Selasa, 14 Februari 2012

TIDAK ADA YANG KEBETULAN


Senyuman dan sapaan memampukan kita membuka dir
bagi kehadiran orang lain.
Sudah beberapa kali saya mengikuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin Uskup Agung Jakarta, Mgr. Dr. Ignatius Suharyo, Pr. Terakhir adalah pada tanggal 31 Januari 2012, pada pesta peringatan Santo Yohanes Bosco di Paroki Sunter, Jakarta Utara. Salah satu refleksi yang diangkat Bapak Uskup dan yang terus menjadi bahan pemikiran saya, adalah penolakannya terhadap “aspek kebetulan” dalam hidup manusia, terutama jika dilihat dari kaca mata iman (Katolik). Apa maksudnya? 

Contoh yang diberikan Mgr. Suharyo dapat menjadi pintu masuk memahami pemikiran dan refleksi imannya. Bapak Uskup bercerita bahwa suatu ketika, dalam sebuah penerbang ke suatu tempat, dia bertemu dengan seseorang yang kemudian mengenalnya sebagai seorang imam (pastor) Katolik. Ketika tahu bahwa Mgr. Suharyo adalah seorang pastor, orang itu berkata, “Romo, kebetulan saya juga seorang Katolik.”

Mengomentari pengalaman itu, Bapak Uskup menekankan bahwa tidak ada kebetulan dalam pengalaman manusia, terutama jika dilihat dari kaca mata iman. Kalau begitu, apakah ada dessain Ilahi dalam setiap pengalaman manusia? Apakah ada semacam “takdir” atau rencana dan penyelenggaraan Ilahi dalam setiap langkah dan pengalaman manusia, sekecil apa pun? Jika benar, apakah manusia tinggal menjalankan saja rencana atau takdir Ilahi itu? Sejauh mana takdir Ilahi itu tidak bertentangan dengan kebebasan manusia? 

Kesempatan berbuat baik 

Supaya tidak salah sangka, Bapak Uskup tidak membahas pertanyaan-pertanyaan ini, apalagi merefleksikannya secara filosofis, mengingat pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan tersebut lebih menyangkut persoalan filsafat, tepatnya masalah kebebasan dan predestinasi. Bagi Bapak Uskup, Tuhan memiliki rencana bagi setiap orang, dan rencana itu adalah kebaikan. Manusia dipanggil untuk melakukan kebaikan. Pengalaman bertemu dengan orang lain, entah dengan rekan seiman atau berbeda iman, harus dilihat sebagai momentum rahmat, saat “suci” atau kesempatan agung di mana manusia dipanggil untuk berbuat baik bagi sesama. Karena itu, setiap pengalaman atau setiap perjumpaan seharusnya dihayati sebagai saat di mana Tuhan dialami bersemayam dalam hati kita. Bahwa Tuhan yang adalah sumber kebaikan dalam diriku memancarkan kebaikan keluar, bertemu dengan kebaikan yang dipancarkan oleh orang lain yang saya jumpai dalam kehidupan sehari-hari, dan bersama-sama memancarkan kebaikan bagi masyarakat dan semesta.

Barangkali dalam pemikiran seperti inilah kita mengerti dengan baik mengapa sapaan, salam, senyuman, atau “say hi” kepada orang yang kita jumpai, entah sudah dikenal atau belum, menjadi simbol keterbukaan diri kepada ekspresi kebaikan Tuhan itu. Di sini saya teringat sebuah kisah yang sudah lama sekali saya baca. Suatu waktu, seorang pemuda yang biasanya ceria, murah senyum, dan suka menyapa orang, mendapatkan dirinya dalam sebuah angkutan umum yang pengap dan sunyi. Di dalam angkot itu, tidak ada satu orang pun yang menyapa atau tersenyum pada orang lain. Setiap orang sibuk memainkan handphone mereka. Ada yang chatting, ada yang bermain game, mendengar musik atau membuat phone call. Dasarnya tidak suka  berdiam diri dan ingin berkomunikasi dengan orang di sekitarnya, sang pemuda itu pun berteriak, katanya, “Hei, apakah ada orang di dalam angkot ini?” Sontak orang-orang pun terkejut. Mereka melihat ke arah pemuda itu. Ada yang tersenyum, ada yang sinis, ada yang cuek tidak peduli, ada yang menyilangkan jari telunjuk di dahinya (“sinting kali ya orang ini”). Tetapi tidak bagi seorang ibu yang duduk persis di hadapannya. Sambil tersenyum, ibu itu berkata kepada pemuda itu, “Hai anak muda, apa kabar?”

Itulah awal dari dialog antar si pemuda dengan ibu yang duduk di hadapannya. Angkutan umum terus melaju dan si pemuda itu pun terus ngobrol dengan ibu yang baru saja dikenalnya dalam angkot itu. Mereka berbicara banyak hal, tidak fokus pada satu masalah saja. Ya, pembicaraan yang ringan dan santai. Apa yang dibicarakan itu tidak penting dalam pengalaman singkat itu, yang penting adalah sapaan, teguran, dan keterbukaan untuk berelasi dengan orang lain. Dan karena angkot itu begitu kecil sementara sang ibu dan pemuda itu terus mengobrol, suara mereka pun mengusik orang lain yang ada di sekitar mereka. Jika sebelumnya orang-orang di angkot itu sibuk dengan diri sendiri, suara obrolan kedua orang itu begitu mengganggu mereka sehingga mereka “terpaksa” ikut ngobrol juga dengan penumpang lain yang ada di samping atau di depan mereka. Ya, begitulah yang terjadi sampai semua penumpang yang ada dalam angkot itu pun berbicara satu sama lain.

Pengalaman perjumpaan tidak pernah merupakan kebetulan. Pengalaman itu adalah kesempatan untuk berbuat baik kepada sesama. Dengan berbuat baik, seseorang tidak hanya menguntungkan orang lain, tetapi juga dirinya sendiri. Dan itu mengandaikan setiap orang berani membuka diri, berani menanggalkan urusan pribadi masing-masing dan mulai menyapa orang lain. Pemuda dalam angkot itu menyatakan hal yang sangat sederhana, bahwa membuka diri harus dimulai dari kita. Inisiatif membuka diri itu harus dimulai dari kita masing-masing. Kita tidak harus menunggu orang lain datang dan menyapa. Kitalah yang memulai duluan. Bahwa kemudian sapaan atau kehendak baik kita ditolak, itu sudah merupakan konsekuensi dari niat dan keinginan berbuat baik. Semuanya pasti ada konsekuensinya. 

Manusia tetap bebas 

Kembali ke pertanyaan filosofis yang saya ajukan di atas, apa jawabannya? Bagi saya, rencana dan penyelenggaraan Ilahi selalu ada dan menyertai hidup manusia. Setiap pengalaman memang bukan suatu kebetulan, dan dalam hal ini saya setuju sepenuhnya pada refleksi dan pemikiran Mgr. Suharyo. Meskipun demikian, seturut pemahaman saya yang bukan teolog atau ahli kitab suci, Tuhan tidak pernah bersifat sewenang-wenang. Tuhan tidak mau mengambil kembali kebebasan yang sudah Dia berikan kepada manusia. Tuhan menghormati kebebasan manusia. Karena itu, rencana dan penyelenggaraan Ilahi ditampakkan Tuhan kepada kita sebagai ”tawaran” yang mendorong kita untuk berbuat baik. Manusialah yang harus menanggapi tawaran itu. Manusialah yang harus mengatakan ”ya” pada tawaran itu dan membuka diri menjadi sarana bagi terealisasinya kebaikan ilahi. Di titik inilah terdapat perbedaan antara setiap manusia. Ada yang berwatak seperti si pemuda dalam angkot itu yang selalu siap dan membuka diri bagi kebaikan Tuhan. Tetapi ada dari kita yang bersikap dingin, cuek, dan tidak peduli. Ada juga manusia yang menolak melakukan kebaikan Tuhan dengan menutup diri bahkan membunuh dan mencelakakan orang lain. Itulah sebabnya, bagi saya, penyelenggaraan ilahi atau takdir itu sama sekali bertentangan dengan kebebasan manusia.

Tidak ada yang kebetulan. Benar demikian. Tetapi bagi mereka yang menutup diri dan membenci orang lain, hidup ini selalu dilihat sebagai rangkaian kejadian penuh kebetulan, dan bukan sebuah kisah utuh ketika Tuhan menunjukkan cinta kasih-Nya kepada manusia. Terima kasih, Mgr. Suharyo, karena sudah memicu pemikiran saya sejauh ini. Tuhan Yesus memberkati!

Senin, 30 Januari 2012

Membawa anak-anak kepada Allah – Cara Mendidik Don Bosco

 Meskipun tidak menikah dan tetap menjadi seorang pastor seumur hidup, dapat dikatakan bahwa Don Bosco (1815-1888) memiliki bakat alamiah sebagai orangtua. Terhitung hampir selama setengah abad kerasulannya di Keuskupan Turin, Italia, sebagai imam, Don Bosco tampil sebagai sosok seorang ayah yang luar biasa bagi ratusan anak-anak gelandangan.

(Istilah “Don” yang digunakan Yohanes Bosco di depan namanya dalam Bahasa Italia digunakan khusus untuk menyebut seorang pastor). Dewasa ini kaum profesional dalam bidang kehidupan keluarga tetap menganggap Don Bosco sebagai contoh menakjubkan dari sosok yang memelihara dan membesarkan anak-anak. Contoh atau teladan yang ditunjukkan Don Bosco dan ajaran-ajarannya mengenai bagaimana memelihara dan membesarkan anak-anak tetap tinggal sebagai warisan yang tak lekang  dimakan usia. Dan karena masalah-masalah yang dihadapi adalah masalah khas dalam bagaimana memelihara dan membesarkan anak-anak di zaman modern, apa yang diajarkan dan dilakukan Don Bosco tetap cocok dengan persoalan yang dihadapi keluarga-keluarga di abad 21 ini. Apa yang dilakukan Don Bosco dan ajaran-ajarannya membawa pembaruan dan pengharapan dalam mendidik anak-anak dan kaum muda.

Pada tahun 1841, Don Bosco pertama kalinya datang ke Turin sebagai seorang pastor muda dengan maksud untuk belajar teologi. Di kota inilah dia berjumpa dengan anak-anak muda yang kesepian tanpa keluarga atau rumah. Banyak dari mereka yang bekerja sebagai tukang bangunan atau kuli bangunan di proyek-proyek konstruksi yang pada waktu itu berkembang pesat di kota ini. Turin di tahun-tahun ini sedang berkembang sangat pesat sebagai sebuah kota metropolitan. Pengalaman perjumpaan ini mendorong atau mungkin tepatnya mendesak Don Bosco untuk membuat sesuatu demi anak-anak muda tersebut. Dia mulai mengumpulkan mereka pada hari Minggu dengan mengorganisir beberapa pertandingan, pertunjukkan, piknik, doa, dan pelajaran katekismus. Segera setelah itu Don Bosco mulai menampung mereka di rumah ibunya, menyediakan dan memberi mereka makanan, pakaian dan kenyamanan layaknya di sebuah rumah keluarga. Selama lima belas tahun Don Bosco memainkan peran sebagai seorang ayah bagi ratusan anak-anak gelandangan. Memasrahkan dirinya pada kehendak dan penyelenggaraan Ilahi, Don Bosco membangun asrama, sekolah, bengkel-bengkel bagi anak-anak muda gelandangan itu. Di tempat itulah anak-anak muda diberi kesempatan untuk belajar bekerja demi memasuki dunia kerja. Dia juga membangun gereja tempat anak-anak belajar mencintai dan berdialog dengan Tuhan. Don Bosco memberikan segalanya kepada anak-anaknya, tetapi melebihi semuanya itu adalah cinta kebapaannya.

Dipanggil untuk mengasuh dan mendidik anak-anak bagi Allah

Sewaktu masih sebagai seorang anak (waktu itu usianya baru 9 tahun), Don Bosco menyadari bahwa dirinya dipanggil Allah untuk melayani kaum muda. Panggilan Allah itu datang kepadanya dalam sebuah mimpi. Dia mendapatkan dirinya berada di sebuah lapangan teramat luas, dikelilingi oleh anak-anak yang sedang berteriak dan berkelahi. Keadaan pada waktu itu kacau sekali. Menyadari keadaan demikian, Don Bosco berusaha menenangkan anak-anak bengal itu. Dia mencoba menenangkan mereka, pertama-tama dengan cara persuasif. Dia berusaha memengaruhi mereka supaya berhenti berkelahi. Tetapi ketika cara lembut dan persuasif ini tidak membuahkan hasil, Don Bosco kemudian mencoba menghentikan mereka dengan paksaan. “Jangan gunakan kekerasan,” kata seorang asing yang dia sendiri tidak pernah kenal sebelumnya. “Jadilah lembut jika kamu ingin memenangkan hati dan persahabatan mereka.” Selepas mendengar kata-kata dari seorang perempuan yang tidak dia kenal itu, tiba-tiba Don Bosco melihat bagaimana anak-anak muda yang tadinya berkelahi dan mengeluarkan kata-kata kasar itu, kini berubah menjadi binatang buas. Herannya, binatang-binatang buas itu berubah menjadi domba-domba dan berada di sekitar Don Bosco. Tak lama kemudian, terdengar suara seorang perempuan yang memberi perintah kepada Don Bosco, katanya, “Bangunlah, ambillah tongkatmu dan berbegaslah membawa mereka ke pada rumput.” Mimpi ini menjadi awal mula kesadaran Don Bosco akan panggilan sucinya untuk pertama-tama menjadi Bapak bagi ratusan bahkan ribuan kaum muda miskin, gelandangan, dan terpinggirkan. Menjadi imam adalah sarana di tangan Allah untuk membebaskan diri dari berbagai okupasi duniawi demi memusatkan perhatian hanya pada keselamatan jiwa kaum muda.

Sama seperti Don Bosco, para orangtua di seluruh dunia, menyadari panggilan yang sama untuk mendidik dan membesarkan anak-anak yang telah Tuhan percayakan kepada mereka. Ini juga yang menjadi keyakinanku, hingga sekarang. Sebelas tahun silam, ketika menemukan perempuan kekasih jiwaku yang sekarang masih menjadi istriku, saya dan istriku sungguh yakin, betapa Allah mengundang kami untuk membuka diri bagi kerja sama dengan kehendak Allah demi mendidik dan membesarkan anak-(anak) kami yang bakal Tuhan berikan. Meskipun demikian, menyadari diri sebagai pasangan yang masih lemah, penuh kekurangan dan dosa, kami senantiasa bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita menerima dan mempertahankan panggilan sebagai orangtua ini secara serius dan bertanggung jawab? Apakah kami menampilkan diri sebagai serigala yang siap menerkam anak-(anak) jika mereka melakukan kesalahan, atau menjadi orangtua yang lemah-lembut dan penuh kasih sayang?

Mengungkapkan dan menyatakan cinta

Dari Don Bosco,  kita dapat belajar banyak, terutama belajar bagaimana mengungkapkan cinta bagi anak-anak kita dalam cara yang tepat yang membuat mereka merasa sungguh-sungguh dicintai. Don Bosco memenangkan hati dan kepercayaan kaum muda dengan cara berada bersama dengan mereka. Mereka tahu betul betapa Don Bosco menunjukkan ketertarikannya yang tidak dibuat-buat kepada mereka, karena dia mengungkapkan afeksi (cinta)nya kepada mereka. Cinta tidak dikatakan atau diobral, tetapi dinyatakan, dan orang yang dicintai merasakan bahwa dirinya memang dicintai. Don Bosco menyediakan waktu untuk kaum muda. Dia bermain bersama mereka, berinteraksi sambil menanyakan bagaimana hidup mereka, peka dan mendengarkan apa yang mereka katakan. Misalnya, di malam ketika Don Bosco sedang makan malam, anak-anak akan datang dan berkumpul di sekitar dia. Sembari mengunyah makanan, anak-anak muda akan mengelilingi dia. Don Bosco pun bercanda dengan mereka dan bersenda-gurau dengan anak-anak muda itu. Dan mereka pun menikmati kasih sayang kebapakan ini sampai Don Bosco meminta mereka pergi tidur ketika hari menjadi semakin malam.

Dalam praktik, saya dan istri pun berusaha mempraktikkan cara Don Bosco mendidik dan membesarkan anak-anak. Meskipun belum sesukses yang dilakukan Don Bosco, kami mencoba berkumpul bersama putri kami, seusai makan malam misalnya. Daripada menonton televisi, kami biasanya bercanda dan sekadar bersenda-gurau, dan sebagainya. Memang masih ada keinginan untuk menyertakan sharing kitab suci atau bacaan rohani dalam acara itu, dan itu baik kalau dilakukan di tengah-tengah senda-gurau, sehingga menghindari kesan formal. Sekali lagi, meskipun belum dipraktikkan sepenuhnya, ke depan keluargaku masih akan berusaha keras mewujudkannya.

Menghabiskan waktu bersama keluarga (istri dan anak-anak) sungguh menjadi momen penuh berkat di mana kasih Allah dapat dicurahkan. Sama seperti yang dipraktikkan Don Bosco kepada anak-anak, di mana kasih Allah tercurah kepada mereka melalui dirinya, kami suami istri juga yakin bahwa kasih Allah tercurah kepada anak kami, melalui kami. Di hari minggu atau hari libur, suasana keakraban selalu kami bangun, entah dalam keceriahan menyiapkan makanan di dapur atau sekadar menghabiskan waktu bersama di luar rumah. Itu sungguh menjadi moment untuk merasakan kasih Allah. Model dan prototipenya telah ditunjukkan Don Bosco, lebih dari seratus tahun silam.

Gembala berhati lembut

Don Bosco membesarkan anak-anak gelandangan dengan penuh kelembutan. Dia berjuang keras untuk menghindari kekerasan, disiplin yang kaku dan kasar. Dia memengaruhi perilaku anak-anak muda dengan cara mendorong bertumbuhnya tanggung jawba pribadi. Dia mendampingi mereka dengan kelembutan sehingga mengurangi peluang bagi tindakan-tindakan tidak disiplin dan perilaku tak-terpuji lainnya. Dia pun mendorong dan memengaruhi mereka untuk berubah. Ketika perilaku anak-anak perlu koreksi, Don Bosco mementingkan belas-kasihan dan bukan hukuman. Dan dia mengajarkan pendekatan ini kepada kita para pengikutnya, katanya:

Marilah kita menjadikan anak-anak ini sebagai anak-anak kita sendiri. Janganlah kita tidak menguasai dan memerintah mereka, kecuali itu dengan tujuan untuk melayani mereka secara lebih baik lagi. Ini juga yang menjadi metode yang digunakan Tuhan Yesus bersama para murid-Nya. Dia tidak menaruh dendam karena ketidaktahuan mereka atau karena kekerasan hati dan ketidaksetiaan mereka. Dia memperlakukan para pendosa dengan hati yang lemah-lembut dan kasih yang menyebabkan orang tertentu merasa terkejut dan tidak nyaman, yang lain memandang-Nya sebagai skandal, dan yang lain lagi melihat-Nya sebagai wujud belas-kasih Allah. Dan demikianlah Dia memenangkan kita dnegan kelembutan dan kerendahan hati.

Anak-anak itu bukan orang lain. Mereka anak-anak kita. Karena itu, dalam mengoreksi kesalahan yang mereka lakukan, kita seharusnya mengesampingkan semua kemarahan dan balas dendam, perlahan-lahan agar sifat-sifat semacam itu perlahan-lahan berkurang dan hilang dari hidup kita. Dalam hidup kita seharusnya tidak ada kecurigaan, rasa permusuhan, balas dendam atau kebencian yang tersorot dari pandangan mata kita. Jangan biarkan apa yang diucapkan semata-mata gerakan bibir yang menutupi hati penuh kebencian. Kita seharusnya mempraktikkan belas-kasihan dalam kehidupan kita dewasa ini dan berharap untuk terus mempertahankannya di masa depan. Hanya dengan demikian kita bisa menjadi ayah yang baik yang kesenangannya hanyalah mengoreksi dan mendidik anak-anak dalam kelembutan dan kasih.

Membaca ulang apa yang ditulis sebagai warisan Don Bosco kepada kita ini, kadang-kadang saya menjadi malu sendiri. Saya dan istri sangat bersyukur, bahwa sampai saat ini belum pernah sekali pun kami mendidik anak kami dengan kekerasan. Meskipun demikian, ketidaksabaran kadang membuat kami mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, terutama ketika anak tidak menunjukkan prestasi yang seperti diharapkan. Dalam konteks itu, model pendidikan Don Bosco akan tetap menjadi ideal yang harus ditiru dan dipraktikkan. Tidak mudah memang, karena anak-anak harus mengalami bahwa mereka dicintai. Meskipun demikian, disiplin tanpa kekerasan dan koreksi perilaku dengan hati yang lembut akan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk merasakan kehadiran Tuhan Yesus.

Pembentukan di dalam iman

Don Bosco mengatakan bahwa dia ingin mempersiapkan kaum muda supaya meeka menjadi anak-anak yang pantas di hadapan Allah. Dia meminta kepada Tuhan supaya menjadikan dirinya peduli hanya pada keselamatan jiwa-jiwa dan membiarkan Allah mengambil segala yang lainnya. Inilah ekspresi iman yang menjaga seluruh perhatian dan ziarah batin Don Bosco menuju Allah. Dia membaktikan seluruh hidupnya untuk memenangkan kepercayaan anak-anak muda karena hanya dengan demikian dia dapat menyiapkan mereka untuk hidup secara efektif dalam kehidupan kekristenan.

Untuk itu, Don Bosco mengajarkan iman Katolik kepada mereka. Dia menulis katekismus sederhana untuk anak-anak, mengajarkan mereka ajaran dasar Katolik dan mendorong mereka untuk mempraktikkannya. Dia tidak suka memberikan ajaran iman yang panjang-panjang. Ketika berada bersama anak-anak, Don Bosco suka menyelipkan kata-kata yang merupakan ajaran Gereja Katolik kepada kaum muda dengan maksud agar mereka bisa membantu teman-teman lainnya agar bisa hidup baik di hadirat Allah.

Suatu kali, ketika penyakit kolera menyerang kota Turin, Don Bosco mengorganisir anak-anak ke dalam kelompok-kelompok untuk merawat orang sakit dan menguburkan mereka yang meninggal. Don Bosco juga membantu anak-anak memilah-milah dan menentukan arah hidup mereka, memperkenalkan mereka dengan pilihan hidup tertentu, entah itu profesi tertentu di dunia atau panggilan menjadi pastor.
Salah satu tanggung jawab saya dan istri saya adalah memperkenalkan iman Katolik kepada putri kami. Dalam pengalaman kami, menghadiri perayaan Ekaristi di hari minggu itu memang baik dan perlu, tetapi tidak cukup. Kami beruntung bisa menyekolahkan anak kami di sekolah Katolik, milik sebuah paroki. Dengan demikian,anak kami dekat dengan Gereja, membuka diri bagi ajaran Gereja, dan diharapkan di masa depan tetap akan mengasihi Ibu Gereja. Kalau kami tidak ke Gereja, anak kami biasa bertanya, mengapa tidak ke Gereja. Bagi kami, ini adalah cara Tuhan mengingatkan kami, bahwa keterbukaan dan pasrah pada kehendakNya adalah di atas segala-galanya. Anak kami pun sudah bisa memimpin doa, mengucapkan doa spontan, mengerti beberapa ajaran dasar Gereja Katolik. Kami berusaha untuk melibatkan anak kami dalam kegiatan-kegiatan kerohanian seperti doa di lingkungan. Meskipun kadang tidak berhasil, tetapi tujuan kami tetap satu: menjadikan putri kami mengalami kehidupan komunitas bersama rekan-rekan seiman. Terima kasih Don Bosco.

Sitem Don Bosco

Suatu ketika ada orang meminta Don Bosco untuk mengeksplisitkan sistem yang dia gunakan dalam mendidik kaum muda. Mereka takjub, mengapa Don Bosco sangat sukses dalam mendidik mereka. “Sistem saya! Sistem saya!” jawab Don Bosco. “Tetapi saya sendiri tidak tahu apa sistem saya! Saya memiliki hanya satu kekuatan – terus maju dan melangkah selama Allah dan keadaan menginspirasi saya.” Dia menyerahkan diri sepenuhnya pada kekuatan Roh Kudus dalam membimbing dia mendidik kaum muda.
Model iman inilah yang seharusnya juga menginspirasi kita sebagai orangtua. Kita sering menemukan tantangan-tantangan yang dibawa anak-anak kita dan tidak tahu apa yang harus kita lakukan dalam menjawab tantangan-tantangan itu. Dalam situasi demikian, sistem pendidikan Don Bosco kiranya menjadi cocok dan sesuai dengan kebutuhan kita di zaman ini. Sistem Don Bosco adalah berdoa dan kemudian bertindak, memohon kepada Tuhan agar mengarahkan dan menjadi pemandu bagi seluruh usaha kita. Pendekatan ini berhasil karena itu merupakan bagian dari rencana Allah bagi kehidupan keluarga Kristiani.
Anak-anak kita bukanlah milik kita. Mereka milik Allah. Dia mempercayakan anak-anak itu kepada kita agar kita bisa mendidik dan membesarkan mereka dalam keluarga yang shakinah. Allah juga menganugerahkan kepada kita semua rahmat yang dibutuhkan agar bisa menjalankan misi ini. Demikianlah, dalam doa-doa harian kami, kami hanya mendoakan juga anggota keluarga kami, tetapi juga berdoa kepada Roh Kudus. Kami meminta anugerah dan berkat dari Roh Kudus agar berkat itu tinggal dalam hidup kami, yang dapat memimpin keluarga kami, atau bimbingan dalam menyelesaikan masalah-masalah sulit dalam keluarga. Dalam pekerjaan pun kami merasa bahwa sistem Don Bosco tetap penting dan cocok. Don Bosco mengajarkan kami untuk mempercayakan seluruh hidup pada penyelenggaraan Allah yang mengarahkan kami ke arah yang benar.

Sistem Don Bosco juga memiliki kekuatan yang lain, yakni kekuatan yang menyemangati setiap aspek dari kasih kebapaannya. “Saya telah berjanji kepada Tuhan,” demikian Don Bosco menulis, “bahwa sampai nafasku yang terakhir, saya akan tetap hidup bagi anak-anak muda saya yang miskin. Untuk kalian saya belajar, untuk kalian saya bekerja, saya juga siap memberikan hidupku bagi kalian. Ingatlah bahwa apa pun aku, saya telah menjadi segalanya bagi kamu, siang dan malam, pagi dan petang, di setiap kesempatan.” Para orangtua yang ingin membesarkan anak-anak mereka bagi Allah, cara mendidik Don Bosco akan merangkul panggilan mereka dengan pengabdian dirinya yang utuh dan kenal lelah.[]
——————————
Tulisan ini diolah dari karangan Bert Ghezzi dan diaplikasikan dengan kondisi dan pengalaman hidupku dan keluargaku. Terima kasih untuk Bert Ghezzi. Selamat Hari Don Bosco. Selamat kepada rekan-rekanku, para frater, bruder, diakon, imam, dan suster Salesian. Viva Don Bosco.

Minggu, 29 Januari 2012

Juru Damai

Tahun 2012 tidak hanya membawa harapan dan optimisme, tetapi juga kewaspadaan, ketakutan bahkan ketidakpastian akan kehidupan yang damai dan berkeadilan. Di dunia Arab, Mesir menjadi pelopor peralihan rezim dari otoritarianisme ke demokrasi yang segera diikuti negara-negara lain, meskipun menyisakan persoalan internal seputar kehidupan bersama yang damai antarberbagai kelompok etnis dan agama ketika kelompok tertentu “memaksakan” ideologi agama sebagai landasan politik bernegara. Ada optimisme besar bahwa demokrasi akan berkembang di dunia Arab yang selama ini dicap sebagai anti demokrasi.
Di lain pihak, muncul semacam ketakutan memasuki tahun 2012. Satu dekade terakhir orang memprediksi bahwa tahun 2012 adalah periode akhir kehidupan di dunia. Alam semesta akan menyongsong kesudahannya, demikian orang merujuk ke penanggalan kebudayaan Maya. Penanggalan suku Maya –umumnya tinggal di hutan-hutan dan pegunungan Guatemala dan Meksiko – memprediksi bahwa dunia ini memasuki sebuah “siklus besar” yang ditandai oleh terjadinya bencana alam bahkan akhir hidup bumi. Siklus besar dalam Kalender Maya akan terjadi setiap 1.872.000 hari, dimulai dari tanggal 13 Agustus 3113 SM (atau tanggal 14 Agustus 3114 menurut penanggalan Yulian). Disebut ”siklus besar” karena di akhir dari perhitungan itu adalah akhir kehidupan alam semesta dan isinya. Jika dihitung dari tanggal tersebut, maka akhir alam semesta dan segala isinya akan jatuh pada tanggal 21 Desember 2012.
Meskipun tidak ada alasan yang cukup meyakinkan mengapa perhitungan ”siklus besar” dimulai pada tanggal 13 Agustus 3113, kita terlanjur mempersepsi tahun 2012 sebagai tahun akhir kehidupan. Memasuki tahun baru berarti memasuki tahun kiamat.
Mereka yang optimis dan percaya pada masa depan kehidupan manusia yang lebih baik mencoba memahami prediksi suku Maya ini secara lebih positif. Ada yang mengatakan bahwa peringatan itu mendesak kita untuk mengubah cara kita mengelola bumi persis ketika berbagai krisis lingkungan hidup mengancam kepunahan spesies manusia sendiri. Menipisnya lapisan ozon karena efek rumah kaca barangkali menjadi salah satu fakta paling objektif yang mendesak perlunya mengubah cara memperlakukan alam dari eksploitasi kepada pengolahan, perawatan dan perlindungan. Ada juga yang mengatakan bahwa orang Maya mengingatkan kita untuk mendefinisikan kembali tanggung jawab kita sebagai manusia ketika Tuhan mempercayakan alam semesta dan isinya ini di bawah pengelolaan manusia. Sudah saatnya kita mempertanggungjawabkan perintah Tuhan untuk menguasai ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, semua binatang dan tetumbuhan di atas muka bumi. Bahwa manusia harus memastikan bahwa alam semesta dan isinya tidak akan hancur jika bukan karena kehendak dan kuasa Tuhan sang penguasa alam semesta.
Kaum muda sebagai juru damai
Paus Benediktus XVI mengawali tahun 2012 dengan mendedikasikan tanggal 1 Januari sebagai hari perdamaian dunia. Sri Paus sadar betul bahwa dunia sedang berada dalam periode senja kala. Eropa sendiri sedang mengalami krisis ekonomi yang bisa berujung pada perpecahan, instabilitas, bahkan juga konflik antarnegara. Sementara belahan dunia lain seperti di Mesir, Israel, Palestina, Nigeria, bahkan Indonesia, masih terjadi kekerasan atas nama etnis dan agama. Itulah keadaan dunia yang menurut Benediktus XVI sedang diselimuti oleh bayang-bayang kelam dan kegelapan (“shadow that obscure the horizon of today’s world”).
Ada paralelisme antara pemahaman orang Maya mengenai akhir kehidupan dan kiamat dengan permenungan seorang Benediktus XVI. Bahwa dunia dan segala isinya akan segera menuju kepunahan jika cara kita mengelola kehidupan dan mengatur dunia tidak mengalami perubahan. Konsumsi energi berlebihan, konsumerisme mencapai titik tertinggi ketika kosa kata ”cukup” (enough) hilang dari kesadaran kolektif manusia, serta nafsu mengeksploitasi habis alam semesta tidak pernah surut. Di lain pihak, hasrat menjadikan orang lain sebagai objek politik pun terus membara dalam diri segelintir penguasa tiran. Tetapi berbeda dengan cara pandang suku Maya, Benediktus XVI memberi harapan akan masa depan yang baik dan manusiawi sejauh setiap orang menjunjung tinggi perdamaian.
Harapan akan kehidupan yang semakin baik, adil, damai, dan sejahtera ada di pundak kaum muda. Benediktus XVI meyakini hal ini sehingga dia memberi tanggung jawab kepada kaum muda sebagai tanda dan sarana perdamaian. Berbeda dengan Publius Flavius Vegetius Renatus yang mengatakan bahwa ”perdamaian hanya bisa dicapai melalui kekuatan senjata” – seruannya yang terkenal sampai sekarang berbunyi ”si vis pacem, para bellum” atau ”jika menginginkan perdamaian, bersiap-siaplah untuk perang” – Benediktus XVI justru menyerukan pentingnya mendidik kaum muda kepada perdamaian. Jelas bagi Benediktus XVI, jika menginginkan perdamaian, satu-satunya jalan adalah mendidik kaum muda kepada perdamaian. Secara lugas, Benediktus XVI berseru, “I would like to underline the fact that, in the face of the shadows that obscure the horizon of today’s world, to assume responsibility for educating young people in knowledge of the truth, in fundamental values and virtues, is to look to the future with hope.”
Di sinilah sebenarnya terletak urgensi mendidik kaum muda kepada perdamaian. Tanggung jawab semua orang yang terpanggil untuk mewujudkan perdamaian dunia adalah mendidik kaum muda untuk memiliki pengetahuan yang memadai dan terbuka kepada kebenaran serta menerima nilai-nilai fundamental yang menjadi landasan kehidupan bersama. Dalam pemikiran Benediktus XVI, kaum muda harus dididik dalam semangat pluralisme sehingga mereka belajar “the importance and the art of peaceful coexistence, mutual respect, dialogue and understanding.” Tampak jelas, kaum muda hanya akan menjadi “peace builder” hanya jika mereka sudah memiliki pengetahuan tentang perdamaian sekaligus kecakapan akan hidup bersama orang lain secara damai, kebiasaan untuk saling menghormati, dialog dan pemahaman timbal-balik.

Kita ditantang
Dalam konteks Indonesia, tantangan yang kita hadapi bermata ganda. Di satu pihak, kita punya tanggung jawab besar mendidik kaum muda di sekolah-sekolah Katolik untuk memiliki kecakapan hidup bersama dalam masyarakat yang plural sebelum mereka menjadi pembawa damai bagi masyarakat. Tetapi, di lain pihak, kita juga terpanggil untuk mendidik publik yang plural dengan aneka kepentingan ideologi politik ini agar memiliki kepedulian yang sama akan perdamaian. Bahwa perdamaian hanya bisa terwujud di Republik ini jika semua orang mau mewujudkannya secara bersama (coexistence), terlepas dari agama dan suku apa pun.
Di kutub kedua itulah tantangan terberat mewujudkan perdamaian di Indonesia. Ketika berbagai kelompok mencoba “memaksakan” ideologi keagamaannya untuk dijadikan sebagai ideologi hidup bernegara, sanggupkah kita mengusahakan sebuah kehidupan bersama yang damai, adil, dan sejahtera atas dasar nilai-nilai kemanusiaan universal? Mampukah kita menjadi “peace builder” seperti diimpikan Benediktus XVI? Pilihan ini terasa berat, tetapi kita tidak punya jalan lain selain mengusahakan dan membangun perdamaian. Menghindari pilihan menjadi “peace builder” sama saja dengan membiarkan kehidupan ini hanya sampai pada pintu gerbang tanggal 21 Desember 2012, ketika langit dan bumi kembali menyatu dan ketika kegelapan yang dahulu telah dipisahkan dari yang terang oleh Sang Pencipta, dibiarkan kembali bersetubuh. Saya yakin, kita tidak ingin menghadapi kiamat seperti itu.[]

Senin, 09 Januari 2012

Meyanna Nugroho: Menerima Baptis Karena Cinta

HIDUPKATOLIK.com - Ketika ayahnya minta izin untuk menikah lagi, Meyanna tidak menghalanginya. Karena, ia tahu persis betapa pahit ketika pernikahannya dulu tidak direstui oleh ayahnya.

Perempuan pemilik restoran ternama di Kota ‘Kembang’ Bandung, Jawa Barat, bernama lengkap Meyanna Nugroho ini teringat akan peristiwa pada waktu ia akan menikah dengan tambatan hatinya, Jonni B.S. Nugroho, yang telah menjadi suaminya sejak 25 Desember 1989.
Meyanna Nugroho beserta Keluarga. Sumber: Mingguan Hidup, Edisi No. 44, Tanggal 30 Oktober 2011.
Nanoet, demikian ia sehari-hari disapa, adalah bungsu dari empat bersaudara. Lima bersaudara ini semua perempuan. Ayah dan ibunya beragama Islam, tetapi Nanoet dan kakak-kakaknya pernah mengenyam pendidikan di sekolah Katolik. Pada 1985 Nanoet lulus Sekolah Menengah Atas Santa Angela, Bandung, dan melanjutkan studi pada Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Ia bertemu Jonni pada acara Malam Gembira yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa FISIP. Nanoet tampil sebagai salah satu pengisi acara dalam malam keakraban tersebut; sementara Jonni adalah ketua kelompok Padhyangan yang melatih ‘acara’ yang akan ditampilkan. Rupanya hati mereka saling berpaut, dan sejak 1987 mereka berpacaran.

Tanpa restu
 
Ayah Nanoet, seorang dosen dan ketua jurusan pada salah satu universitas terpandang di Bandung, tidak memberi restu atas hubungan mereka. Alasannya, Jonni beragama Katolik. Bahkan, ketika Jonni sudah bekerja, Nanoet tetap tidak bisa meyakinkan ayahnya. Tetapi, ibunda Nanoet yang pernah mengenyam pendidikan Belanda, lebih lunak.

Nanoet dan Jonni tidak pernah berkecil hati atas kurangnya dukungan itu, dan tetap memperjuangkan cinta mereka. Sehari-hari Nanoet tetap giat menyelesaikan kuliahnya. Dan, tidak pernah sekali pun ia menaruh benci pada ayahnya. Sebaliknya, keluarga Jonni, keluarga Katolik yang terpandang di Bandung, sejak awal tidak pernah menghalangi kehadiran Nanoet. Ibu Bimo Wibisono Nugroho (20) dan Kakrasana Adhi Nugroho (15) ini mengenang bahwa hanya itu satu-satunya jalan untuk tetap bisa menjalin kasih dengan Jonni.

Pada 1989, saat ia menyusun skripsi, Jonni melamarnya. “Pada saat itu hanya satu hal yang timbul dibenak saya, yakni saya ingin menikah dengan Jonni,” kisah Nanoet. “Saat itu saya mau menjadi Katolik, karena ingin menikah dengan Mas Jonni. Itu saja alasannya,” akunya dengan jujur dan spontan.

Diusir

Diam-diam Nanoet mempersiapkan diri untuk baptisan maupun untuk hari pernikahannya. Ibunya mengetahui rencananya tersebut, namun menyimpannya dalam hati, karena tidak ingin menimbulkan amarah suaminya. Akhirnya, menjelang Natal, 21 Desember 1989, Nanoet dibaptis. Pada hari itu juga Nanoet diusir oleh ayahnya. Padahal hari itu adalah empat hari menjelang hari pernikahannya, yaitu pada 25 Desember 1989. “Biar Bapak bilang, aku bukan anak Bapak, kenyataannya darah Bapak mengalir di tubuhku. Jadi, aku tetap anak Bapak,” kata Nanoet pada saat terpaksa meninggalkan rumah.
Meyanna Nugroho [Rosiany T. Chandra]

Satu-satunya tempat ia bisa mengungsi sementara waktu adalah kediaman sang eyang dari ibundanya. Sehari menjelang pernikahannya, ia pun mengalami teror sebagai upaya untuk menggagalkan pernikahannya. Ia dan Jonni tetap tegar dan telaten menjalaninya. Natal 1989 menjadi momen yang bersejarah. Cinta mereka diikrarkan. Mereka saling menerimakan Sakramen Perkawinan di Gereja Salib Suci Kemuning, Bandung.

“Saat itu saya merasa sedih sekaligus gembira. Saya tak tahu mana porsinya yang lebih besar. Selain itu, saya juga deg-degan dan was-was jika terjadi sesuatu,” ungkapnya.

Pada akhirnya semua saudaranya mendukung pernikahan ini. Tentang ayahnya, Nanoet memegang prinsip, “Layaknya batu kalau ditetesi air terus akhirnya juga akan bolong. Biar saya diusir, saya tetap nongol di rumah orangtua saya, setelah kami menikah. Kendati saya dan Mas Jonni tidak diajak berbicara oleh ayah, kami tetap hadir dalam acara yang diadakan oleh keluarga seperti tidak terjadi apa-apa,” cerita Nanoet.

Sampai suatu ketika pada 1996, saat ayah Nanoet ingin menikah lagi, setelah ibunda tercinta wafat, Nanoet sama sekali tidak menentang rencana itu. Ia paham betul, bagaimana rasanya menjalani pernikahan yang tak mendapat restu.

Silaturahmi yang sepihak ini berlanjut terus setelah pernikahan ayahnya, hingga pada Malam Takbiran tahun 2000, ayahnya berbicara singkat padanya, ”Jonni mana? Suruh ke sini.” Senang bukan main, Nanoet dan Jonni saat itu. Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka pun mencair dan membaik.

Aktivis Gereja

Selain mengelola resto miliknya, Nanoet juga menjadi aktivis di gereja sejak 1994. Mantan Ketua Lingkungan Santa Caecilia selama dua periode ini menyalurkan hobi menyanyinya dengan menjadi pemazmur di parokinya, Santo Laurentius Bandung. Selain sebagai anggota Koor Santa Caecilia, ia juga menjadi Ketua Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP 2007), serta menjadi tim pemerhati SD Santo Jusuf I/II.

Motivasi Nanoet menjadi Katolik mengalami pemurnian. Awal keterlibatan aktif dalam Gereja bermulai pada 2006, ketika suaminya mengalami patah tulang rusuk dalam kecelakaan sepeda motor. Jonni harus menjalani operasi untuk menghentikan perdarahan di dadanya. Karena kondisinya yang memburuk, Jonni menerima Sakramen Perminyakan. Bersama warga lingkungan, Nanoet berdoa serta memohon agar suaminya dipulihkan. ”Tuhan, sembuhkan Jonni. Apabila dia sembuh, Tuhan mau suruh apa saja, saya akan jalani,” demikian nazarnya dalam doa.

Mukjizat terjadi. Jonni tidak harus menjalani operasi. Dan, pada Jumat Agung 2006 Jonni diizinkan pulang. Kondisinya perlahan-lahan pulih. Sejak saat itu Nanoet, sesuai janjinya, ingin berbagi dengan senang hati dalam berbagai bentuk pelayanan di Gereja.

Rosiany T. Chandra (Sumber: MINGGUAN HIDUP, Edisi No. 44 Tanggal 30 Oktober 2011

Minggu, 04 Desember 2011

Koptik Patriark Tetap Berharap Di Tengah Kemenangan Besar Islam


Roma, Italia, 2 Desember 2011 / 08:07 (CNA / EWTN Berita) .- Patriark Katolik Koptik Antonios Naguib tetap berharap untuk masa depan negaranya, bahkan saat partai-partai Islam Mesir politik tampaknya siap meraih kemenangan terbesar dalam pemilihan parlemen ini minggu.

”Kami memiliki harapan besar bahwa akan tercapai situasi yang lebih,” kata Kardinal Patriark Naguib kepada CNA tanggal 1 Desember, setelah pemungutan suara selama tanggal 28-29 November 20011. Sebagaimana diketahui, pemungutan suara yang secara antusias diikuti masyarakat Mesir itu adalah untuk memilih perwakilan majelis rendah di sembilan dari 27 provinsi di Mesir.

Kardinal Patriark Naguib pun terus berharap pada perubahan politik di negaranya. Menurut sang kardinal, “Ada banyak kelompok yang yakin dan bekerja keras untuk demokrasi.” Masih menurut pemimpin Katolik Timur Mesir itu, “Berbagai elemen masyarakat telah bekerja keras demi kepentingan seluruh masyarakat dan demi tegaknya konstitusi berdasarkan hak asasi manusia, kesetaraan, dan masyarakat sipil.” Inilah yang menjadi sumber keyakinan Kardinal Patriark Naguib, bahwa harapan baru akan kehidupan yang lebih baik akan segera lahir di Mesir ketika banyak elemen masyarakat bekerja demi tegaknya pemerintahan yang demokratis dan menghormati hak asasi manusia.

Telah disepakati bahwa 3 Desember 2011 pemerintah militer Mesir akan mengumumkan hasil akhir dari putaran pertama pemungutan suara sejak lengsernya mantan Presiden Hosni Mubarak pada bulan Februari 2011 yang lalu. Prediksi awal memperlihatkan bahwa partai-partai sekuler dan yang berorientasi sipil hanya meraih sekitar 17 persen suara. Sementara itu, Kebebasan Persaudaraan Muslim dan Partai Keadilan dilaporkan memenangkan 40 persen suara minggu ini, sementara gerakan Salafi garis keras Islam dikatakan telah meraih 20 persen lebih suara.

“Kita harus belajar untuk hidup dengan ini dan mengakui Islam politik sebagai kekuatan masa depan Mesir,” demikian pengakuan sang Kardinal.

Meskipun demikian, menurut Kardinal Patriark Naguib, partai-parati itu tidak akan mencapai suatu dominasi mutlak. “Mereka menampilkan diri sebagai mayoritas, (bahwa) mereka akan memiliki tempat tertinggi dan persen tertinggi dari segalanya. Tapi kesan bahwa hasilnya akan jauh lebih sedikit dari itu.”

“Kami memiliki harapan yang tinggi, bahwa setelah deklarasi hasil, akan ada tempat yang baik untuk kelompok demokratis dan kelompok sipil.” Kelompok-kelompok ini, Patriark Naguib mengatakan, akan bekerja untuk mengamankan tempat di masyarakat bagi masyarakat Mesir Kristen Koptik yang sangat bersejarah itu.

Suara politik dan kepentingan orang Kristen sangat ditentukan oleh bagaimana pemerintahan baru Mesir yang terbentuk setelah pemilu merumuskan arah dan kebijakan politiknya, dan juga pada siapa yang akan menjadi perdana menteri. Umat Katolik, Ortodoks, dan Kristen lainnya di Mesir mencapai sekitar 10 persen dari penduduk yang mayoritas Islam itu.

Kardinal menaruh harapan yang besar bagi terbentuknya kehidupan bersama antara Kristen-Muslim, dan perealisasiannya sangat tergantung pada pada hasil pemilu ini. Menurut Kardinal, “Akan menjadi masalah besar dan ancaman bagi kehidupan bersama yang demokratis jika partai Islamis menjadi mayoritas nyata.” Tetapi keadaannya menjadi lain jika partai Islamis yang menguasai arena politik itu menjalankan kekuasaannya dengan cara moderat dan damai. Menurut Kardinal, kondisi terakhir ini, jika terwujud, akan memicu lahirnya kehidupan yang lebih mudah bagi semua orang.

Kardina Patriark Naguib Ketat mengingatkan semua pihak bahwa ideologi politik Islam yang keras ternyata mengeksklusikan berbagai pihak, termasuk anggota dari agama yang sama. Inilah mengapa praktik politik yang moderat itu seharusnya lebih ditonjolkan di Mesir. Kardinal memberi contoh, katanya, “Salafi, misalnya, tidak ingin meninggalkan tempat mereka di Ikhwanul Muslimin, karena mereka menganggap diri sebagai terlalu moderat, sementara Islam tidak seperti itu, dan pandangan semacam ini tidak benar.” Mereka mengatasnamakan Islam yang seolah-olah tidak memberi tempat bagi ruang politik yang moderat.

Di atas semuanya itu, Patriark Naguib tetap bersyukur bahwa pemilihan umum pertama Mesir pasca Mubarak telah terjadi tanpa kekerasan. “Syukur kepada Allah, dua hari terakhir saat pemilu berlangsung dengan tenang dan terlaksana dengan baik. Ada beberapa pelanggaran dari bagian Islam, tetapi tidak dengan kekerasan.”

Laporan: Benjamin Mann dan David Kerr.

Sabtu, 04 Juni 2011

Keheningan di Biara Benediktin di Kaki Bukit Euganean


Jika Anda adalah termasuk salah satu dari mereka yang suka mengunjungi biara-biara abad pertengahan dengan lingkungan alam pedesaan yang ramah, bersih, dan tenang, kunjungilah Biara Benediktin Praglia, 12 kilometer dari Kota Padua di Italia. Bagi mereka yang ingin menghabiskan akhir pekan bersama keluarga atau kelompok doa atau bahkan seorang diri ingin mengalami doa dan keheningan, biara ini termasuk salah satu tempat yang cocok. Dijamin ketenangan dan keheningan doa bisa dialami di biara yang terletak di kaki bukit berhutan lebat ini.

Biara ini memang terletak tidak jauh dari kota Padua. Naik bis dari terminal hanya makan waktu sekitar 20 menit. Tiketnya pun murah meriah, 2,5 Euro sekali jalan.

Setelah bis meninggalkan terminal dan melewati pusat perbelanjaan kota Padua, bis akan segera melewati daerah-daerah luar kota. Orang Padua menyebutnya daerah luar kota, tetapi kalau dilihat dari infra strukturnya, mungkin lebih baik tetap dibilang kota. Biara Benediktin ini sendiri terletak di kaki bukit Euganean. Bukit yang luasnya sekitar 18 ribu hektar ini sebenarnya adalah ditetapkan oleh pemerintah region Venesia sebagai daerah hutan lindung sejak tahun 1989. Di bawah kaki bukit terdapat hamparan dataran rendah yang amat subur, ditanami gandum, jagung, dan tentu saja juga perkebunan anggur. Tentu tidak hanya kehadiran Biara Benediktin yang menjadi daya tarik orang Padua dan sekitarnya berkunjung ke sana, tetapi juga bukit dan keindahan alam yang mempesona. 

Biara Benediktin yang dibangun di akhir abad ke-11 ini di masa lampau terkenal sebagai tempat pengembangan obatan-obatan alamiah dari tumbuh-tumbuhan. Sekarang masih bisa ditemukan berbagai jenis tanaman yang digunakan sebagai bahan dasar kosmetik. Dengan moto “berdoa dan bekerja”, para rahib yang tinggal di biara ini mengelola lahan pertanian mereka yang maha luas itu, antara lain mengembangkan tanaman obat-obatan dan usaha peternakan lebah. Tidak jauh dari biara ini sebenarnya ada mata air untuk penyembuhan termal, sekitar 5 kilometer jaraknya. Tepatnya di Terme Abano. Biasanya orang-orang berdatangan ke mata air ini, mandi sauna di sana, kemudian bisa kembali ke Biara. Dewasa ini biara bahkan menyediakan kamar-kamar yang bisa disewa pengunjung.

Layaknya biara abad pertengahan, Biara Benediktin ini termasuk salah satu pusat spiritualitas Katolik di region Venesia. Biara ini sendiri dibangun oleh keluarga Maltraverso dari Vicenza. Biara ini pun mengalami perkembangan pesat, baik dari segi penghuni maupun fisik, selama abad pertengahan dan renaisans. Karena itu, dalam perjalanannya biara ini pun mengalami perubahan bentuk dan luas, mulai dari bangun sederhana untuk menampung beberapa rahib sampai menjadi bangun megah yang bisa menampung sampai ratusan rahib.

Turun dari bis pengunjung harus berjalan kaki sekitar 1 kilometer, melewati areal perkebunan nan subur sebelum memasuki pintu gerbang biara. Di sebelah kiri pintu gerbang langsung tampak bangunan gereja nan megah.  Itulah Basilika Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga yang dibangun pada tahun 1400-an..Basilika ini tampak megah dari luar. Sementara keindahan bagian dalam basilika menjadi bukti tersendiri bagaimana selama berabad-abad menjadi pusat spiritualitas bagi para rahib maupun umat Katolik. 

Lantai dasar

Biara Benediktin ini sendiri memiliki empat bagian dalam yang disebut cloister. Begitu bel ditekan, kita akan dijemput seorang rahib berpakaian a la rahib, dan dengan senyumnya yang ramah menyambut kedatangan tamu. Kita pun masuk melalui lorong di lantai dasar. Di sini terdapat ruang tamu bagi mereka yang ingin konsultasi rohani dan tempat untuk berbagai aktivitas budaya. Nikmati saja keindahan gedung-gedungnya. Amati secara saksama tiang-tiang penyanggah gedung bergaya Verona dengan ciri khas marmer merah dan putih. Perhatikan pula jendela-jendelanya yang elegan, bergaya gotik khas Venesia.

Di bagian tengah di lantai dasar ini terdapat sebuah sumur dari abad 18 yang sampai sekarang masih berfungsi. Memang tidak banyak dijumpai lagi tanaman obat-obatan seperti di masa lampau, tetapi jangan khawatir karena masih bisa menikmati keindahan taman bunga khas Italia. Sementara di sisi lain dari biara ini terdapat kebun raya yang masih cukup kaya dengan berbagai tanaman. 

Lantai atas

Rahib yang membimbing kunjungan para tamu akan membawa kita ke lantai atas, naik melalui tangga sempit nan antik. Di pintu menuju tangga kita akan disambut oleh lukisan indah Santo Benediktus, sang pelindung sekaligus pendiri biara benediktin yang dewasa ini masih eksis dan tersebar di seluruh dunia. Begitu tiba di lantai atas, kita akan disuguhi pemandangan indah kubah dari biara ini, terbuat dari batu pualam yang indah.

Di lantai atas ini terdapat sebuah ruang terbuka yang dikelilingi bangunan-bangunan lainnya. Lantai dasar dari ruang terbuka ini membentuk sebuah bak penampungan, konon digunakan untuk menampung air hujan yang bisa digunakan selama musim panas. Karena itu disebut juga sumur di bagian atas biara.

Ruang Bab

Di sebelah kanan dari ruang terbuka di lantai atas ini terdapat sebuah ruangan sekitar 120 meter persegi, disebut sebagai chapter room. Di ruangan inilah para rahib biasanya berkumpul dan mendengarkan Kepala Biara membacakan satu bab dari aturan hidup atau konstitusi para rahib Benediktin. Kepala Biara akan duduk di kursi paling di tengah dan para rahib lainnya akan duduk di bangku kayu yang terletak menempel ke dinding ruangan ini. Keantikan kayu ceri yang digunakan untuk membuat bangku-bangku ini masih bisa dinikmati sampai sekarang. Sementara di lantai ruangan ini terdapat ruang bawah tempat menyimpan sisa-sisa abu dan dari tubuh para kepala biara yang pernah memimpin biara ini.

Ruang Makan Monumental

Dari raung bab para tamu dan pengunjung biasanya dibawa ke ruang makan monumental. Di ruang nan megah inilah di zaman dahulu para rahib makan. Sebagai bagian dari peraturan hidup membiara, para rahib makan dalam keheningan. Mereka akan duduk di bangku yang menyatu dengan meja makan yang diletakkan mengelilingi ruang makan ini. Sambil makan, akan ada seorang rahib yang bertugas membacakan bacaan rohani untuk para rahib. Dia akan berdiri di sebuah panggung di ketinggian, membacakan entah salah satu perikop Kitab Suci atau penggalan kisah orang kudus atau bacaan rohani lainnya dengan suara nyaring. Para rarib yang sedang makan pun diharapkan mendengar suaranya dan merenungkan apa yang sedang dibacakan itu.

Sementara di dinding-dinding ruang makan monumental ini terdapat lukisan-lukisan dari abad pertengahan, entah mengenai kisah perjanjian lama atau pun baru. Selain itu, terdapat pahatan-pahatan kayu di seluruh dinding ruang makan, berisi relief dan tulisan yang bisa menginspirasi para rahib untuk merefleksikan hubungan dirinya dengan Tuhan.

Dewasa ini ruang makan ini tidak digunakan lagi karena tidak memiliki pemanas ruangan sehingga terlalu dingin di musim dingin dan terlalu panas di musim panas.

Keluar dari ruang makan monumental ini kita akan disuguhi pemandangan alam nan indah dari atas teras di lantai dua ini. Di kejauhan tampak hijaunya hutan lindung, sementara di bawah sana terdapat perkebunan anggur nan subur miliki para rahib. 

Jangan lupa mengunjungi pula perpustakaan kuno milik biara benediktin ini. Perpustakaan ini berisi lebih dari 100 ribu buku, mayoritas adalah buku-buku teologi.

Bagi mereka yang suka membeli oleh-oleh dan cinderamata buat keluarga dan kenalan, biara ini punya toko yang cukup lengkap. Berbagai barang yang diproduksi sendiri dari bahan dasar yang ditanam di kebun biara tersedia di sini. Perlengkapan mandi, obat untuk kosmetik dan herbal, berbagai jenis madu dapat dibeli di toko di biara ini, tentu dengan harga terjangkau.

Bagi mereka yang menginap di salah satu hotel di kota Padua dan harus naik bis ke Biara Benediktin ini, jangan lupa pulang sebelum jam lima sore. Setelah jam itu tidak ada bis lagi.  

Minggu, 22 Mei 2011

JALAN BERDEBU ITU


Sudah dua ribu tahun lebih dan suara itu masih saja terngiang di telinga
Bapa, biarkan piala ini berlalu dariKu, tetapi bukan kehendakKu
KehendakMu jualah siap Kulakukan
Kau mengingatkanku pada kata-kata ibuMu,
“Terjadilah padaku menurut kehendakMu.”

KehendakNya yang Kau lakukan
Ya, kehendak Dia yang mengutus dan tentu kehendakMu
Putra terkasih melewati jalan berdebu di Kota Sion
Sendirian melalui malam kelam nan dingin di istana para penguasa
Mereka yang dulu pernah menanyakan di mana Kau tinggal
Telah lari tercerai-berai.

Anak manusia memang tidak punya tempat meletakkan kepala
Dia bukan dari dunia ini
Dia menolak kekuasaan dunia
Dia mengajarkan cinta kepada musuh
Dan ketika mengaku bahwa Dia memang raja
Mereka tertawa mengejek,
Raja macam apa Kau?

Mana permaisurimu?
Mana menteri-menterimu?
Mana istanamu?
Mana mobil dinasmu?
Dan mereka tertawa “ngakak” mendengar Kau berkata:
“KerajaanKu bukan dari sini”

Entahlah,
Ketika suara itu semakin keras terdengar,
Antara pasrah pada nasib dan tunduk pada Dia
Antara keinginan berkuasa dan perintah menyarungkan pedang
Antara kenikmatan pada materi dan kesetiaan sebagai anak terang.

Semua tampak bertentangan
Mereka seperti saling melawan
Menyambut kegelapan sembari memeluk terang.
Ribuan orang tetap berlari meninggalkanMu
Mungkin aku juga ketika tak kuasa menanggung malu atas siksa dan perolokan
kepada Dia yang kami kira Raja,
mati tak ubahnya penjahat di bukit tengkorak

Kalau pun Engkau kembali sekarang,
Lihatlah, jalan-jalan kota tetap berdebu
Meski tirai kenisah sempat terbela jadi dua
Kami tetap kembali ke masa ketika Engkau masih bersama Sang Sabda
Menikmati indahnya malam,
Suka cita menyambut gemerlap kegelapan
Membiarkan malam gelap membalut tubuh
Berharap terang tak pernah mau kembali.

Siapakah yang melantunkan penggal syair itu?
Yang dulu aku hafal di luar kepala:
“Jadilah anak terang!”
Jadilah anak terang,
Jadilah anak terang,
Jadilah anak terang,
Jadilah anak terang,

Dan pintu yang terbuka itu
Memaksaku menatap dia:
Selamat pagi, Pak!
Senyum simpul setengah dipaksakan:
Kusambut salam itu,
Selamat pagi putriku.

Padua, 15 Mei 2011
Yeremias Jena