengan Frankie. "Selama dua tahun saya seperti sapi perah," ujarnya kesal. Se¬ketika sesal menelungkup di hatinya karena selama berpacaran dengan Frankie, lumbung simpanannya bobol. Ternyata, saat ia meng¬utarakan keputusannya itu, Frankie malah meminangnya. Tatik terkesima...

"Saya pikir, ia hanya membutuhkan uang saya saja. Tetapi, saat itu, saya melihat kese¬riusannya meningkatkan hubungan,” imbuh Tatik. Sebelumnya, saat ikut pulang ke Kla¬len, Frankie pernah mengemukakan niatnya hendak menikahi Tatik kepada ibu Tatik.

September 2008, Frankie dan Tutik ntengi¬kuti Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) di Paroki Bonaventura, Pulo Mas, Jakarta Timur. Selanjutnya, Frankie mengajak Tatik mencari rumah di kawasan Cibinong, Jawa Barat. Rencananya, rumah itu akan mereka tempati setelah menikah.

"Dia bilang, hutang-hutangnya akan dibayar untuk uang muka rumah," sambung Tatik getir. Mendengar janji Frankie, batin Tatik terhanyut. la tak lagi memikirkan berapa banyuk uang yang telah ia kucur¬kan kepada Fynkie. "Toh, uang itu akan dibelikan rumah," tukasnya.

Berita bahagia itu lekas beredar di antara teman-teman Tatik dan di kampung halaman¬nya. Sementara itu, Tatik dan ibunya mulai terbenam dalam aktivitas persiapan pernikah¬an. Ibunya mulai membeli sembako untuk keperluan pesta. "Ibu akan memasak sendiri dibantu saudara-saudari," imbuh Tatik.

Perhelatan bersahaja

Tatik dan keluarganya sepakat menggelar perhelatan bersahaja. "Yang penting, setelah Misa ada resepsi sederhana mengundang sau¬dara dan tetangga. Sekitar 250 orang yang akan diundang," urai Tatik. Namun, Frankie menginginkan gebyar pesta. "Kita menikah hanya sekali seumur hidup," dalihnya.

Tatik tak mengindahkan permintaan Fran¬kie. la ingin menyelenggarakan pesta sesuai kondisi kantongnya. Kemudian, ia dan Fran¬kie berbagi anggaran. Tatik menangani urus¬an perhelatan, sedangkan Frankie mengurus Misa dan Catatan Sipil.

Mereka mengurus administrasi perkawin¬an di Paroki St Anna. Sesuai kesepakatan dengan pastor, mereka akan menjalankan penyelidikan kanonisasi pada 25 November 2008. "Tanggal 22 November, saya meng¬ingatkan dia untuk datang," kata Tatik. Ternyata, itulah kali terakhir Frankie bisa dikontak.

Perasaan Tatik serasa ditebah, saat Frankie tak menampakkan batang hidungnya untuk penyelidikan kanonisasi. Lalu, ia meminta pastor paroki untuk membatalkan rencana tersebut. "Tetapi, Romo menyarankan agar ditunda saja,” sitir Talik. Sementara itu, tak terhitung kali Tatik berupaya menghubungi Frankie. Nyatanya, ia harus menelan kekece¬waan.

Tak hanya lewat telepon selular, Tatik juga mendatangi tempat kos Frankie. Hasilnya nihil. Tanpa jengah, ia mencari calon mempe¬lainya ke tempat kerjanya. Semua itu tak mengusung hasil. Frankie raib bak ditelan bumi. Dengan perasaan tak menentu, akhirnya Tatik membatalkan rencana pernikahan¬nya.

la segera tersadar, telah ditipu habis-ha¬bisan oleh Frankie. Jiwa raganya berlumur kecewa. Tetapi, ia bersyukur rencana per¬kawinannya batal. "Kalau sampai menikah dengan dia, bagaimana hidup saya nanti," keluhnya dengan tatapan hampa.

Berbagi kekecewaan

Begitu rencana perkawinannya batal, Tatik segera menghubungi ibunya. la tak ragu ber¬bagi kekecewaan. "Ibu menasihati saya agar ikhlas menghadapi kenyataan ini. Pasrahkan saja kepada Dewi Maria,” ujar Tatik meniru¬kan pesan mendiang ibunya.

Tetapi, Tatik tak menceritakan kepada sang ibu bahwa Frankie telah menggondol uang puluhan juta miliknya. Bahkan, tatka¬la Frankie meminjam uang kepada ibunya sebanyak Rp1.500.000, Tatik tak mengata¬kan bahwa yang membayar hulang itu dirinya, Bukan Frankie.

Tanggal 4 Desember 2008, Tatik kembali menelepon ibunya. Pagi dan sore. "Kami masih ngobrol seperti biasa. Bahkan, ibu bangga karena saya bisa mempertahankan prinsip,” lanjut Talik. Saat petang nyaris bertandang, Tatik menelepon ibunya lagi. "Kami hanya berbicara sebentar karena ibu hendak menutup kandang ayam."

Petang itu Tatik mengikuti ibadat Adven di rumah Ketua Lingkungan Benediktus XVL. Sepulang dari ibadat Tatik mendapati omnya telah menunggu di tempat kos. Sebe¬lum kabar duka meluncur dari mulut adik ibunya, telepon salular Tatik keburu berde¬ring. "Tetangga di kampung memberitahu ibu saya meninggal dunia," katanya sembari berlinang air mata.

Nyatanya, masih ada persoalan lain men¬cegah Tatik. Setelah ibunya tiada, ia kehilang¬an pekerjaan. Selang beberapa hari, telepon selularnya lenyap, dan omnya meninggal. "Saya sampai minta dukungan doa dari leman-teman agar saya tabah menghadapi persoalan yang bertubi-tubi," ungkapnya seraya menebar senyum kecut.

Perasaan kehilangan

Tatik sempat limbung. Ia tak mau mendus¬tai hatinya bahwa kepergian Frankie menyi¬sakan luka sekaligus rasa kehilangan. "Bisa dibayangkan, selama dua tahun kami selalu bersama-sama," kenangnya.

Di mata Tatik, Frankie tampak setia. la tak enggan mengantar Tatik ke mana saja. Setiap kali Tatik pulang dari Klaten, Frankie selalu menjempuntya tanpa mengenal waktu. "Bahkan dini hari pun, ia menjemput saya," kenang Tatik. Berulangkali Frankie mengata¬kan, "Jangan kecewakan kesetiaanku!"

Meski relasi mereka terkait Iekat, Tatik bersyukur tak pernah menyerahkan kehormatannya kepada Frankie. Meski kerap kali lelaki itu mengobral bujuk rayu bahwa ting¬gal selangkah lagi mereka resmi menjadi suami-istri. "Hal itu pula yang membuat ibu saya bangga," tegas Tatik.

Tatik tak meronta pada realita. Setiap hari ia tak lalai melambungkan doa ke haribaan Tuhan. la sungguh menyerap kekuatan dari¬-Nya. "Kalau saya tidak punya Yesus, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada saya..."
Sumber: Maria Etty, Mingguan Hidup Edisi 14 Juni 2009, hlm. 20-21


Pesan untuk Akhir Bulan Suci Ramadhan Hari Raya Idul Fitri 1230H/2009AD
(Dikutip dari Mingguan Hidup, 27 September 2009, hlm. 17-18)

Saudara-saudara umat Islam yang terkasih,

1. Pada Hari Raya, ketika Anda sekalian mengakhiri bulan suci Ramadhan ini, kami ingin menyampaikan kepada Anda seka¬lian Ucapan Selamat kami, disertai dengan harapan akan kedamaian dan kebahagiaan bagi Anda seka¬lian. Melalui Ucapan Selamat ini pula, kami ingin menyampaikan usulan tema yang kiranya dapat menjadi bahan permenungan kita bersama: Umat Kristiani dan Umat Islam: Bersama Mengentaskan Kemiskinan.

2. Ucapan Selamat Idul Fitri yang dikeluarkan oleh Dewan Ke¬pausan untuk Dialog Antar-Umat Beragama seperti ini, telah men¬jadi tradisi yang kita pupuk ber¬sama dan yang senantiasa menjadi kerinduan yang dinantikan setiap tahunnya. Dan ini sungguh-sung¬guh telah menjadi sumber kegem¬biraan kita bersama. Dari tahun ke tahun, di banyak negara, hal ini telah menjadi suatu kesempat¬an untuk perjumpaan dari hati ke hati antara banyak umat Kristiani dan umat Islam. Tidak jarang pula perjumpaan itu menyapa suatu masalah yang menjadi keprihatin¬an bersama, dan dengan demikian membuka suatu jalan yang kondu¬sif ke arah pergaulan yang ditandai oleh rasa saling percaya dan keter¬bukaan. Bukankah semua unsur ini secara langsung dapat dipahami sebagai tanda-tanda persaudaraan di antara kita, yang harus kita syukuri di hadapan Allah?

3. Berkaitan dengan tema kita tahun ini, masalah manusia yang berada dalam situasi kemiskinan adalah sebuah topik yang, dalam pelbagai iman kepercayaan, justru berada di jantung perintah-perintah agama yang kita junjung tinggi. Perhatian, bela rasa, dan bantuan yang kita semua, sebagai sesama saudara dan saudari dalam kemanusiaan, dapat memberikan kepada mereka yang miskin untuk membantu mereka mendapatkan tempat mereka yang sebenarnya di dalam tatanan masyarakat yang ada, adalah sebuah bukti yang hidup dari cinta kasih Allah yang Mahatinggi, sebab justru itulah yang menjadi kehendak¬-Nya, bahwa kita dipanggil-Nya untuk mengasihi dan membantu mereka sebagai sesama manusia tanpa pembedaan yang mengko¬tak-kotakkan.

Kita semua mengetahui, bahwa kemiskinan memiliki kekuatan untuk merendahkan martabat manusia dan menyebabkan pen¬deritaan yang tak tertanggung¬kan. Tidak jarang hal itu menjadi penyebab keterasingan, kemarah¬an, bahkan kebencian dan hasrat untuk membalas dendam. Hal itu dapat memancing tindakan-¬tindakan permusuhan dengan mempergunakan segala macam cara yang mungkin, bahkan tidak tanggung-tanggung memberi¬nya pembenaran diri melalui landasan-landasan keagamaan, atau dengan merampas keka¬yaan seseorang bersama dengan kedamaian dan rasa amannya, atas nama apa yang dianggapnya sebagai “keadilan ilahi”. Itulah sebabnya, mengapa apabila kita memperha¬dapkan gejala-gejala ekstremisme dan keke¬rasan, tidak boleh tidak kita harus mengikut¬sertakan juga perihal penanganan kemiskinan dengan memajukan pengembangan manusia seutuhnya. Inilah yang oleh Paus Paulus VI disebutnya sebagai “nama baru untuk perda¬maian” (Ensiklik Populorum Progressio, No. 42). Dalam Ensikliknya yang baru, Caritas in Veritate, sebuah ensiklik yang membahas pengembangan manusia secara integral mela¬lui cinta kasih dan kebenaran, Paus Benediktus XVI, sambil memperhitungkan juga usaha-¬usaha yang dewasa ini sedang dilupakan untuk memajukan pengembangan, menggaris¬bawahi adanya kebutuhan pada “suatu sin¬tese kemanusiaan yang baru” (No. 31), yang dengan mempertahankan keterbukaannya ter¬hadap Allah, dapat memberikan kepadanya kedudukannya sebagai “pusat dan puncak” dunia ini (No. 57). Oleh karena itu, haruslah diupayakan terciptanya suatu pengembangan yang sejati “bagi manusia seutuhnya dan bagi setiap orang” (Populorurn Progressio, No. 42).

4) Dalam pidatonya pada kesempatan Hari Perdamaian sedunia, pada 1 Januari 2009, Paus Benediktus XVI membedakan dua ma¬cam kemiskinan: yakni kemiskinan yang harus diperangi dan kemiskinan yang harus dirangkul. Kemiskinan yang harus diperangi ini diketahui oleh semua orang: misalnya ke¬laparan, tidak adanya air bersih, pelayanan kesehatan yang sangat terbatas, papan tempat tinggal yang kurang memadai, tatanan pen¬didikan dan kebudayaan yang tak memadai, tuna-aksara, belum lagi bentuk-bentuk baru kemiskinan “di dalam masyarakat yang kaya, di mana terdapat pula bukti-bukti masih ada¬nya marginalisasi, sepeiti juga adanya kemis¬kinan afektif, moral, dan spiritual...” (Pesan untuk Hari Perdamaian sedunia, 2009, No 2).

Adapun kemiskinan yang harus dirangkul adalah gaya hidup sederhana dan mendasar, yang menghindarkan pemborosan dan meng¬hormati lingkungan serta kebaikan ciptaan. Kemiskinan ini dapat juga, sekurang-kurang¬nya pada saat-saat tertentu dalam satu tahun, mengambil bentuk berupa laku mati raga dan puasa. Ini adalah kemiskinan yang menjadi pilihan sadar kita dan yang memungkinkan kita melewati batas diri sendiri, dan memperluas wawasan hati kita.

5) Sebagai orang beriman, kerinduan un¬tuk menjalin kerjasama untuk mencari cara yang tepat dan dapat bertahan lama untuk memecahkan masalah pengentasan kemiskin¬an, tentu juga harus disertai dengan refleksi terhadap masalah-masalah berat zaman kita sekarang ini dan, apabila mungkin, juga de¬ngan saling berbagi keprihatinan yang sama untuk mencabut sampai ke akar-akarnya per¬masalahan itu. Dalam pandangan ini, pembahasan tentang segi-¬segi kenuskinan yang terkait dengan gejala globalisasi dalam ma¬syarakat kita dewasa ini, memiliki pula dampak spiritual dan moral, karena kita se¬mua turut mengambil bagian dalam pang¬gilan yang sama untuk membangun satu kelu¬arga umaT manusia, di mana semuanya, baik pribadi-pribadi per¬seorangan, maupun suku dan bangsa, ma¬sing-masing bertindak sesuai dengan prinsip-¬prinsip persaudaraan dan rasa tanggung jawabnya.

6) Dengan mem¬pelajari secara sek¬sama gejala-gejala kamiskinan tersebut, kita bukan saja akan dibawa sampai ke¬pada asal-usul perma¬salahannya, yakni kurangnya rasa hor¬mat kepada marta¬bat kodrati manusia; tetapi juga seharusnya mengundang kita untuk membentuk suatu solidaritas global, misalnya melalui pene¬rapan suatu “kode etik bersama” (Paus Yohanes Paulus II, Pidato kepada Akademi Kepausan untuk Ilmu Pengetahuan Sosial, 27 April 2001, No. 4), yang norma-normanya bukan saja memiliki karakter konvension¬al, tetapi yang tidak boleh tidak harus juga berakar pada hukum alam yang telah disurat¬ka.n oleh Sang Khalik sendiri di dalam hati nurani setiap orang (bdk Rom 2:14-15).

7) Rupanya, di pelbagai tempat di dunia ini, kita sudah melewati jenjang toleransi dan memasuki era pertemuan bersama, mu¬lai dengan pengalaman-pengalaman hidup yang kita hayati bersama dan dengan berbagi keprihatinan nyata yang sama pula. Ini merupakan sebuah langkah maju yang penting. Dalam membagikan kepada setiap orang kekayaan hidup doa kita, puasa kita dan sa¬ling cinta kasih kita satu sama lain, tidak mungkinkah hal ini semua akan semakin menjadi daya dorong bagi dialog dari orang¬orang yang justru sedang berada dalam zia¬rah menuju kepada Allah?

Kaum miskin bertanya kepada kita, me¬nantang kita, tetapi di atas semuanya itu mereka mengundang kita untuk bekerjasama untuk urusan masalah yang mulia ini, yakni mengentaskan kemiskinan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Dewan Kepausan untuk Dialog Antar-Umat Beragama
Jean-Louis Cardinal Tauran – Ketua
Uskup Agung Pier Luigi Celata – Sekretaris

St. Theophane Venard (1829-1861): Hidup dalam Kemartiran



Tujuan hidupnya begitu mulia. la ingin menjadi imam. Hal ini¬lah yang membuat Theophane Venard tidak takut menghadapi bahaya maut, termasuk ketika ia dikirim menjadi misionaris di Vietnam.

Sejak muda, Theophane Venard su¬dah merasakan bahwa suatu saat ia akan mempersembahkan hidupnya menjadi martir. la tidak gentar menjalani kehidupan. Dengan rela, ia ditahbiskan menjadi imam.

Theophane Venard adalah seorang imam Perancis yang saleh. Semasa mudanya, ia sudah berangun-angan menjadi imam. la ma¬suk seminari untuk bergabung dengan para misionaris di Paris, Perancis. Mendengar hal ini, keluarganya sangat sedih. Mereka sangat mengasihi Theophane Venard. Mereka amat sedih memikirkan nasibnya. Mereka meyakini bahwa dengan menjadi misionaris, ia akan meninggalkan keluarganya.

Setelah menerima tahbisan imam, Theo¬phane berangkat ke Hong Kong untuk men¬jalani perutusannya sebagai misionaris. la memulai pelayaran ke Hong Kong, Septem¬ber 1852. Di tengah lautan lepas, Theophane Venard senantiasa menyandarkan hidupnya pada Tuhan yang memanggilnya.

Setibanya di Hong Kong, Theophane be¬lajar beberapa bahasa asing selama lebih dari satu tahun. Kemudian, ia melanjutkan perjalanan menuju Tongking, Vietnam. Tongking merupakan tempat perutusannya yang baru.

Ada dua rintangan yang menghambatnya dalam berkarya, yakni kesehatannya yang buruk dan penganiayaan dahsyat oleh peme¬rintah setempat. Meski begitu, ia tetap gigih memperjuangkan iman dan semangat dalam berkarya.

Seringkali ia menulis surat kepada sauda¬rinya di Perancis. la banyak bercerita ten¬tang perjalanan dan pergulatannya melolos¬kan diri dari penganiayaan. la pun bekerja keras melayani umat setempat, meskipun akhirnya ia tertangkap juga. la dirantai dan dimasukkan ke dalam penjara selama tiga bulan.

Di dalam penjara, Theophane tetap me¬nunjukkan sikap lemah lembut. Sikapnya ini meluluhkan hati semua orang, termasuk para sipir penjara. Karena kebaikan para si¬pir di penjara inilah ia diperkenankan menu¬lis surat kepada keluarganya. Dalam surat¬nya, Theophane mengatakan, “Semua orang di sekitarku adalah orang yang beradab dan sopan. Banyak di antara mereka yang me¬ngasihiku, termasuk para pejabat tinggi. Aku tidak disiksa seperti saudara-saudaraku yang lain."

Simpati para sipir di penjara tidak dapat menolong nyawa Theophane. Setelah kepala Theophane Venard dipenggal, banyak umat datang untuk mencelupkan saputangan me¬reka pada darahnya.

Dia wafat sebagai martir pada 2 Februari 1861. la dinyatakan kudus oleh Paus Yoha¬nes Paulus II pada 19 7uni 1988. la adalah salah seorang martir Vietnam yang pestanya dirayakan setiap 14 November.

Robertus Wawan Setyawan (Dikutip dari Mingguan Hidup, 27 September 2009, hlm. 19)

Maria Bunda Penolong



Maria Bunda Penolong merupakan sebutan dan devosi umat Katolik kepada Bunda Maria, Bunda Yesus. Dalam Bahasa Latin, devosi kepada Maria Bunda Penolong disebut dengan nama SANCTA MARIA AUXILIUM CHRISTIANORUM. Bahasa Inggris menyebutnya sebagai Mary Help of Christian. Devosi ini dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan nama Maria Bunda Penolong atau juga Maria Pertolongan orang Kristen.

Seruan Maria Bunda Penolong (Auxilium Christianorum) sebenarnya berasal dari abad ke-16. Pada tahun 1576 Bernardino Sirilus, pastor kepala di Loreto, menerbitkan di Macerreta dua litani bagi Bunda Maria, yang kemudian digunakan dan menjadi populer di Loreto. Satu litani isinya sangat berbeda dengan yang kita gunakan sekarang, sementara satu litani lagi yang dikemudian hari menjadi identik dengan litani Loreto, disetujui oleh Klemens VIII pada tahun 1601 dan digunakan di seluruh gereja Katolik, sampai sekarang. Bentuk litani kedua inilah yang di dalamnya dapat ditemukan seruan Maria Bunda Penolong (dalam Puji Syukur diterjemahkan sebagai MARIA PERTOLONGAN ORANG KRISTEN).

Mengapa litani dan seruan Maria Bunda Penolong menjadi sangat populer di Eropa pada abad ke-16? Tradisi gereja Katolik mengatakan bahwa para tentara Katolik yang pulang dari perang di Lepanto (sekarang salah satu wilayah Yunani) (7 Oktober 1571) menyempatkan diri untuk mengunjungi dan berdoa kepada Bunda Maria di Basilika di Loreto, dan mengumandangkan untuk pertama kalinya seruan Maria Bunda Penolong ini. Seruan ini sebenarnya merupakan variasi dari seruan atau litani lama PEMBELA ORANG KRISTEN (Advocata Christianorum) yang sudah ada dalam litani Bunda Maria sejak tahun 1524. Torsellini (1597) dan Brevir Roma (24 Mei, Lampiran) menyebut bahwa Pius V memasukan seruan Maria Bunda Penolong ini dalam litani Loreto setelah perang di Lepanto.

Orang Katolik, terutama tentara Katolik yang berperang melawan tentara Islam (Turki) di Lepanto pada waktu itu sangat percaya, bahwa kemenangan yang mereka peroleh adalah berkat pertolongan Maria Bunda Penolong. Sejarah mengisahkan, bahwa perang antara tentara Katolik dan Islam di Lepanto bukanlah perang yang ringan dan mudah. Perang itu sendiri meletus pada tanggal 7 Oktober 1571, hari di mana orang Katolik sendiri merayakan pesat Rosario Maria. Pada waktu itu Konstantinopel sudah dikuasai oleh orang Islam sejak tahun 1453, dan setelah itu praktis seluruh daerah di Eropa Timur berada di bawah kekuasaan Islam. Tinggal yang belum dikuasai adalah Eropa Barat. Maka, tentara Islam Turki bergerak ke Barat bermaksud menyerang dan menguasai Eropa Barat. Tentara Islam Turki mengoperasikan 245 kapal perang dan sekitar 88 ribu tentara di bawah komando Ali Pasha, memasuki Teluk Patras, sekitar 50 kilometer dari Lepanto (Yunani). Di sana mereka di hadang oleh 205 kapal perang dan sekitar 84 ribu tentara Katolik di bawah komando Don John dari Austria. Perang sengit terjadi. Ali Pasha sendiri terbunuh bersama sekitar 30 ribu tentara Islam Turki dan mereka bisa diusir dari Eropa Barat

Ketika perang ini akan dan sedang berkecamuk, Paus Pius V menyeruhkan kepada seluruh umat Katolik untuk berdoa dan berdevosi kepada Maria Bunda Penolong. Umat Katolik menanggapi seruan Paus ini dan berdoa tidak henti-hentinya kepada Maria Bunda Penolong, semoga Bunda Maria sendiri ikut campur tangan dengan menolong tentara Katolik yang sedang berperang di Lepanto. Maka, ketika perang berakhir dengan kemenangan di pihak tentara Katolik, kemenangan ini dipahami sebagai kemenangan karena bantuan Bunda Maria. Doa dan devosi kepada Maria Bunda Penolong sungguh-sungguh membuahkan hasil.

Pesta peringatan kepada Maria Bunda Penolong sendiri ditetapkan pertama kali oleh Paus Pius VII yang jatuh pada tanggal 24 Mei setiap bulan. Diceritakan bahwa Napoleon Bonaparte memerintahkan tentaranya untuk menangkap dan menawan Pius VII pada tanggal 5 Juli 1808 dan menjadi tawanan Napoleon di Savona selama tiga tahun, yang kemudian dilanjutkan di Fontainebleau. Pada bulan Januari 1814, setelah perang di Leipzig, Pius VII dibawa kembali ke Savona dan kemudian dibebaskan oada tanggal 17 Maret 1814, malam sebelum pesta Bunda Maria Berbelaskasihan, pelindung kota Savona. Perjalanan Paus Pius VII kembali ke Roma setelah itu merupakan pawai kemenangan. Sri Paus sendiri mengucap syukur dan berterima kasih kepada Bunda Maria yang sudah mendampingi Gereja Putra-Nya selama masa penganiayaan. Dalam perjalanan pulang ke Roma itu Paus Pius VII dan rombongannya singgah dan berdoa di banyak gereja dan basilika Bunda Maria dan mempersembahkan bunga-bunga kepada Bunda Maria. Sepanjang perjalanan itu pula ribuan umat Katolik mengeluh-eluhkan Pius VII karena telah bebas dari ancaman Napoleon.

Sri Paus Pius VII memasuki kota Roma pada tanggal 24 Mei 1814 dan disambut secara sangat meriah oleh umat Katolik di Roma. Untuk mengenang seluruh penderitaannya selama penganiayaan dan pengasingan dan seluruh penderitaan Gereja, Pius VII memperluas pesta Tujuh Kedukaan Maria yang jatuh pada minggu ketiga bulan September untuk dirayakan di seluruh Gereja Katolik pada tanggal 18 September 1814. Ketika Napoleon meninggalkan Elba dan kembali ke Prancis, Yoakim Murat, salah satu jenderal Napoleon yang berkuasa di Napoli bersiap-siap melakukan pawai unjuk kekuatan melewati negara yang dikuasai Paus Pius VII, berangkat dari Napoli. Pius VII sendiri segera meninggalkan Roma dan kembali ke Savona (Prancis), di mana di sana dia mentahtakan patung Maria Bunda Berduka pada tanggal 10 Mei 1815.

Setelah kongres Wina dan perang Waterloo, Pius VII kembali lagi ke Roma pada tanggal 7 Juli 1815. Untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Allah dan Bunda Maria, Sri Paus Pius VII pada tanggal 15 September 1815 menetapkan pesta Maria Bunda Penolong untuk dirayakan di seluruh negara kepausan pada tanggal 24 Mei.

Devosi dan pesta Maria Bunda Penolong setiap tanggal 24 Mei dihidupkan dan disebarluaskan ke seluruh dunia oleh St. Yohanes Bosco dan para pengikutnya (imam-imam dan suster-suster Salesian). Dalam hidupnya, Don Bosco sendiri mengalami penampakan Bunda Maria kepada dirinya pada tahun 1844. Pada waktu itu Bunda Maria meminta Don Bosco membangun gereja dan mendedikasikan gereja itu kepada Maria Bunda Penolong. Dalam penampakan itu Bunda Maria menunjukkan kepada Don Bosco seluruh penderitaan yang akan dialami gereja karena penganiayaan dan kebencian. Bunda Maria mengatakan kepada Don Bosco bahwa gereja hanya bisa ditolong jika seluruh umat berdoa 3 kali salam Maria setiap hari diselingi dengan seruan Maria Bunda Penolong seusai mengucapkan satu kali Salam Maria.

Don Bosco mengikuti seluruh perintah Bunda Maria itu. Dia segera mencari dana dan membangun sebuah basilika besar di Turin yang didedikasikan kepada Maria Bunda Penolong. Basilika ini selesai dibangun pada tanggal 9 Juni 1868 dan menjadi pusat devosi kepada Maria Bunda Penolong bagi umat Katolik sedunia.

RELEVANSI

Wilayah yang baru dibentuk ini diberi nama Wilayah MARIA BUNDA PENOLONG. Nama ini sangat tepat, karena devosi kepada Maria Bunda Penolong biasanya dipraktikkan umat Katolik ketika sedang berada dalam kesusahan dan ancaman,terutama dari kelompok agama lain. Seperti Bunda Maria menunjukkan dirinya sebagai seorang IBU yang MENOLONG anak-anaknya ketika berperang melawan tentara Islam, Bunda Maria saat ini juga akan terus menjadi IBU yang siap MENOLONG kita anak-anaknya.

Maria Bunda Penolong dewasa ini menjadi pelindung ribuan gereja dan negara. Gereja Cina dan Australia, misalnya, menggunakan nama Maria Bunda Penolong sebagai pelindung mereka. Sementara di negara-negara Eropa, Amerika Latin, Asia, Afrika, dan Australia, devosi kepada Maria Bunda Penolong tidak hanya populer, tetapi juga sangat membantu.

Pada akhirnya, marilah kita semua mengikuti anjuran devosi kepada Maria Bunda Penolong yang dikataka Don Bosco. Kita diminta untuk menyampaikan intensi kita kepada Bunda Maria, lalu mendoakan 1 kali Bapa Kami dan 3 kali Salam Maria. Di akhir setiap Salam Maria kita mengucapkan: Maria Bunda Penolong, Doakanlah kami. Inilah doa dan devosi sederhana kita kepada Maria Bunda Penolong.

Ditulis oleh Jeremias Jena,
Umat Wilayah Maria Bunda Penolong (8 Mei 2009)

St Yohanes Bosco (1815-1888): Bapa dan Guru Kaum Muda

"Bagi kalian saya belajar, bagi kalian saya bekerja, dan bagi kalian saya bahkan rela menyerahkan seluruh hidup saya."

UNGKAPAN Yohanes Milkheor Bosco uu ditujukan kepada kaum muda, seba¬gaimana eelumh hidupnya juga diper¬sembahkan bagi kaum muda. Kim, karyanya diteruskan dua serikat yang ia dirikan, yaitu Salesian Don Bosco (SDB) dan Serikat Putri¬Putri Maria Penolong Umat Kristiani (FMA). Yohanes Bosco, putra dari pasangan Fran¬sesco Bosco dan Margaretha Oehiena. la la¬hit pada 16 Agustus 1815 di Beichi, desa kecil di CasteJ Nuovo-Turin, Italia Utara. Ayahnya meninggal ketika iabaru berumur tiga tahun. Yohanes melewati hari-harinya bersama saudara dan ibunya.

la harus beketja keras di kebun, memban¬tu ibunya sebagai petani. Sebagai anak peta¬ni miskin, Yohanes ingin menjadi imam. Ketika itu, hanya anak keluarga kaya dan bangsawan yang bisa bersekolah.

Untuk mewqjudkan impian anaknya, Mar¬garetha Ochiena menitipkan Yohanes kecil pa¬da sebuah keluarga kaya untuk bekerja di sana. Upah Yohanes digunakan untuk biaya sekolah. Akhirnya, berkat kerja kerasnya dan bantuan orang yang bemmrah hati, Yohanes masuk se¬minari. Tahun 1841, pada usia 26 taMm, ia di¬tahbiskan meqjadi imam Diosesan Turin.
Anak jalanan
Sebagai imam muda, Don Bosco tidak langsung berkarya. Pembimbing rohaninya, Don Yosep Cafaso memintanya melanjutkan studi Moral di Convito de Ekleiastico. Selama studi, ia selalu metuangkan waktu untuk ber¬temu dengan kaum muda pada hat i Minggu.

Dalam setiap pertemuan, Don Bosco yang sangat pandai di bidang akrobatik, sit'kus, dan sulap, selalu menghibur anak-anak yang hadir. Ia juga memberikan katekese sederha¬na sebagai bekal rohani bagi anak-anak ja¬lanan. Kemtan ini disebut nrutori.

Orator( berarti tempat untuk bergembira, bernyanyi, dan berdoa. Pada akhir pertemu¬an biasanya Don Bosco mengundang mere¬ka untuk datang la,i pada hari Minggu beri¬kutnya. Masing-masing anak harus memba¬wa seorang teman barn.

Semakin hari jumlah mereka semakin ba¬nyak. Don Bosco mulai kewalahan, lebih-le¬bih karena mereka tidak memiliki tempat yang tetap untuk oratori. Namun, dengan mengandalkan penyelenggaraan Ilahi.Don Bosco selalu menemukan jalan keluar.
Dvlam kebersamaan itu, Don Bosco me¬nenmkan bahwa kaum nwda atau anak-anak jalanan ini memiliki banyak bakat. Akhir¬nya, ia berinisiatif membekali mereka de ngan keterampilan, disertai dengan pelajar¬an ketekismus. Anak-anak yang pandai dise¬kolahkan di seminari.

Anak-anak yang menjadi seminaris ini ke¬mudian membantu Don Bosco. Tahun 1859, Michel Rua dan beberapa temannya mem¬buat janji akan menyerahkan diri kepada Tuhan densan membantu Don Bosco mem¬bimbing anak-anak jalanan di Turin. De¬ngan demikian, lahirlah sebuah serikat baru dalam Gereja. Ironisnya, serikat ini berdiri pada saat banyak serikat religius dibubarkan Takhta Suci.

Don Bosco mendirikan kongregasi agar dapat memperhatikan kaum muda secara khusus melalui pcndidikan. Ka¬rena itu, hingga saat ini Salesian selalu identik dengan pendidik¬an kaum muda. Kekhasan pen¬didikan ala Don Bosco adalah sistem preventif, sesuai dengan kondisi anak jalanan waktu itu.

Karena anak-anak orarori adalah anak-anak jalanan yang keras, Don Bosco berpendapCu bahwa mereka tidak bisa dididik secara kerae. Ada tiga prinsip sebagaF pilar sistem ini, yakni agama, kebaikan hati dan cinta, serta akal budi. Untuk itu, Don Bosco dan para Salesian harus selalu hadir di tengah mereka.

Setslah mendirikan serikat Sa¬lesian Don Bosco (SDB') yang ha¬nya melayani laki-laki, Don Bos¬co ingin mendirikan kongregasi suster-suster untuk melayani pe¬rempuan. Bersama Maria Domini¬ka Mazzarello. ia mendirikan kongregasi Suster-Suster Putri¬Puhi Maria Penolong Umat Kris¬tiani (FMA). Kharisma dan sistem pendidikan kedua serikat ini sama.

Memasuki tahun 1887, kese¬ha[an Don Bosco mulai menurun. la menghembuskan napas terakhir pada 31 Januari 1888. Tahun 1907, Paus Pius X menyatakan Don Bosco sebagai Venerabilis. Pairs Pius XI menyatakan Don Bosco sebagai Beato pada 1927, ddn dengan resmi menyatakan Don Boco sebagai Santo pada t April 1934. Toni Berek SDB

Kamis, 20 Agustus 2009

CINTA DAN PERKAWINAN

Suatu hari, Plato bertanya kepada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa mendapatkannya?”

Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum terbentang luas di depan sana. Berjalanlah maju tanpa boleh berbalik atau mundur kembali. Jika kamu menemukan satu berkas yang menurutmu paling mengagumkan, ambillah. Itu artinya engkau telah menemukan cinta.”

Plato berjalan menyusuri ladang gandum dan akhirnya kembali dengan tangan kosong. Gurunya bertanya, “Mengapa engkau tidak membawa satu berkas pun?” Plato menjawab,

“Sebab saya hanya boleh membawa satu berkas saja, dan pada waktu berjalan tidak boleh berbalik ataupun mundur kembali. Sebenarnya saya telah menemukan satu berkas yang paling mengagumkan, tetapi saya tak tahu apakah ada berkas yang lebih mengagumkan lagi di depan sana, jadi tidak saya ambil berkas tersebut. Ketika saya melanjutkan perjalanan lebih jauh, baru saya sadari bahwa berkas-berkas yang saya dapati kemudian tidak sebagus berkas yang tadi. Jadi pada akhirnya saya tidak mengambil satu berkas pun.”

Gurunya menjawab, “Ya itulah cinta.”

Di lain waktu, Plato bertanya pula kepada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa mendapatkannya?”

Gurunya menjawab, “Ada hutan yang subur lebat terbentang di depan sana. Berjalanlah maju tanpa boleh berbalik atau mundur kembali. Jika kamu menemukan satu pohon yang menurutmu paling elok, tebanglah. Itu artinya engkau telah menemukan perkawinan.”

Plato berjalan, dan kemudian kembali dengan membawa sebatang pohon. Pohon yang dibawanya bukanlah pohon yang teramat elok, segar dan rimbun, tidak juga yang paling tinggi; melainkan biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu menebang pohon macam itu?” Plato pun menjawab,

“Sebab, berdasarkan pengalaman sebelumnya, setelah menjelajah seluruh hutan, ternyata nantinya saya akan kembali dengan tangan kosong. Jadi, ketika saya melihat pohon ini, saya pikir ia cukup baik dan saya menyukainya, maka saya putuskan untuk menebangnya dan membawanya ke sini. Saya tak hendak kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya.”

Gurunya pun menjawab, “Dan ya itulah perkawinan

Mengapa Cincin Perkawinan Dikenakan di Jari Manis?

Ibu Jari mewakili orangtua.
Jari Telunjuk mewakili saudara dan saudari.
Jari Tengah mewakili diri sendiri.
Jari Manis mewakili pasangan hidup.
Jari Kelingking mewakili anak-anak.

Tangkupkan kedua telapak tangan; jari tengah ditekuk ke dalam. Coba pisahkan empat pasang jari yang tersisa. Engkau akan heran bahwa engkau tak dapat memisahkan pasangan jari manis, yang mewakili pasangan hidupmu

Aku Mencintaimu

KapanLagi.com - "I love you...", apa yang terlintas di benak Anda ketika ada seseorang yang mengatakan itu? Gombal! penuh rayuan! sok manis! dasar buaya ah apalagi ya? Yah gitu deh, pastinya hal-hal negatif langsung menari-nari di benak kita. Memang sih hal itu realistis juga, apalagi jika kita pernah kecewa dan disakiti.

Tapi tunggu dulu, dengarkan cerita Celena, gadis kecil yang mengenal arti cinta yang indah dan tak terlupakan sepanjang hidupnya. Celena adalah gadis kecil berusia 10 tahun, sedang beranjak dewasa, dan selalu ceria. Ayah dan ibunya adalah team yang selalu kompak. Bisa dikatakan pasangan serasi yang selalu penuh cinta.

Setiap detik dan menit mereka tak pernah berhenti mengungkapkan perasaan betapa mereka sangat mencintai pasangannya, dan putri kecilnya. Kecupan manis bertebaran di mana-mana. Seringkali pasangan ini ditanya oleh temannya, "apakah kalian tidak bosan selalu mengatakan cinta satu sama lain?","Memangnya kalian tidak pernah ketemu setiap hari?","Seperti baru pacaran saja","Sok romantis!"," Menjijikkan" , dan lain sebagainya.

Celena terbiasa dengan ungkapan cinta yang selalu diucapkan ayah dan ibunya, sampai suatu waktu ia terngiang-ngiang perkataan yang selalu dilontarkan teman-teman ayah dan ibunya. Pernah juga Celena dicibir teman-temannya tentang hal itu. Sampai suatu pagi, Celena duduk diam di meja makan tanpa berkomentar dan tak menyentuh sarapan paginya. Ketika Ayah dan ibunya bertanya Celena hanya diam.

Ia kemudian mengambil tasnya dan bergegas berangkat ke sekolah. Ibu Celena mengejarnya, "Celena, ada yang tertinggal sayang". Celena berhenti sejenak, ibunya mengulurkan bekal sarapan yang tadi tak disentuhnya, "Ini bekalnya, Ibu mencintaimu Celena", saat ibu Celena ingin mencium kening Celena tiba-tiba Celena berteriak, "Ibu, kenapa sih selalu bilang Ibu cinta aku? Aku tau ibu sayang aku, tapi tidak bisakah ibu berhenti mengucapkan hal itu? Aku bosan bu! Aku malu!" Celena berlari menuju sekolahnya. Ibunya hanya terdiam meneteskan air mata dan berbisik, "Ibu sayang kamu Celena."

Hari itu rupanya hari terakhir Celena bertemu dengan ibunya, Celena tak pernah tahu bahwa ibunya menderita kanker selama ini. Keceriaan dan semangat cinta ibunya menutup semua rasa sakit yang dirasakan ibu Celena.

Ayah Celena memeluk dan menghapus air mata yang menetes di pipi Celena. Ia kemudian bertanya, "Celena mengapa bersedih? coba apa yang dikatakan ibumu tadi pagi?", dengan terisak Celena menjawab, "Ibu mencintaiku ayah." Ayahnya yang masih memeluknya dengan tersenyum berkata, "beruntunglah kita Celena, saat terakhir ibu meninggal di pelukan ayah, ia juga mengatakan hal yang sama, dan ayah tak pernah menyesal, karena selama ini ayah sempat mengatakan hal yang paling indah untuk ibu, bahwa ayah mencintainya. "

Celena menghapus air matanya dan kembali tersenyum. Selagi ayahnya masih ada di sampingnya, Celena berkata, "Ayah, aku mencintaimu. " Dan seterusnya Celena sering mengatakan cinta pada ayahnya, tanpa rasa malu, tanpa rasa ragu, hanya perasaan sungguh-sungguh dan ketulusan.

Sekarang, masihkah kalimat "Aku mencintaimu" menjijikkan bagi Anda? Jangan pernah ragu mengatakan kepada semua orang yang Anda cintai bahwa Anda mencintainya. Karena kalimat itu sungguh berarti jika Anda tulus mengucapkannya. (kpl/bee)