Selasa, 02 Februari 2016

“KERAHIMAN ALLAH MEMERDEKAKAN”




SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2016 (Disampaikan sebagai pengganti khotbah, pada Misa Sabtu/Minggu, 6/7 Februari 2016)

Para Ibu dan Bapak, Suster, Bruder, Frater, Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,

Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat menyambut Tahun Baru Imlek yang akan jatuh pada hari Senin, 8 Februari 2016 yang akan datang, kepada Ibu/Bapak, Saudari/saudara yang merayakannya. Kita semua tahu, Tahun Baru Imlek pada mulanya berkaitan dengan syukur para petani atas datangnya musim semi, musim yang menjadi lambang munculnya kehidupan baru setelah musim dingin yang beku. Kalau pun tidak semua kita merayakannya, bolehlah kita semua ikut masuk ke dalam suasana sukacita dan syukur atas berseminya kehidupan baru dan harapan baru.
Sementara itu bersama dengan seluruh Gereja, pada hari Rabu 10 Februari 2016 yang akan datang, kita akan memasuki masa Prapaskah. Kita semua tahu bahwa  Prapaskah adalah masa penuh rahmat. Selama masa Prapaskah ini kita diajak untuk bersama-sama, secara khusus, mengolah pengalaman-pengalaman dan mengusahakan pembaharuan hidup agar dapat semakin mantab dan setia mengikuti Yesus Kristus masuk ke dalam sengsara dan wafat-Nya dan selanjutnya ikut bangkit bersama Dia.

Masa Prapaskah tahun ini terasa istimewa karena kita jalani dalam Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah. Untuk kepentingan masa Prapaskah tahun ini, oleh Dewan Karya Pastoral sudah disediakan berbagai sarana pendalaman iman dengan tema “Kerahiman Allah Yang Memerdekakan”. Semoga bahan-bahan yang sudah disediakan ini, dapat membantu seluruh umat untuk membuat masa Prapaskah semakin bermakna dan berbuah. Selain itu panduan gerakan rohani Keuskupan Agung Jakarta dalam rangka menyambut Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah juga dapat sangat membantu membuat masa Prapaskah ini menjadi masa yang penuh rahmat.
Saudari/saudaraku yang terkasih,

Untuk memperdalam renungan kita mengenai tema masa Prapaska ini, saya tawarkan butir-butir gagasan yang dapat kita gali dari sabda Tuhan yang dibacakan pada hari ini.

3.1. Kisah panggilan Simon yang dibacakan pada hari ini (Luk 5:1-11) memberikan kepada kita contoh bagaimana kita dapat mengalami kerahiman Allah yang menjadikan kita pribadi-pribadi yang merdeka. Kisah ini sendiri merupakan ringkasan atau bahkan kesimpulan dari kisah panjang hidup Simon yang diceritakan sepanjang Injil Lukas. Pelan-pelan, tahap demi tahap Simon dibimbing untuk melepaskan diri dari cara berpikirnya sendiri yang membelenggu dan akhirnya dibawa masuk ke dalam pengalaman akan kerahiman Allah. Pengalaman ini menjadikannya pribadi yang baru, yang tercermin dalam perubahan nama : dari Simon (ay 3.4) menjadi Simon Petrus (ay 8).

Kerahiman itu tercermin dalam diri Yesus Tuhan yang mengatakan kepadanya, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” (ay 4). Kata-kata itu diucapkan setelah Simon merasa sangat lelah dan kecewa karena sepanjang malam dia dan teman-temannya bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa. Kerahiman itu juga jelas ketika Yesus Tuhan berkata kepadanya, “Jangan takut mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia”. Kata-kata ini diucapkan oleh Yesus ketika Simon Petrus merasa dirinya tidak pantas berada di hadapan Tuhan karena dirinya adalah orang berdosa.

Dalam kisah lain yang menceritakan pertobatan Petrus, kerahiman Tuhan itu dialami oleh Petrus, ketika “Tuhan berpaling dan memandang Petrus” (bdk Luk 22:61) – ungkapan pengalaman yang tidak dapat dijelaskan, hanya dapat dikontemplasikan dalam doa yang hening. Dengan pengalaman itu tanggal-lah semua dari masa lampau yang membelenggu dan membebaninya. Sejak saat itu Simon Petrus menjadi pribadi yang lepas bebas dan merdeka.
Bukan lepas bebas dari tanggungjawab, melainkan merdeka untuk “meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikuti Yesus” (Luk 5:11) ke mana pun panggilan akan membawanya.

3.2. Rasul Paulus dan Nabi Yesaya sebagaimana kisahnya kita dengarkan pada hari ini, pada dasarnya mempunyai pengalaman yang serupa. Rasul Paulus menyatakan, “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, dan tak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi berkat kasih karunia Allah aku menjadi sebagaimana aku sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidaklah sia-sia” (1 Kor 15:9-10). Kasih karunia Allah membebaskan Rasul Paulus dari perasaan rendah diri dan hina, menjadikannya pribadi yang merdeka untuk memberitakan kerahiman Allah dalam waktu yang baik maupun tidak baik (bdk 2 Tim 4:2). Demikian juga Nabi Yesaya : berkat pengalaman yang serupa ia menjadi pribadi yang merdeka menerima perutusan Tuhan.

3.3. Pengalaman yang sama ditawarkan kepada kita juga. Dengan bantuan rahmat khusus pada masa Prapaskah ini dan dengan mengusahakan berbagai laku rohani, kita juga akan mengalami pandangan Tuhan Yesus yang adalah wajah kerahiman Allah – “Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Kel 34:6). Pengalaman akan kerahiman Allah ini akan menjadikan kita pribadi-pribadi yang lepas bebas dan merdeka – dalam arti seluas-luasnya.

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Selain belajar dari Sabda Tuhan, kita juga dapat belajar dari pengalaman pribadi Paus Fransiskus yang sejak diangkat menjadi Uskup mempunyai semboyan “miserando atque eligendo”. Semboyan itu berarti “dengan penuh kerahiman Ia memilih aku”. Pengalaman akan kerahiman Allah ini begitu mendalam dirasakan ketika ia berusia tujuh belas tahun. Atas dasar pengalaman itu ia memutuskan untuk hidup mengikuti teladan Santo Ignatius dari Loyola.

Pengalaman akan kerahiman Allah ini pula yang mendorong beliau sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik, untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan di dalam Gereja Katolik, yang kadang-kadang mencengangkan. Misalnya, Paus menyatakan bahwa “Ekaristi, betapa pun dalam dirinya sendiri adalah kepenuhan hidup sakramental, bukanlah suatu hadiah bagi mereka yang sempurna, melainkan obat penuh daya dan santapan bagi yang lemah. Keyakinan ini memiliki konsekuensi pastoral yang perlu disadari dengan bijaksana dan berani” (EG 47). Atas dasar pengalaman yang sama Paus dengan lantang menolak sistem ekonomi yang menguasai dan meminggirkan, bukan yang melayani kebaikan bersama. Atas dasar pengalaman yang sama pula Paus menyerukan pertobatan ekologis dalam rangka memelihara bumi ini sebagai rumah kita bersama. Dengan demikian jelaslah bahwa pengalaman akan kerahiman Allah yang memerdekakan, mempunyai jangkauan pengaruh yang amat luas.

Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Jakarta menawarkan tema “Kerahiman Allah Yang Memerdekakan” sebagai ajakan untuk pertama-tama memahami secara lebih dalam arti kerahiman Allah. Selanjutnya tentu diharapkan agar pemahaman yang lebih mendalam ini membantu kita semua untuk mengalami kerahiman Allah secara pribadi. Pengalaman seperti ini dapat kita rasakan dalam hidup kita sehari-hari khususnya pada waktu kita jatuh dan diangkat kembali oleh Allah yang kasih setia-Nya tanpa batas; pada waktu kita sadar akan dosa, kelemahan dan kesalahan kita dan menerima belas kasih pengampunan Tuhan maupun maaf dari sesama. Ini kita alami secara istimewa dalam Sakramen Rekonsiliasi.
Mari kita jalani hidup kita sebagai orang beriman dalam semangat saling mengampuni. Semoga kita dijauhkan dari sikap menghakimi dan menghukum. Semoga kita semua, murid-murid Yesus di Keuskupan Agung Jakarta siap mencari jalan-jalan baru untuk mengalami, mensyukuri dan selanjutnya mewartakan serta mewujudkan kerahiman Allah “dengan keberanian rasuli, kerendahan hati Injili dan doa yang tekun”.

Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda semua, keluarga-keluarga dan komunitas Anda.
Selamat memasuki masa Prapaskah.
 
† I. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta

Sabtu, 12 Desember 2015

BERIMAN HARUS TEGAS



Tema rekoleksi keluarga minggu pertama adven 2015 adalah “syukur atas iman”. Dinamika pertemuan langsung menarik minat peserta. Lagu dan gerak tubuh mampu mencairkan suasana sekaligus menjembatani pesan yang mau disampaikan.

Sebagai fasilitator, saya tertarik pada aktivitas “menjawab pertanyaan”. Ada empat pertanyaan tertutup yang harus dijawab “ya” atau “tidak”, dan itu berhubungan dengan sikap tabah dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, sikap tekun mencari jalan keluar dari problem kehidupan, sikap disiplin dalam doa dan hidup menggereja, serta sikap percaya pada Tuhan. Ketertarikan saya bukan pada keempat jenis pertanyaan itu, tetapi pada komentar dan pertanyaan umat: “Mengapa tidak ada alternatif jawaban ‘kadang-kadang’”?
Benar juga, ya, pikirku. Berpikir sejenak, saya pun menjawab, “Jika ada alternatif jawaban ‘kadang-kadang’, sudah hampir pasti kalian memilih alternatif jawaban itu.” Umatpun tertawa, tetapi bagi saya, ini menarik untuk direfleksikan.

Saya termasuk orang yang tidak setuju dengan alternatif jawaban “kadang-kadang” karena tiga alasan. Pertama, pertanyaan apakah kita percaya pada penyertaan Tuhan atau tidak (pertanyaan 4) dapat dijawab secara tegas dengan “ya” atau “tidak”, tetapi tidak demikian dengan ketiga pertanyaan pertama. Kedua, jika kita menjawab “kadang-kadang” untuk pertanyaan (1) apakah kita sungguh-sungguh tabah dalam menghadapi cobaan, (2) apakah tekun mengusahakan jalan keluar, (3) apakah memiliki disiplin dalam doa dan kehidupan menggereja, jawaban kita justru bertolak-belakang dengan jawaban tegas kita pada pertanyaan pertama. Bagaimana mungkin kita percaya pada penyertaan Tuhan dalam hidup beriman dan hidup menggereja tetapi tidak yakin dengan sikap konkret keberimanan kita? Ketiga, konteks pertanyaan yang diajukan sebenarnya berhubungan dengan sikap dan keteladanan keluarga dalam iman dan praktik hidup menggereja. Jika keluarga selalu bersyukur atas iman (tema 1), syukur itu haruslah merupakan ketabahan dalam menghadapi hidup dan keuletan dalam mencari jalan keluar atas persoalan hidup karena iman yang teguh pada penyertaan Tuhan.

Sebagai fasilitator, saya mengerti kegundahan umat – dan itu juga kegundahan saya. Sebagai insan berdosa, kita tidak terlalu yakin pada diri sendiri sebagai  pribadi yang benar-benar tekun dan ulet berdoa dan dalam menghadapi persoalan hidup. Meskipun demikian, saya percaya bahwa dengan menyatakan secara tegas – dan bukan memilih opsi jawaban “kadang-kadang” – bahwa kita tabah dalam menghadapi persoalan hidup, tekun mengusahakan jalan keluar atas berbagai problem hidup, dan memiliki disiplin diri dalam berdoa dan hidup menggereja, kita menyatakan secara publik sikap iman kita. Pernyataan publik itu sendiri memiliki dimensi positif. Di satu pihak, kita ingin orang lain tahu bahwa kita sungguh-sungguh beriman. Dan ini yang seharusnya menjadi alasan mendasar untuk bersyukur. Tetapi di lain pihak, kita membuka diri terhadap berbagai “teguran” sama saudara ketika melihat kita lalai pada komitmen yang telah kita buat.

Demikianlah, pernyataan iman yang tegas tidak harus dilihat sebagai ungkapan kesombongan. Dia justru merupakan cara positif untuk bertumbuh dalam iman ketika sesama umat beriman dilibatkan dalam pertumbuhan iman kita, karena kita berani menyatakan model keberimanan kita secara publik. Karena itu, berhentilah mencari jawaban “kadang-kadang” dan mulailah menjadi tegas dalam beriman.

Sabtu, 28 November 2015

TUGAS SUCI PARA KATEKIS



Malam hari, 27 November 2015. Paus Fransiskus disambut para katekis dan guru di Munyonyo, Uganda. Di hadapan mereka, Fransiskus mengatakan bahwa karya yang mereka lakukan sungguh sebuah “karya suci”, karya yang penting dalam menyebarkan Kabar Gembira ke setiap dusun, kampung, desa dan kota di seluruh negeri. Munyonyo adalah tempat simbolik penuh makna bagi orang Uganda karena di situ beberapa martir dari Uganda menumpahkan darah mereka dalam membela iman Katolik. Fransiskus disambut musik dan tari-tarian nan meriah.

Di hadapan Fransiskus, koordinator nasional Katekis melaporkan bahwa ada sekitar 15 ribu katekis yang berkarya di seluruh Uganda. Karya para katekis itu dikoordinasi oleh Konferensi Para Uskup Uganda.
Menanggapi ini, Fransiskus mengatakan, “Di atas segalanya, saya ingin mengucapkan terima kasih bagi segala pengorbanan yang sudah dibuat oleh Anda dan seluruh keluarga, dan untuk semangat dan devosi yang menyertai kamu dalam seluruh karya yang teramat penting ini. Fransiskus mengatakannya dalam Bahasa Italia.

Lebih lanjut, Fransiskus mengatakan, “Kamu mengajarkan apa yang Yesus ajarkan, kamu mendidik kaum dewasa dan membantu para orangtua membesarkan anak-anak mereka dalam iman, dan kamu membawa kegembiraan dan kehidupan kekal kepada segenap orang.”

Kesadaran akan karya agung yang diemban para katekis inilah yang mendorong Fransiskus untuk terus berterima kasih kepada mereka. “Saya mengucapkan terima kasih kepada kalian terutama karena kalian sudah mengajarkan anak-anak kita dan kaum muda kita bagaimana berdoa.”

Uskup Roma itu pun menyadari banyaknya tantangan yang dihadapi para katekis dan para guru, tetapi terus menyerukan dan mendorong mereka untuk tetap menjadi saksi Kristus. “Bahkan ketika tugas-tugas kalian tampaknya begitu berat, sarana pendukung yang sangat minim, dan tantangan yang sangat berat, jangan pernah sekali-kali lupa bahwa karya yang kalian kerjakan itu mulia dan kudus,” demikian Fransiskus. Berkali-kali Fransiskus menekankan bahwa karya yang diemban para katekis adalah karya yang kudus.
Paus Fransiskus menjamin bahwa Roh Kudus akan senantiasa hadir dan menaungi setiap karya para katekis. “Pesan yang kalian bawa akan berakar semakin kuat di dalam hati umat jika kamu tidak sekadar menjadi guru tetapi juga seorang saksi. Dan sekali lagi saya menekankan ini, lebih dari sekadar seorang guru, kamu harus menjadi saksi. Keteladanan hidup kamu harus berbicara kepada segenap orang tentang indahnya berdoa, kekuatan pengampunan dan belas kasihan, kegembiraan berbagi di dalam Ekaristi bersama seluruh saudara dan saudari.” (Sumber: Zenit.org, 27 November 2015).

Tetap Jadi Pembawa Damai

Di tengah reaksi dunia atas teror dan bom bunuh diri yang menewaskan ratusan orang di Paris, 13 November 2015, menarik untuk merefleksikan posisi Gereja Katolik. Menyusul tindakan barbarik itu, Paus Fransiskus langsung mengirimkan pesan kepada Kardinal Andre Vingt-Trois, Uskup Agung Paris, bahwa Gereja Katolik seluruh dunia tidak hanya mengecam aksi brutal tersebut, tetapi terus mendoakan sesama seiman yang tengah menderita. Tetapi di atas semuanya itu, Paus Fransiskus menegaskan posisi Gereja Katolik untuk selalu menjadi “seniman perdamaian”. Hanya dengan cara demikianlah Gereja Katolik memperjuangkan keadilan bagi semua.

Tidak mudah menjadi pembawa damai di tengah kultur kebencian mengatasnamakan agama. Para saksi mata tragedi 13 November di Paris memberi kesaksian betapa para teroris meneriakkan Allahu Akbar sebelum melakukan aksi brutal mereka. Mengelak menghubungkan aksi ini sebagai tindakan tidak manusiawi berbasis ajaran agama tertentu hanya akan menjadi sikap kompromi demi menghindari konflik antaragama.

Tulisan Pastor James Schall SJ berjudul An Act of War di Mercato.net sedikit membuka mata kita tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Menjadi pembawa damai di tengah dunia di mana Islam terus berusaha mengekspansi pengaruhnya, termasuk menggunakan cara-cara kekerasan akan membuat tugas itu menjadi semakin sulit. Profesor emeritus bidang politik di Georgetown University itu menawarkan proyek penggandaan narasi yang menggambarkan Islam, Katolik atau agama lainnya secara gamblang sebegitu rupa sehingga publik tahu seperti apa “isi perut” mereka. Dengan begitu, orang bisa memilihnya secara rasional.
Keberhasilan usulan ini mengandaikan adanya masyarakat yang rasional dan well-ordered. Problemnya, kelompok radikal seperti ISIS menggunakan kekerasan secara maksimal tanpa memberi ruang sedikit pun bagi tindakan dan pilihan rasional. Lebih menakutkan lagi jika tindakan kekerasan itu dimaksud untuk mengganti rasionalitas dengan barbarisme berlandaskan teologi murahan.
Seruan Paus Fransiskus kepada seluruh umat Katolik pasca tragedi Paris untuk tetap menjadi “pembawa damai” pada akhirnya memosisikan agama Katolik sebagai satu-satunya agama wahyu yang seluruh ajarannya mempromosikan perdamaian. Dalam homilinya pada misa harian tanggal 19 November 2015, Paus Fransiskus mengatakan bahwa bacaan Injil hari itu tentang Yesus yang meratapi Yerusalem (Luk 19:41) sungguh sedang terjadi lagi sekarang. Sekarang pun Yesus tetap menangis karena manusia memilih jalan perang, jalan kebencian, dan jalan permusuhan.
Paus Benediktus XVI tampaknya benar ketika mengatakan, “Perang berkecamuk di mana-mana dan kebencian telah menguasai dunia” sehingga menyulitkan kita untuk mengusakan kebaikan dan membangun perdamaian. Meskipun begitu, perdamaian tetap tidak akan pernah berhenti kita wujudkan, karena itulah inti dari iman Katolik.
Andai saja Yesus mengizinkan para murid-Nya berperang melawan pemuka agama Yahudi ketika Ia hendak ditangkap. Tetapi itu tidak pernah terjadi, karena cinta kasih mengatasi seluruh doktrin keagamaan yang keras. Dan cinta kasih itu yang sekarang sedang dipertaruhkan di ujung senapan dan pedang. Tetapi seperti yang ditegaskan Kardinal Andre Vingt-Trois, Uskup Paris, “Kita tidak pernah boleh lalai dalam membangun perdamaian supaya tercipta keadilan.”
Ya, perdamaian memang harus terus kita bangun, juga ketika usaha itu dilewati dengan pertumpahan darah. (Yeremias Jena, Katekis MBK, umat Wilayah IV)

Selasa, 17 Maret 2015

Pembawa Berkat



Setelah membaca salah satu refleksi sederhana yang aku tulis di blog ini, seorang sahabat mengatakan hal ini kepadaku, “Terima kasih, Pak. Tulisannya menginspirasi. Teruslah menjadi berkat bagi orang banyak!” Wah, sebuah peneguhan yang luar biasa, sekaligus membesarkan hati. Bahwa setiap kata yang ditulis harus dilihat sebagai sarana untuk menyampaikan sesuatu yang lebih besar dan mulia. Kata-kata peneguhan ini aku lihat sebagai dukungan untuk terus menulis, karena melalui tulisan seseorang bisa menyebarkan pesan-pesan yang baik.

Tetapi kemudian saya merenung dan bertanya, “Apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan menjadi berkat bagi orang lain?” Dipahami dalam konteks spiritualitas, kata-kata teman ini adalah sebuah doa dan harap yang sangat besar, karena mengandung dua pengertian sekaligus. Pertama, sebuah pengakuan bahwa saya memang telah menjadi pembawa berkat dan sekarang diharapkan untuk terus menjadi berkat. Jangan pernah berhenti karena orang lain akan mendapatkan berkat karena peran atau karya sederhana saya ini.

Kedua, ucapan teman itu mungkin lebih baik dimaknakan sebagai sebuah harap. Meskipun ada kata “teruslah” yang mengandung konotasi seseorang sudah memainkan peran tertentu, saya lebih nyaman memahami dukungan teman ini sebagai sebuah doa sekaligus harap. Bahwa dengan menulis refleksi-refleksi sederhana, saya seharusnya belajar menjadi pembawa berkat bagi orang lain. Sekali lagi, saya memaknakan dukungan sahabat itu berdasarkan poin kedua ini.

Saya menafsirkan demikian, karena dukungan sebagai doa dan pengharapan, selain lebih tepat menggambarkan keadaan saya saat ini, saya juga sebetulnya belajar untuk menjadi rendah hati. Bahwa peran menjadi pembawa damai tidak pernah mudah dan tidak pernah sekali terjadi untuk selamanya. Dia haruslah sebuah proses panjang yang harus dilakoni secara terus-menerus. Untuk itu, saya mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas dukungan dan peneguhan semacam ini, sekaligus juga berdoa, semoga siapa pun yang membaca tulisan-tulisan saya, bisa menemukan makna yang lebih dalam, yang barangkali saya sendiri tidak pernah menyadarinya sebelumnya.

Lebih dari apa yang saya katakan di atas, menjadi berkat ternyata sebuah tugas yang luar biasa berat. Pertama-tama orang itu harus terlebih dahulu hidup dalam berkat. Dalam bahasa rohani, seseorang harus terlebih dahulu mengenal dan mengasihi Tuhan sebelum dia memberitakan pengalaman dikasihi kepada orang lain. Itulah tantangan teramat berat yang dihadapi setiap pewarta sabda ketika dia dihadang pertanyaan, “Apakah Anda sungguh-sungguh telah mengalami kehadiran Tuhanmu dalam hidupmu? Sejauh mana Anda membiarkan Dia berkarya dan menuntun hidupmu? Jangan-jangan apa yang Anda tulis murni sebuah karya intelektual, dan sama sekali tidak menghadirkan kenyataan kasih Tuhan.

Jika sudah berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ini, siapa pun pasti akan selalu merasa dirinya sebagai tidak pantas. Yesaya, seorang Nabi kenamaan, pernah mengalami perasaan “kagok” dan tidak pantas semacam ini. Pengalaman “melihat” melihat Yahweh dia maknakan sebagai suatu petaka, karena melihat Tuhan berarti bersiap-siap untuk binasa. Tetapi Yahweh sendiri justru membiarkan diri-Nya dialami secara real, karena Dia punya misi yang akan dia berikan kepada Yesaya. Dan ketika Yesaya mengeluh atau lebih tepatnya menolak karena merasa tidak pantas, Yahweh mengubah dia. Pengalaman yang intim dengan Yahweh berubah menjadi sebuah perutusan untuk mewartakan kabar sukacita Tuhan. Bahwa Yahweh tidak pernah menyangkal cinta-Nya, seberapa jauh manusia melangkah jauh meninggalkan Dia (Yes 6:1-13).

Dalam konteks biblis semacam inilah saya memahami makna menjadi berkat. Pertama-tama memang harus ada sebuah pengalaman perjumpaan atau pengalaman sangat pribadi dengan Tuhan sebagai prasyarat seseorang bisa menjadi berkat bagi orang lain. Apakah kondisi ini sudah kualami sekarang, saya tidak berani mengatakannya. Yang jelas, siapa pun, termasuk saya, akan terus berusaha mengasihi Tuhan sampai pada titik di mana dia tidak merasa apakah dia sungguh mengasihi Tuhan atau tidak. Dan pada saat itu sebetulnya Tuhan tidak pernah berhenti mengasihi dia.

Di situlah saya belajar bukan untuk melihat setiap perjumpaan dan pengalaman pencerahan rohani sebagai semacam petaka rohani karena ketidakpantasan masuk ke dalam pengalaman pribadi berjumpa dengan Dia, tetapi sebuah keterbukaan diri untuk menjadi berkat bagi orang lain. Bagi saya, hanya dengan sikap semacam inilah seseorang bisa dengan yakin mengatakan, “Inilah aku, utuslah aku!”