Senin, 03 Maret 2014

“Dipilih Untuk Melayani”

Surat Gembala Prapaskah 2014

(Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa VIII, 1 dan 2 Maret 2014)

Para Ibu/Bapak,
Suster/Bruder/Frater,
Kaum muda, remaja dan anak-anak yang yang terkasih dalam Kristus,

1. Bersama dengan seluruh Gereja, kita akan memasuki masa Prapaskah pada Hari Rabu Abu, tanggal 5 Maret yang akan datang. Menjelang masa Prapaskah ini, kita terhenyak oleh rentetan bencana alam yang datang bertubi-tubi : banjir yang melanda banyak tempat, letusan gunung-gunung, tanah longsor dan gempa bumi membuat kita semua prihatin dan berduka. Semua bencana itu menyisakan kesengsaraan ratusan ribu orang yang kehilangan sanak-saudara, rumah, harta-benda, dan mata pencaharian. Hati kita sesak melihat saudari-saudara kita itu harus hidup di tempat-tempat pengungsian sambil menatap dengan khawatir masa depan mereka. Bencana alam ini seringkali terkait erat dengan bencana moral seperti keserakahan, korupsi, kebohongan publik, rekayasa politik kekuasaan yang pasti tak kalah mengkhawatirkan dan membahayakan negara dan bangsa.

2. Sabda Tuhan pada hari ini berbicara mengenai kekhawatiran. “Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.” (Mat 6:25) Bagaimanakah sabda Tuhan ini kita mengerti? Bukankah hidup kita senantiasa diwarnai dengan kekhawatiran? Bukankah kekhawatiran itu merupakan tanda kepedulian kita terhadap persoalan hidup? Para pengungsi mengkhawatirkan masa depan hidup mereka. Kita pun mengkhawatirkan mereka dan juga masa depan kita sendiri dan anak-anak kita. Kita khawatir akan kemiskinan yang semakin meningkat, kejahatan yang merajalela, moralitas yang semakin rendah. Kita khawatir akan krisis kemanusiaan, krisis kepemimpinan, dan krisis-krisis yang lain, termasuk krisis ekologi yang mengancam lingkungan hidup kita. Kekhawatiran semacam ini merupakan akibat dari sikap peduli yang berasal dari Tuhan yang menyentuh hati kita, menggugah keprihatinan, dan mendorong kita untuk melakukan sesuatu.

3. Lalu apa yang dimaksud dengan “khawatir”dalam sabda Tuhan hari ini? Pada bagian awal kutipan dinyatakan bahwa kesetiaan kepada Allah tidak mungkin dipegang bersamaan dengan kesetiaan kepada Mamon. “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mat. 6:24). Dengan latar belakang ini kita sampai pada kesimpulan bahwa kekhawatiran yang dimaksud di dalam sabda Tuhan adalah kekhawatiran yang menggeser kepercayaan kita kepada Allah dan menggantikannya dengan Mamon, yaitu harta milik, uang. Banyak orang begitu khawatir akan masa depan mereka sehingga bersikap serakah dengan mengambil keuntungan setinggi-tingginya dalam usaha, mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta dengan cara apapun, termasuk cara yang tidak terpuji. Kekhawatiran yang membawa kepada keserakahan mencerminkan ketidakpercayaan kita kepada Allah. Hidup tidak lagi diabdikan untuk kesejahteraan bersama, tetapi untuk menimbun harta; orang bekerja bukan untuk hidup, tetapi untuk mengumbar keserakahan yang adalah berhala (Bdk. Ef 5:5). Kepada orang-orang yang khawatir dan bersikap serakah semacam ini, Yesus bersabda: “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga.” Kekhawatiran yang memicu keserakahan tidak akan memunculkan kepedulian, tetapi justru akan menumpulkan kepekaan sosial, membunuh hati nurani dan menjauhkan siapa pun dari Tuhan dan sesama.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

4. Sejalan dengan keinginan kita untuk menjalani tahun ini sebagai tahun pelayanan, tema yang dipilih untuk Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2014 pada masa Prapaskah ini ialah “Dipilih Untuk Melayani”. Tema ini bisa dibaca dalam dua konteks.

4.1. Dalam konteks gerejawi, memilih dan melayani adalah dua kata yang amat dekat dengan jatidiri kita sebagai murid-murid Kristus. Seperti halnya para murid Yesus yang pertama, kita semua adalah pribadi-pribadi yang terpanggil dan terpilih (bdk Mat 4:18-22). Kita tidak pernah boleh mengatakan, “kebetulan saya juga Katolik”. Keyakinan bahwa kita adalah pribadi-pribadi yang dipilih dan dipanggil seharusnya membuat kita menjadi warga Gereja yang bangga dengan jatidiri kita sebagai murid-murid Kristus. Sementara itu kita juga sadar bahwa kita dipanggil dan dipilih tidak demi kepentingan diri kita sendiri, melainkan untuk mengikuti Yesus yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan hidup demi sesama, demi kebaikan bersama (bdk Mat 20:28). Semoga pesan-pesan iman yang disampaikan lewat tema APP 2014 ini mendorong kita semua untuk “khawatir” dalam arti yang positif, untuk mengasah suara hati dan mengembangkan kepedulian sosial yang berbuah dalam bentuk-bentuk pelayanan yang semakin kreatif.

4.2. Dalam konteks tahun politik, tema itu dikaitkan dengan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden-Wakil Presiden yang akan dilaksanakan pada tahun 2014 ini. Diharapkan semua umat Katolik menggunakan hak pilihnya sebagai bentuk tanggungjawab sebagai warga negara yang baik. Kita memilih dengan cerdas dan menurut suara hati calon-calon yang jelas akan melayani kepentingan atau bekaikan bersama, bukan yang lain. Semoga mereka yang akan terpilih tidak menggantikan Pancasila dengan mamon. Semoga mereka terdorong oleh kekhawatiran yang melahirkan kepedulian dan kemurahan hati, bukan kekhawatiran yang melahirkan keserakahan.

4.3. Sementara itu kita perlu yakin juga bahwa status kita sebagai warga negara Indonesia adalah juga pilihan dan panggilan. Keyakinan ini akan mendorong kita semua untuk semakin menyadari bahwa kita merupakan bagian dari suatu Bangsa dan Negara, yaitu Indonesia. Kita hidup di alam Indonesia sebagai satu bangsa, menggunakan satu bahasa pemersatu walaupun kita berbeda satu sama lain. Sebagai bangsa, kita dipersatukan oleh sejarah yang sama di masa lampau dan cita-cita yang sama mengenai masa depan. Kita juga tahu bahwa cita-cita bangsa Indonesia termuat dalam kelima sila Pancasila. Oleh karena itu setiap bentuk kegiatan atau pelayanan untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila yang amat mulia dan luhur, pastilah juga merupakan bentuk perwujudan iman kita.

5. Untuk memperkaya bekal kita memasuki masa Prapaskah, kita juga ingin belajar dari pesan Paus Fransiskus untuk Masa Prapaskah ini. Judul pesan Paus adalah “Ia telah menjadi miskin supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (Bdk 2 Kor 8:9). Ini adalah landasan rohani yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus agar mereka murah hati dalam membantu saudari-saudara mereka di Gereja Induk Yerusalem yang membutuhkan bantuan karena mereka miskin. Menurut Paus, selain kemiskinan material, berkembang juga pada jaman kita ini kemiskinan moral dan kemiskinan spiritual. Miskin material berarti tidak terpenuhinya hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Miskin moral berarti menjadi budak dosa. Miskin spiritual berarti meninggalkan Allah dan mengabdi Mamon serta kawan-kawannya. Dalam ketiga lapangan kemiskinan itu, kita diundang untuk menjadi “hamba-hamba Kristus dan pengurus rahasia Allah” (1 Kor 4:1), artinya menjadi saksi-saksi kekayaan Kristus yang seluruh hidup-Nya dijalani demi keselamatan manusia seutuhnya dan kemuliaan Allah.

6. Akhirnya bersama-sama dengan para imam dan semua pelayan umat saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Suster/Bruder/Frater/Kaum Muda/Remaja dan Anak-anak sekalian, yang dengan peran berbeda-beda telah ikut mengemban tanggung jawab sejarah Keuskupan Agung Jakarta. Para perintis dan pendahulu kita telah menulis sejarah – artinya meletakkan dasar dan mengembangkan - Keuskupan kita tercinta ini menjadi seperti sekarang ini. Sekarang kitalah yang mesti mengemban tanggung jawab sejarah itu. Marilah berbagai pelayanan sederhana yang kita lakukan dan prakarsa-prakarsa kreatif yang kita usahakan, kita hayati sebagai wujud pelayanan dan pertobatan kita yang terus-menerus, khususnya di masa Prapaskah ini. Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda sekalian, keluarga-keluarga dan komunitas Anda.

+ I. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta.

Selasa, 21 Januari 2014

Kesederhanaan sebagai Kunci Dialog dengan Tuhan

Paus Fransiskus mengatakan bahwa kita perlu menjadi kecil dan rendah hati dalam berdialog dan berkomunikasi dengan Allah. Ini karena pada saat bersamaan, Allah selalu memilih mereka yang kecil dan yang nyaris tidak memiliki kekuasaan. Inilah inti pesan dari homili Paus Fransiskus pada hari Selasa pagi, dalam misa padi di residensi Santa Maria (21 Januari 2014).

Kata Fransiskus, kita harus melindungi dan memelihara kekecilan dan kesederhanaan kita supaya bisa mengalami dialog pribadi dengan Allah. Dalam homili tersebut, Sri Paus merefleksikan pengalamannya sendiri dalam berelasi dengan Allah dan dengan umatnya. Dia mengatakan bahwa dalam pengalaman itu, perkataan Tuhan yang kecil dan sederhana selalu berbicara kepada kita pada level pribadi, menyebut nama kita. “Itu tidak pernah sebuah dialog antara orang yang memiliki kekuasaan dengan khalayak.”

Fransiskus menegaskan bagaimana ketika Allah memilih umatNya. “Allah selalu memilih mereka yang kecil dan yang nyaris tidak memiliki kekuasaan dibandingkan dengan orang lain,” demikian Fransiskus. Kita cenderung melihat bagian luar dari orang atau kekuasaan yang dimiliki orang tersebut, tetapi Allah memiliki kriterianya sendiri. “Dia memilih yang lemah dan lembut untuk membingungkan orang yang berkuasa dan memiliki kekuasaan di dunia.” Satu contoh, kata Fransiskus, adalah ketika Allah memilih Daud yang pada waktu itu adalah putra yang paling kecil, yang dianggap remeh dan disepelehkan oleh ayahnya sendiri dan yang disuruh keluar rumah untuk menjaga dan mengawal kawanan domba di padang.

Tetapi apa yang terjadi? Daud justru di kemudian hari menjadi raja, tetapi kemudian jatuh ke dalam dua dosa yang sangat serius. “Apa yang kemudian dilakukan Daud?” tanya Fransiskus. Daud merendahkan dirinya, dia kembali kepada kekecilan dan kesederhanaan, mengakui dosa-dosanya kepada Allah, meminta pengampunan dan menjalankan pertobatan. Dalam cara demikian, kata Sri Paus, “Daud menjaga dan menyelamatkan kekecilan dan kesederhanaannya melalui pertobatan hatinya, doa dan tangisannya.”


Sri Paus menjelaskan bagaimana kesetiaan kita sebagai orang Katolik dan pentingnya “melindungi dan menjaga kekecilan dan kesederhanaan kita supaya bisa berkomunikasi dengan Allah.” Itulah sebabnya,” Fransiskus melanjutkan, “Kerendahan hati, kelembutan dan kebiasaan baik setiap hari adalah hal yang sangat penting dalam iman seorang Kristiani” karena itu mampu melindungi, menjaga, dan merawat kekecilan dan kesederhanaan kita dan itu menyenangkan Allah.[] 

Rabu, 31 Juli 2013

Optimisme Panggilan Hidup Bakti

Panggilan hidup dibaktikan (imam, biarawan dan biarawati) sedang mengalami penurunan secara global. Catatan Center for Applied Research dalam Bidang Pewartaan dari Georgetown University menunjukkan bahwa ketika jumlah umat Katolik mengalami peningkatan di seluruh dunia sekitar 68 persen selama tahun 1975-2010, jumlah imam mengalami peningkatan hanya 1,8 persen (www.therecord.com, 26 Juli 2013). Pertumbuhan jumlah imam yang minim ini hanya terkonsentrasi di kawasan Afrika dan Asia, sementara wilayah yang secara tradisi menjadi penyumbang terbesar jumlah imam seperti Eropa dan sekarang Amerika Latin justru mengalami penurunan. Gereja Katolik seakan menghadapi kebenaran Sabda yang mengatakan, “Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit” (Luk 10:2a).
Lalu apa yang harus dilakukan? Menurut Penginjil Lukas, ”Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Luk 10:2b). Dalam arti itu, panggilan hidup dibaktikan memang harus dimintakan persis karena dia adalah anugerah.
Masalahnya, sejauh mana kita yakin bahwa doa meminta penuai akan dikabulkan? Memang kita tidak bisa memastikan rahasia dan penyelenggaraan Tuhan. Tetapi keadaan Gereja dewasa ini memberikan pengharapan akan bertumbuhnya panggilan hidup dibaktikan. Ini terlihat dari sebuah survei online mengenai panggilan hidup dibaktikan. Terhadap pertanyaan “seserius apa Anda mempertimbangkan hidup bakti sebagai panggilan hidupmu”, 38,9 persen dari 430 responden mengatakan bahwa mereka ”sangat serius” mempertimbangkan hidup bakti sebagai pilihan. Sementara 21,4 persen mengatakan ”serius”, diikuti oleh ”kadang-kadang serius” sebanyak 19,3 persen dan ”tidak serius sama sekali” sebanyak 3,3 persen. Menariknya, sebanyak 17,2 persen yang mengatakan bahwa mereka sedang dalam proses pembinaan hidup dibaktikan (http://www.vocationnetwork.org/articles/show/240)
Jika survei ini dibaca lebih lanjut pada pertanyaan mengenai ”jenis hidup bakti seperti apa yang ingin dimasuki”, responden berturut-turut ingin menjadi ”suster” (47%), ”imam biarawan” (16,3%), ”bruder” (15,8%), ”romo diosesan (9,5%), ”institut sekuler” (6,0%), dan sisanya adalah ”pelayan awam” (5,3%). Yang menarik, alasan memilih hidup bakti adalah karena mau menjalani cara hidup apostolis dan pewartaan (31,4%) serta kehidupan yang kontemplatif ataupun kontemplatif aktif (30,9%).
Sadar bahwa mayoritas responden adalah orang Amerika Serikat atau yang mengerti Bahasa Inggris, statistik itu tidak bisa digeneralisir sebagai yang mewakili keadaan gereja semesta. Meskipun demikian, data-data ini memberi harapan baru, bahwa Tuhan sedang menjawab doa-doa umat-Nya yang meminta penuai bagi kebun anggur-Nya.
Potret sekilas mengenai optimisme ini sebenarnya juga dapat dibaca dari semangat yang dibawa Paus Fransiskus di World Youth Day di Brasil belum lama ini. Associated Press mewawancarai beberapa pemuda dari Chile, Meksiko, dan Brasil tentang alasan berpartisipasi dalam WYD, dan tanpa ragu-ragu mereka mengakui akan memilih panggilan hidup bakti. Ini tentu tidak terlepas dari sosok Paus Fransiskus yang dalam kesederhanaannya justru memancarkan hakikat panggilan hidup bakti, yakni untuk melayani dan bukan dilayani. Seruan-seruan Bapa Suci agar para imam dan uskup tidak hanya pandai berkotbah tetapi rajin turun ke tengah masyarakat memang menegaskan inti panggilan hidup dibaktikan sekaligus menjadi model. Bahwa di tengah dunia yang bergelimang harta dan kekayaan, masih ada sekelompok orang yang bersaksi akan otentisitas kehidupan, tentang kepedulian Tuhan pada yang miskin dan papa, keadilan Tuhan pada yang tertindas, pengampunan Tuhan pada yang keras hati, dan semacamnya.
Bahwa Gereja Katolik terus mengalami pertumbuhan, kita hanya bisa bersyukur atas karya agung ini. Di lain pihak, memang ada tren penurunan panggilan. Tugas segenap umat adalah menawarkan cara hidup bakti kepada putra dan putri kita sambil mendorong mereka untuk memasukinya. Doa meminta ”penuai” menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan panggilan hidup bakti. Sementara itu, tren peningkatan jumlah orang muda yang memilih panggilan hidup bakti harus terus dijaga dan ditingkatkan.
Dua usul konkret dapat dikemukakan di sini. Pertama, pada level mereka yang sedang menjalani hidup bakti, teladan hidup menjadi elemen esensial untuk menarik minat kaum muda. Kaum muda tidak mencari kekayaan materi ketika memilih hidup bakti, karena mereka bisa dapatkan di dunia. Itu artinya gereja atau biara yang kaya secara materi sebenarnya gagal menjadi model bagi hidup yang lepas bebas dan yang tergantung sepenuhnya pada penyelenggaraan Ilahi. Aspek ini juga sangat ditekankan Paus Fransiskus dalam tatap muka dengan para seminaris dan biarawan di Aula Santo Paulus di Vatican dalam Pekan Panggilan, tanggal 6 Juli 2013 yang lalu, bahwa kebahagiaan hidup bakti tidak terletak pada kepemilikan atas materi, tetapi pada kedalaman hubungan dengan Tuhan dan kesaksian akan kedalaman relasi itu (https://www.youtube.com/watch?v=0JZuSyS-z3A).
Kedua, pada level umat beriman, apa yang dikritik Paus Fransiskus dalam tatap muka dengan para seminaris dan biarawan/wati itu menarik untuk diperhatikan. Sri Paus berbicara mengenai kultur kenyamanan (cultura di provisorio) yang menghambat pertumbuhan panggilan hidup bakti. Yang bisa kita lakukan pada level umat adalah merancang dan menjalankan kehidupan dalam semangat kemurahan hati (generosita) sehingga seluruh materi yang kita miliki tidak menghalangi kita untuk bersikap lepas bebas terhadapnya. Kesukaan memberi dan kegemaran membantu orang lain yang kita tularkan kepada anak-anak kita dapat menjadi cara kita menanamkan benih panggilan hidup bakti ke dalam diri putra dan putri kita.[]

Minggu, 21 April 2013

Sikap Tanpa Kompromi: Refleksi atas Kitab Daniel 1:1-21


Kitab Daniel 1:1-21 menarik untuk direfleksikan dalam situasi di mana kompromi menjadi sikap yang seolah-olah lumrah. Ketiga aspek yang saya kemukakan di abwah ini memang bukan murni dari saya. Saya meminjamnya dari penulis-penulis lain. Sementara pada bagian aplikasi, saya mengeksplorasi analogi “ikan yang hidup” dan “ikan yang mati” seperti diusulkan seorang teman saya. Refleksi ini sebenarnya diprovokasi oleh teman saya itu, seorang Pendeta, yang mau memamahi Kitab Daniel 1:1-21 dari sudut tafsir “ikan yang mati” daan “ikan yang hidup”. Semoga tafsir saya ini bisa menginspirasi.
1.       Daniel telah ditentukan untuk memiliki sikap tidak kompromistis (ayat 3-8)
          Daniel memang ditentukan tidak untuk berkompromi dan memuaskan manusia. Daniel dan kawan-kawannya dipilih untuk melayani keluarga kerajaan, dan tentu banyak hak istimewa bisa mereka dapatkan dari status mereka yang bekerja untuk keluarga kerajaan ini. Salah satu privilese yang mereka terima adalah bahwa mereka menerima makanan dari meja makan sang raja, termasuk daging dan anggur.
          Tetapi makanan yang mereka terima untuk dinikmati itu menimbulkan tiga masalah. (1) daging yang mereka terima berasal dari binatang yang tidak bersih; (2) sebagian dari daging itu diberikan kepada allah orang Babilonia. (3) porsi tertentu dari anggur telah dituangkan ke atas altar orang kafir sebelum dikirim ke raja.
          Di sinilah terdapat masalah moral yang serius. Daniel dan kawan-kawannya tahu bahwa jika mereka menyantap makanan yang diambil dair meja makan sang raja, mereka melanggar Taurat Musa. Tetapi mereka sebenarnya memiliki kesempatan untuk tidak menghiraukan larangan Taurat ini, karena toh orang lain tidak tahu. Tetapi di sinilah watak dan iman sesungguhnya yang diperlihatkan Daniel. Meskipun orang lain tidak tahu – dan karena itu tidak akan mengecam – Daniel tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak melanggar Taurat Musa yang sudah diimaninya. Sebagai orang beriman pada Yahwe, Daniel tentu contoh orang yang sangat beriman. Sementara itu, dari segi manusiawi, Daniel adalah contoh watak moral yang utuh dan terintegrasi. Dia menunjukkan bagaimana seharusnya bersikap, bukan dalam kepura-puraan, tetapi dalam keutuhan keyakinan, pikiran, dan tingkah laku.
          Dua watak yang sangat ditonjolkan Daniel dan yang bisa kita pelajari dan teladani. Pertama, Daniel menekankan pentingnya tidak bersikap mudah menyerah dan berkompromi. Sikap moral menuntut keteguhan hati untuk mengatakan tidak pada setiap godaan. Kedua, Daniel mengajarkan kita untuk berdiri kokoh pada apa yang kita imani sebagai Benar.
2.       Daniel menaruh dirinya seutuhnya pada Allah (ayat 9-16)
          Meskipun awalnya permintaan Daniel agar disuguhi makanan vegetarian dan hanya air putih. Allah telah meluluhkan pegawai istana yang melayani Daniel dan kawan-kawan sehingga akhirnya dia mau mengikuti permintaan Daniel untuk tidak menajiskan dirinya. Meskipun pegawai istana mengemukakan kekhawatiran bahwa raja akan marah jika setelah waktu yang ditetapkan mereka didapati memiliki tubuh yang kurus – sehingga gagal menjadi pegawai istana – Daniel dan kawan-kawan yakin bahwa Allah akan menolong mereka asal mereka tetap percaya padanya (tidak menajiskan diri mereka). Dan ternyata Allah tidak mencelakakan mereka.
          Dua pelajaran dapat kita petik jika kita memutuskan untuk hidup sepenuhnya bagi Allah. Pertama, godaan dalam diri masing-masing kita untuk memuaskan keinginan daging kita. Godaan itu terasa sangat nyata dihadapi Daniel ketika disodorkan makanan yang mewah tetapi najis dengan pilihan menyantap makanan yang kudus (meskipun hanya sayur dan air putih). Godaan jenis ini memang susah dilawan, tetapi nyatanya bisa. Daniel sudah membuktikan itu. Kedua, godaan akan kenikmatan yang ditawarkan dunia. Bekerja dalam lingkaran istana itu berarti masuk dalam lingkaran dalam kekuasaan. Dalam arti itu, Daniel dan kawan-kawan memiliki privilese tertentu untuk menikmati kekuasaan. Itulah godaan duniawi. Tetapi Daniel dan kawan-kawan menolak itu. Mereka tetap bekerja sebagai orang bijak – artinya orang yang tidak kompromistis dan selalu takut akan Allah – dan bukan para penikmat kekuasaan.
          Tentu itu berbeda dengan watak politik para penguasa kita yang menyalahgunakan kekuasaan begitu mereka mendapatkan kekuasaan itu.
3.       Karena kesetiaan mereka, Allah memberi hadiah kepada mereka (ayat 17)
          Allah yang dipercaya Daniel dan kawan-kawan bukanlah Allah yang suka ingkar janji. Dia selalu menganugerahkan kebaikan, suka cita, kemenangan, kekayaan dan sebagainya kepada mereka yang setia. Kesetiaan Daniel dan kawan-kawannya diganjar Tuhan dengan memberikan kepada mereka kepandaian tentang berbagai tulisan dan hikmat (ayat 17).
Pesan Bagi Kita
Kitab Daniel 1:1-21 itu sangat relevan dengan situasi real kita saat ini. Orang yang bijaksana adalah mereka yang takut akan Tuhan, karena itulah kebijaksanaan tertinggi. Wujud dari sikap takut akan Tuhan adalah keberanian untuk tidak menajiskan diri, apa pun tantangan dan risikonya.
Jika mau dibawa ke analogi “ikan yang hidup” dan “ikan yang mati”, ada dua tipe orang beriman yang bisa kita potret. Pertama, mereka yang menemukan dirinya berada dalam air atau laut kemewahan (dalam konteks Daniel adalah bekerja di istana dan dekat dengan kekuasaan dunia). Meteka ini tampak oleh dunia sebagai ikan yang hidup, yang bergerak bebas ke sana kemari dalam air atau lautan kelimpahan dan kemewahan. Tetapi sebenarnya di mata Allah, mereka adalah “ikan yang mati”. Ironis, karena mereka mengira menjadi ikan yang hidup, tetapi sebenarnya mereka telah mati oleh karena sikap yang kompromistis dan penajisan diri.
Kedua, tipe orang beriman yang committed, yang tidak mau menyerah pada godaan dunia. Di mata dunia, sikap menolak kekuasaan dan kemewahan dapat dipahami sebagai kebodohan. Mereka bisa diibaratkan sebagai “ikan yang mati” dalam arti mereka hidup dan berenang di dalam kemewahan dunia tetapi justru memilih untuk setiap pada Allah. Tetapi di mata Allah, mereka inilah sesungguhnya “ikan yang hidup”.

Rabu, 20 Maret 2013

HOMILI PERTAMA PAUS FRANSISKUS

HOMILI PAUS FRANSISKUS PADA MISA INAGURASINYA
(19 Maret 2013)

Berikut ini adalah terjemahan lengkap Homili Paus Fransiskus pada Misa Inagurasinya yang dirayakan pada hari Selasa, 19 Maret 2013, yang bertepatan dengan Hari Raya Santo Yosef, pukul 9.30 waktu Roma di Basilika Santo Petrus. Bacaan Ekaristi : 2Sam 7:4-5a,12-14a; Rm 4:13,16-18,22; Mat 1:16,18-21,24a).

******

Saudara dan saudari terkasih, saya berterima kasih kepada Tuhan karena saya dapat merayakan Misa Kudus untuk inagurasi pelayanan Petrus saya ini pada Hari Raya Santo Yosef, suami dari Perawan Maria dan pelindung Gereja semesta. Suatu kebetulan yang berarti, dan juga hari nama pendahulu saya yang terhormat : kita dekat padanya dengan doa-doa kita, penuh kasih sayang dan rasa syukur.

Saya menawarkan salam hangat untuk saudaraku para kardinal dan uskup, imam, diakon, biarawan dan biarawati, serta semua umat beriman. Saya berterima kasih kepada para perwakilan Gereja dan komunitas gerejawi lainnya, serta perwakilan dari komunitas Yahudi dan komunitas keagamaan lainnya, karena kehadiran mereka. Salam ramah saya untuk para kepala negara dan pemerintahan, para anggota delegasi resmi dari berbagai negara di seluruh dunia, dan korps diplomatik.

Dalam Injil kita mendengar bahwa "Yosef berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya” (Mat 1:24). Kata-kata ini mengarah kepada perutusan yang Tuhan percayakan kepada Yosef : ia menjadi kustos, pelindung. Pelindung dari siapa? Pelindung Maria dan Yesus; tetapi perlindungan ini kemudian diperluas kepada Gereja, sebagaimana dikatakan Beato Yohanes Paulus II: "Sama seperti Santo Yosef merawat penuh kasih Maria dan dengan senang hati mengabdikan dirinya untuk membesarkan Yesus Kristus, demikian pula ia memelihara dan melindungi Tubuh Mistik Kristus, Gereja, di mana Perawan Maria adalah teladan dan modelnya" (Redemptoris Custos, 1).

Bagaimana Yosef melaksanakan perannya sebagai pelindung? Dengan diam-diam, rendah hati dan hening, tapi dengan kehadiran dan ungkapan kesetiaan tanpa henti, bahkan ketika ia menemukannya sulit untuk dipahami. Sejak saat pertunangannya dengan Maria hingga diketemukannya Yesus yang berumur dua belas tahun di Bait Allah di Yerusalem, ia ada di sana setiap saat dengan penuh kasih sayang. Sebagai suami Maria, ia berada di dekatnya pada saat baik dan buruk, pada perjalanan ke Betlehem untuk sensus dan dalam saat-saat cemas dan sukacita ketika Maria melahirkan; di tengah drama pelarian ke Mesir dan selama pencarian yang panik Anak mereka di Bait Allah; dan kemudian dalam kehidupan sehari-hari rumah tangga Nazaret, dalam tempat kerja di mana ia mengajarkan keahliannya pada Yesus.

Bagaimana Yosef menanggapi panggilannya untuk menjadi pelindung Maria, Yesus dan Gereja? Dengan terus-menerus memperhatikan Allah, terbuka bagi tanda-tanda kehadiran Allah dan menerima rencana Allah, dan tidak hanya untuk dirinya sendiri. Ini adalah apa yang Allah minta dari Daud, seperti yang kita dengar dalam Bacaan Pertama. Allah tidak menginginkan rumah yang dibangun oleh manusia, tetapi kesetiaan pada sabda-Nya, pada rencana-Nya. Allah sendiri yang membangun rumah, tapi dari batu hidup yang dimeteraikan oleh Roh-Nya. Yosef adalah "pelindung" karena ia mampu mendengar suara Allah dan dipandu oleh kehendak-Nya; dan karena alasan ini ia jauh lebih peka terhadap orang-orang yang dipercayakan kepada pengamanannya. Dia mampu melihat hal-hal secara nyata, ia berhubungan dengan sekitarnya, ia dapat membuat keputusan yang benar-benar bijaksana. Dalam dirinya, sahabat-sahabat terkasih, kita belajar bagaimana untuk menanggapi panggilan Allah, dengan kesiapsediaan dan kerelaan, tetapi kita juga melihat inti panggilan Kristiani, yaitu Kristus! Mari kita melindungi Kristus dalam hidup kita, sehingga kita bisa melindungi orang lain, sehingga kita dapat melindungi ciptaan!

Panggilan menjadi seorang "pelindung", bagaimanapun juga, bukan hanya sesuatu yang melibatkan kita orang Kristiani saja; panggilan tersebut juga memiliki segi utama yang sungguh manusiawi, melibatkan semua orang. Ini berarti melindungi semua ciptaan, keindahan dunia yang diciptakan, seperti yang diceritakan Kitab Kejadian kepada kita dan seperti yang ditunjukkan Santo Fransiskus dari Asisi kepada kita. Ini berarti menghormati setiap ciptaan Tuhan dan menghormati lingkungan di mana kita hidup. Ini berarti melindungi umat manusia, menunjukkan perhatian kasih untuk masing-masing dan setiap orang, terutama anak-anak, orang tua, orang-orang yang berkebutuhan, yang sering kali yang terakhir kita pikirkan. Ini berarti peduli satu sama lain dalam keluarga kita: suami dan istri pertama-tama melindungi satu sama lain, dan kemudian, sebagai orang tua, mereka merawat anak-anak mereka, dan anak-anak sendiri, pada saatnya, melindungi orang tua mereka. Ini berarti membangun persahabatan yang tulus di mana kita melindungi satu sama lain dalam kepercayaan, rasa hormat, dan kebaikan. Pada akhirnya, semuanya telah dipercayakan kepada perlindungan kita, dan kita semua bertanggung jawab untuknya. Jadilah pelindung karunia Allah!

Setiap kali manusia gagal untuk menghidupi tanggung jawab ini, setiap kali kita gagal peduli bagi ciptaan dan bagi saudara dan saudari kita, suatu jalan terbuka bagi kebinasaan dan hati yang mengeras. Tragisnya, dalam setiap periode sejarah ada "Herodes" yang merencanakan kematian, mendatangkan malapetaka, dan mengotori wajah laki-laki dan perempuan.

Saya meminta semua orang yang memiliki tanggung jawab dalam kehidupan ekonomi, politik dan sosial, dan semua laki-laki dan perempuan yang berkehendak baik: marilah kita menjadi "pelindung" ciptaan, pelindung rencana Allah yang tergores dalam alam, pelindung satu sama lain dan lingkungan. Mari kita tidak mengizinkan tanda-tanda kehancuran dan kematian untuk menyertai kemajuan dunia ini! Tetapi menjadi "pelindung", kita juga harus berjaga-jaga atas diri kita sendiri! Janganlah kita lupa sehingga kebencian, iri hati dan kebanggaan mencemari hidup kita! Menjadi pelindung, kemudian, juga berarti tetap menjaga perasaan kita, hati kita, karena mereka adalah tempat duduk niat baik dan jahat: niat yang membangun dan meruntuhkan! Kita tidak harus takut akan kebaikan atau bahkan kelembutan!

Di sini saya akan menambahkan satu hal lagi: peduli, melindungi, membutuhkan kebaikan, itu memanggil untuk kelembutan tertentu. Dalam Injil, Santo Yosef muncul sebagai orang yang kuat dan teguh, seorang manusia pekerja, namun dalam hatinya kita melihat kelembutan yang besar, yang bukan merupakan kebajikan orang lemah melainkan tanda kekuatan semangat dan kecakapan bagi perhatian, bagi kasih sayang, bagi keterbukaan yang tulus untuk orang lain, bagi kasih. Kita tidak harus takut akan kebaikan, akan kelembutan!

Hari ini, bertepatan dengan Pesta Santo Yosef, kita merayakan awal jabatan Uskup Roma yang baru, Penerus Santo Petrus, yang juga melibatkan kuasa tertentu. Tentu saja, Yesus Kristus memberikan kuasa atas Petrus, tetapi seperti apa kuasa itu? Tiga pertanyaan Yesus kepada Petrus tentang kasih yang diikuti oleh tiga perintah: Gembalakanlah domba-domba-Ku, beri makan domba-domba-Ku. Mari kita tidak pernah lupa bahwa kekuatan otentik adalah pelayanan, dan bahwa Paus juga, ketika menjalankan kekuasaan, harus semakin penuh masuk ke dalam pelayanan yang memiliki puncak yang bercahaya pada Salib. Ia harus terinspirasi oleh pelayanan yang rendah hati, teguh dan setia yang ditandakan Santo Yosef dan, seperti dia, ia harus membuka lengannya untuk melindungi semua umat Allah dan merangkul dengan kasih sayang yang lembut seluruh umat manusia, terutama yang paling miskin, yang paling lemah, yang tersisih, orang-orang yang dirinci Matius dalam penghakiman akhir tentang kasih: yang lapar, yang haus, orang asing, yang telanjang, yang sakit dan orang-orang dalam penjara (bdk. Mat 25:31-46). Hanya mereka yang melayani dengan kasih yang mampu melindungi!

Dalam Bacaan Kedua, Santo Paulus berbicara tentang Abraham, yang "tidak ada dasar untuk berharap, namun percaya" (Rm 4:18). Tidak ada dasar untuk berharap! Hari ini juga, di tengah begitu banyak kegelapan, kita perlu melihat cahaya harapan dan menjadi laki-laki dan perempuan yang membawa harapan kepada orang lain. Melindungi ciptaan, melindungi setiap laki-laki dan setiap perempuan, memandang mereka dengan kelembutan dan kasih, adalah membuka cakrawala harapan; membiarkan seberkas cahaya menerobos awan tebal; membawa kehangatan harapan! Bagi orang percaya, bagi kita orang Kristiani, seperti Abraham, seperti Santo Yosef, harapan yang kita bawa diatur terhadap cakrawala Allah, yang telah terbentang di hadapan kita dalam Kristus. Suatu harapan yang dibangun di atas batu karang yang adalah Allah.

Melindungi Yesus dengan Maria, melindungi seluruh ciptaan, melindungi setiap orang, terutama yang paling miskin, melindungi diri kita sendiri: ini adalah pelayanan di mana Uskup Roma dipanggil untuk melaksanakannya, namun salah satu dari kita semua dipanggil, sehingga bintang harapan akan bersinar terang. Mari kita melindungi dengan kasih yang seluruhnya telah diberikan Allah kepada kita!

Saya memohon perantaraan Bunda Maria, Santo Yosef, Santo Petrus dan Paulus, dan Santo Fransiskus, sehingga Roh Kudus dapat menyertai pelayanan saya, dan saya minta Anda semua untuk berdoa bagi saya! Amin.

Paus Fransiskus

Kamis, 28 Februari 2013

Petuah Terakhir Benediktus XVI


TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--Paus Benediktus XVI menyampaikan petuah terakhirnya di hadapan puluhan ribu umat yang hadir di Lapangan Santo Petrus.
Ratzinger demikian nama Paus Benediktus XVI, menyapa para peziarah yang sudah sejak pukul 07.00 pagi waktu Roma, sudah memenuhi Via della Conciliazione, ruas jalan panjang membujur dari Lapangan Santo Petrus hingga sungai Tiber.
Sebagaimana diutarakan Pastor Markus SVD langsung dari Roma mengungkapkan Lapangan Santo Petrus seperti digenangi lautan manusia. Para peziaraj melambai-lambaikan berbagai bentuk dan ragam spanduk dengan tulisan bermacam-macam, seperti “Grazie Santo Padre” (Terima kasih Bapa Suci), atau “Arrivederci” (Sampai jumpa lagi), atau “Perga per noi” (doakan kami), dan berbagai tulisan dalam berbagai bahasa.
Para peziarah pun tidak henti-hentinya meneriakkan yel-yel “Benedetto”, nama Sri Paus dalam bahasa Italia. Kadang pula terdengar teriakan “Viva il Papa” dan diikuti oleh paduan suara campur yang menggetarkan suasana pagi ini.
Menurut Pastor Markus, tepat pukul 10.35 pagi waktu Roma, Papa Mobil meluncur pelan, masuk ke Lapangan Santo Petrus dari samping kanan Basilika. Di belakangnya duduk Sekretaris pribadi, Mons. Georg Gaenswein, yang sudah ditahbiskan beliau sendiri menjadi Uskup Agung tanggal 6 Januari lalu dan merangkap Kepala Rumah Tangga (Prefettura) Sri Paus.
Ketika melihat Papa Mobil, massa semakin kuat dan ramai meneriakkan yel-yel seraya bertepuk tangan meriah. Setelah melewati beberapa blok untuk menyalami massa dan disaluti oleh Musik Militer dari wilayah kelahirannya, Bavaria, Jerman, beliau naik ke Singgahsana, sebuah Kursi putih yang sudah akrab dengannya sejak 8 tahun ini.
Seperti biasa, sebelum duduk, beliau merentangkan kedua tangan ke arah para hadirin, seolah-olah ingin merangkul mereka satu persatu.
”Delapan tahun lalu, ketika sudah jelas bahwa diri saya terpilih menjadi Paus, pertanyaan yang dominan di dalam hati saya adalah: Tuhan, apa yang Kau inginkan dariku? Mengapa Engkau memilih saya? Saya tahu bahwa sejak itu saya memikul beban berat di pundakku," ucap Paus, Radio Vatikan melansir.
Lanjut Paus, delapan tahun yang lalu adalah tahun-tahun yang indah dan penuh arti. Tetapi juga masa-masa penuh tantangan, sehingga Gereja ibarat bahtera para rasul yang terombang-ambing di danau Genesaret. Badai dan gelombang menerjang menimbulkan rasa takut dan panik, dan Tuhan tidur di buritan.
Tetapi syukur, Tuhan tidak meninggalkan bahtera ini, karena bahtera ini bukan milik kita manusia atau milik saya pribadi, tetapi milik Tuhan sendiri. Mendengar itu, massa bertepuk tangan ramai sambil meneriakkan nama Sri Paus. Benediktus sadar bahwa selama masa bakti, Tuhan senantiasa dekat dengan umatNya dan menganugerahkan segala yang perlu untuk kemajuan GerejaNya.
Sri Paus juga mengungkapkan terima kasih kepada para pekerjanya di Tahta Suci Vatikan dan seluruh umat yang tersebar di seluruh dunia. Selama masa jabatannya, beliau betul merasakan dukungan dan kedekatan umat Katolik sejagad, sekalipun banyak dari mereka yang belum pernah berjumpa dengannya secara langsung.
Menjelang sambutannya yang berdurasi kurang lebih 20 menit itu, beliau meneguhkan hati dan iman umat Katolik sedunia. Katanya dalam nada getar:
“Saya pergi. Itu keputusan yang saya ambil dengan sukarela. Tetapi kamu harus tetap riang gembira di dalam iman. Saya pergi bukan untuk urusan pribadi. Saya pergi untuk membaktikan diri kepada doa untuk Gereja kita yang kita cintai ini. Tuhan yang memanggil kita ke dalam satu komunitas iman, akan tetap bersama kita, memenuhi hati kita dengan harapan dan menyinari kita dengan kasihNya tanpa batas.”
Paus juga menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada seluruh umat dan warga dunia yang selama ini mendukung tugas perutusannya dalam doa dan kehadiran mereka masing-masing.
"Paus milik semua orang, dan begitu banyak orang merasa sangat dekat. Ini benar bahwa saya menerima surat dari tokoh-tokoh terbesar dunia - dari Kepala Negara, tokoh agama, perwakilan dari dunia budaya dan sebagainya. Saya juga menerima banyak surat dari orang-orang biasa yang menulis kepada saya dari hati mereka," ucapnya.
"Ini adalah buah dari iman pada kehendak Tuhan dan cinta yang mendalam dari Gereja Kristus. Saya akan terus bersama Gereja dalam doa-doa saya."
"Dan saya mengajak Anda masing-masing untuk berdoa bagi saya dan untuk Paus yang baru," pesannya.
Usai sambutan terakhir ini, hadirin yang saat itu sudah membludak hingga ujung Via della Conciliazione berdiri, memberikan aplaus panjang. Lambaian bendera-bendera dan spanduk-spanduk kelihatan semakin tenang pertanda sedih. Sri Paus pun berdiri, melambaikan tangan kepada hadirin. Sebuah momentum kuat yang sempat menuai deraian air mata.
Upacara dilanjutkan dengan penyampaian ucapan Salam pisah dan terima kasih dari para hadirin yang diwakili melalui kelompok bahasa Inggris, Italia, Jerman, Spanyol, Portugis, Polandia dan Arab.
Di akhir audiensi, Sri Paus dan hadirin bersama-sama menyanyikan lagu Bapa Kami di dalam bahasa Latin. Lalu beliau menutup dengan berkat terakhirnya sebagai Paus.
Beliau turun tahta. Berjalan menuju Papa Mobil, mengambil tempat duduk. Papa Mobil turun perlahan dari pelataran Basilika menuju hadirin. Tahtanya, Kursi putih, tinggal kosong.
Sri Paus bergerak keluar, diiringi aplaus panjang, memanggil-manggil namanya dan seraya air mata tetap berderai. Di atas Papa Mobil beliau terus merentangkan kedua tangannya, seakan-akan ingin membawa pergi sekitar 200.000-an hadirin bersamanya.
Rangkulan lengannya tentu terlalu pendek untuk jumlah sebesar ini, apalagi untuk umat Katolik sedunia. Tetapi di dalam doa dari atas bukti Mons Vaticanus, beliau dan seluruh umat Katolik di lima benua akan tetap bersatu.
Paus Benediktus XVI juga menyampaikan terimakasihnya kepada seluruh umat katolik dan warga dunia atas semua kasih dan doa untuknya. "Untuk Anda dan keluarga Anda, saya memberikan berkat saya. Terima kasih!" seru Paus.

Penulis: Srihandriatmo Malau  |  Editor: Rachmat Hidayat
Sumber: http://www.tribunnews.com/2013/02/28/petuah-terakhir-benediktus-xvi 

Rabu, 20 Februari 2013

PEDAGOGI PENGAMPUNAN BENEDIKTUS XVI



Yeremias Jena 
(Seorang Pendidik di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta)
Paus Benediktus XVI menggunakan konsep “pedagogi pengampunan” (pedagogy of pardon) dalam Pesan Perdamaian yang disampaikannya pada tanggal 1 Januari 2013. Di bawah sub-judul “A Pedagogy for Peacemakers”, Benediktus XVI menulis, “Ada kebutuhan untuk mendidik masyarakat supaya saling mengasihi, menanam perdamaian dan untuk hidup dengan kehendak baik daripada sekadar toleransi.” Bentuk konkret dari pedagogi pengampunan itu adalah “mengatakan tidak kepada balas dendam, mengakui ketidakadilan, menerima pengampunan tanpa mencarinya, dan akhirnya, mengampuni” (“Blessed are The Peacemakers, Pesan Perdamaian Benediktus XVI, 2013, nr. 4).
Jika pesan perdamaian ini dibaca secara menyeluruh dan dalam kesinambungannya dengan pesan perdamaian tahun 2012 (Educating Young People in Justice and Peace), tampak jelas pentingnya perdamaian dunia dan sumbangan Gereja Katolik bagi terwujudnya perdamaian itu. Bagian pertama dari Pesan Perdamaian 2013 mendeskripsikan keadaan dunia yang semakin jauh dari perdamaian (nr. 3-6). Lima fakta yang mengancam perdamaian dunia dapat disebutkan. Pertama, liberalisasi ekonomi yang ditandai oleh “kapitalisme keuangan tanpa regulasi” melahirkan ketidaksetaraan ekonomi dan keadilan sosial. Melebarnya jurang kaya-miskin dan terorisme dilihat sebagai implikasi dari ketidaksetaraan ekonomi. Kegagalan mengatasi masalah ini pasti mengancam perdamaian dunia.
Kedua, semakin tidak dihormatinya kehidupan sejak kehamilan. Ini merujuk kepada praktik aborsi yang semakin banal atas nama kebebasan individu atau bersembunyi di balik alasan medis. Atau, hasrat palsu mengakhiri kehidupan melalui euthanasia di balik ideologi liberal bernama kebahagiaan hidup tanpa rasa sakit. Penderitaan atau rasa sakit yang dalam konteks kekristenan justru dihayati sebagai bagian dari partisipasi manusia dalam salib dan penderitaan Kristus justru sekarang diterjemahkan sebagai semacam ”penyakit” yang harus dibasmi.
Ketiga, semakin memudarnya institusi perkawinan berhadapan dengan jutaan kasus perceraian. Manusia modern mengimpikan perkawinan secara utopis sebagai menghadirkan secara harafiah kehidupan firdaus di dunia, padahal kehidupan semacam itu tidak pernah ada pasca kejatuhan manusia pertama. Mustahillah mengharapkan perkawinan tanpa masalah. Itu artinya perceraian karena ketidakcocokan justru bertentangan dengan hakikat perkawinan itu sendiri: dua orang yang berbeda dipertemukan Allah untuk belajar saling mengasihi.
Keempat, tidak dihormatinya hak-hak asasi manusia seperti kebebasan beragama, hak hidup dan menentukan jodoh, hak bergerak, hak berpendapat, hak mendapat pekerjaan dan penghidupan yang layak, dan sebagainya juga menjadi ancaman serius bagi perdamaian dunia.
Kelima, kerusakan alam tidak hanya melahirkan berbagai bencana alam dan pemanasan global, tetapi juga kelangkaan makanan. Perubahan iklim yang ekstrem menyebabkan kegagalan panen, melahirkan bencana kelaparan dan kemiskinan yang mengancam kehidupan bersama secara mundial.­
Dalam konteks inilah kita mengerti apa yang Benediktus XVI maksudkan dengan “pedagogi pengampunan”. Pertama, orang Katolik dipanggil untuk menjadi pembawa damai (peacemakers). Ini didasarkan pertama-tama pada landasan antropologis panggilan hidup manusia, bahwa manusia dilahirkan untuk bahagia. Untuk mewujudkan kebahagiaannya, manusia wajib memajukan perdamaian. Dengan kata lain, perdamaian adalah conditio sine qua non bagi perwujudan hidup yang membahagiakan, pertama-tama pada level individu dan keluarga, kemudian meluas ke masyarakat dan negara.
Kedua, orang Katolik tidak bisa mengelak dari imperatif Sabda Bahagia dalam Injil Matius 5:9, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”. Bagi Benediktus XVI, tanda-tanda seorang pembawa damai adalah mereka yang “mencintai, membela, dan mempromosikan perdamaian” (Nr. 4).
Di sinilah kita memahami pedagogi pengampunan itu. Benediktus XVI menyerukan agar orang Katolik menjadi pembawa damai sebagai wujud nyata penghayatan imannya. Itu dilakukan dengan menjadi orang yang mencintai, membela dan mempromosikan perdamaian dalam setiap aktivitasnya. Seorang pemimpin perusahaan yang menggaji karyawannya secara adil, misalnya, termasuk orang yang mempromosikan perdamaian. Demikian juga seorang dokter Katolik yang menolak mempraktikkan aborsi atau euthanasia, atau seorang guru yang menjunjung tinggi keberagaman dalam pengajarannya.
Pedagogi pengampunan menuntut setiap orang Katolik menjadi pendidik dan pewarta perdamaian. Pesan Perdamain 2012 mendorong kita untuk “mendidik kaum muda kepada keadilan dan perdamaian”. Itulah bagian terpenting dari pedagogi pengampunan yang dalam pesan perdamaian tahun 2013 semakin diperdalam dan dipertajam. Bahwa kita memang dipanggil untuk menegakkan keadilan demi terwujudnya perdamaian. Caranya melalui perjuangan menghapus atau mengurangi kondisi-kondisi yang dapat menimbulkan ketidakdamaian sebagaimana disebutkan di atas. Tetapi lebih dari itu, sebagai orang Katolik, kita wajib mempromosikan perdamaian. Perdamaian yang disumbangkan orang Katolik bagi dunia adalah kehidupan bersama yang tidak hanya menghormati dan menegakkan keadilan, tetapi juga yang tidak menyimpan kedengkian dan balas dendam serta “mengampuni mereka yang bersalah kepada kita”.
Tanpa itu, keadilan yang diperjuangkan demi perdamaian hanya akan melahirkan lingkaran setan kebencian dan balas dendam yang akan terus memakan korban. Demikianlah, isi dari pedagogi pengampunan tidak hanya panggilan untuk menegakkan keadilan, tetapi mempromosikan perdamaian, menghormati kehidupan, dan mengasihi semua makhluk sebagai ciptaan yang baik adanya.[]